Gustaf Nenu-Blegur:
Absalom dan Kampanye Hitam

Beberapa waktu lalu, mata dunia tertuju pada Timur Tengah. Media cetak dan elektronik ramai-ramai mengekspos pergolakan yang terjadi di Timur Tengah, yang dikenal dengan sebutan Arab Spring. Negara-negara di Timur Tengah mengalami pergolakan sosial yang berujung pada pembaruan sistem pemerintahan maupun pergantian kekuasaan. Pergolakan yang terjadi tersebut memakan korban jiwa, terutama masyarakat sipil. Arab Spring hanyalah satu dari banyak peristiwa sejarah peralihan kekuasaan di dunia yang merenggut nyawa dan dibumbui intrik-intrik politik.

Sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, kekuasaan menjadi sebuah hal “seksi” yang diperebutkan oleh orang-orang yang merasa mampu dan memiliki hak. Kekuasaan pada dasarnya bersifat netral. Karena sifatnya netral, maka para penguasa merupakan faktor penting yang menentukan untuk apa kekuasaan itu digunakan, apakah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat atau sebaliknya, sebagai alat untuk menindas, memperkaya diri sendiri dan golongan tertentu, ajang aktualisasi diri, dan lain sebagainya.

Kisruh soal perebutaan kekuasaan yang disertai dengan intrik-intrik politik dapat pula kita temukan dalam sejarah Alkitab. Pembunuhan, pengasingan, persaingan, kampanye hitam, serta peperangan, adalah bumbu-bumbu dari cerita pilu perebutan kekuasaan. Salah satu dari sekian banyak cerita Alkitab yang mengangkat kisruh suksesi kepemimpinan ini tercatat dalam 2 Samuel 15. Kisah ini menceritakan tentang perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh anak Daud, yaitu Absalom.

Dendam Absalom
Absalom berambisi merebut kekuasaan dari tangan ayahnya sendiri. Perebutan kekuasaan ini ibarat puncak gunung es. Jika kita melihat lebih jauh ke belakang, maka pemberontakan yang dipimpin oleh Absalom berakar dari dendam kesumat yang dia simpan bertahun-tahun lamanya.

Dendam kesumat itu berawal dari kisah saudara perempuannya, Tamar, yang diperkosa oleh saudara sedarahnya sendiri dari istri Daud yang lain, Amnon (2 Samuel 13). Selain alasan dendam karena adiknya diperlakukan tidak senonoh, Daud sebagai raja dan ayah pada waktu itu terkesan membiarkan hal itu terjadi tanpa melakukan tidakan tegas. Daud, meski geram dan marah, tidak melakukan apapun untuk menyelesaikan permasalahan ini. (2 Samuel 12:22).

Dua tahun lamanya Absalom menyimpan dendam itu (12:23). Setelah lewat dua tahun, akhirnya Absalom memutuskan untuk menghabisi nyawa Amnon dengan siasat yang cukup rapih. Sikap diam Daud berakibat ia semakin banyak mengalami kehilangan. Setelah peristiwa pembunuhan itu, Absalom melarikan diri dan diam di Gesur, tempat asal Ibunya selama tiga tahun. Setelah lewat tiga tahun, diceritakan bahwa Daud sangat merindukan Absalom. Yoab sang pembantu raja mengangkap kesan rindu Daud tersebut dan memprakarsai kepulangan Absalom. Absalom akhirnya diijinkan kembali dan menetap di Yerusalem. Namun, ia tidak diijinkan untuk bertemu dengan Daud.

Sikap diam Daud pun berlanjut selama dua tahun setelah kepulangan Absalom (14:28). Daud tidak berinisiatif untuk bertemu dengan Absalom, ia lebih memilih untuk mendiamkan Absalom. Inisiatif itu justru datang dari Absalom sendiri. Pertemuan itu pun terlaksana dengan bantuan Yoab, namun tetap saja tidak dimanfaatkan Daud untuk membicarakan perkara-perkara yang terjadi sebelumnya. Sebagai ayah dan sebagai raja, Daud berhak untuk menegur, bahkan menghukum Absalom sebagai konsekuensi atas perbuatannya. Berbagai pembiaran oleh Daud terhadap tindakan Absalom menjadi celah yang dimanfaatkan oleh Absalom untuk menyusun persepakatan dan melakukan kudeta terhadap Daud.

Kampanye Hitam
Melihat sebuah jalan menuju puncak kekuasaan yang terbuka lebar, Absalom menyusun sebuah rencana yang sangat baik meski memakan waktu yang cukup lama. Setiap hari selama empat tahun lamanya, ia datang di tepi jalan dekat istana raja untuk menemui setiap orang Israel yang ingin mengadukan perkaranya ke hadapan raja (15:2). Absalom mencoba merebut hati orang-orang yang datang menghadap raja untuk mengadukan perkara mereka. Cara ini mungkin terlihat sederhana, namun cukup namun mumpuni untuk merebut simpati rakyat.

Orang-orang yang datang dari berbagai suku tersebut, disambut dengan lembut disertai dengan ciuman tanda penerimaan yang tulus. Setelah mendapat simpati mereka, ia melancarkan kampanye hitam terhadap raja dengan menghasut orang-orang tersebut tentang perkara mereka yang seharusnya diselesaikan dengan baik. Absalom tahu betul, bahwa sikap diam raja dapat dimanfaatkan untuk menaikan popularitasnya di mata orang Israel.

Empat tahun lamanya dia gencar melakukan kampanye hitam tersebut sambil menanti waktu yang tepat untuk bertindak. Ia tampil bak seorang pahlawan ketika rakyat sangat membutuhkan seorang raja yang tegas dan berwibawa. Didukung dengan parasnya yang cantik, tingkah lakunya yang santun, kedekatannya dengan rakyat, serta posisinya sebagai anak raja, bukan merupakan sesuatu yang aneh jika hasutannya tetang ketidakpedulian raja terhadap orang Israel menjadi sesuatu yang masuk akal.

Di sisi lain, raja pastilah mengetahui apa yang dilakukan oleh Absalom selama empat tahun itu. Akan tetapi, raja seolah membiarkan hal itu terjadi. Selama empat tahun, bisa jadi ada ribuan orang yang telah terhasut dan mempercayai isu-isu miring yang dihembuskan oleh Absalom. Isu-isu miring yang tidak diklarifikasi serta diselesaikan oleh raja itulah yang menjadi sebuah senjata ampuh untuk menggoyang tahta Daud.

Strategi menggalang kekuatan dari akar rumpur terbukti benar. Empat tahun masa penantian untuk menuju kekuasaan akhirnya terbukti. Dengan dukungan dari orang-orang di seluruh penjuru negeri yang telah termakan hasutannya, Absalom akhirnya dapat merebut kekuasaan dari tangan Daud. Meski cacat secara konstitusi, rakyat lebih memilih mendukung Absalom dari pada Daud.

Absalom membiarkan dirinya dikuasai oleh dendam dan nafsu yang merusak. Nafsu itu pula yang mendorongnya untuk merebut kekuasaan tanpa mempedulikan bahwa Daud adalah raja pilihan Tuhan dan juga ayah kandungnya sendiri. Nafsu itu pulalah yang mebuatnya menggunakan berbagai cara yang kotor untuk menggalang kekuatan dari orang Israel.

Bagi orang Israel, mereka turut berkontribusi terhadap dosa bersama menggulingkan pemerintahan yang sah pada waktu itu. Orang Israel gagal untuk menaati perintah Allah dengan mengangkat raja mereka sendiri tanpa meminta petunjuk dari Tuhan. Meski Daud memiliki banyak kekurangan sebagai seorang Raja, namun Allah masih mengijinkan ia berkuasa. Allah masih berkenan atas Daud, sehingga tidak ada seorang pun yang boleh menurunkannya dari puncak pimpinan. Allahlah yang mempunyai otoritas penuh atas bangsa Israel, dalam hal ini mengangkat seorang raja dan menurunkannya.

Akan tetapi, “mosi tidak percaya” terhadap kepemimpinan Daud ini tidak timbul begitu saja. Daud, sebagai raja yang sah pada waktu itu, gagal menggunakan kuasanya untuk menindak tegas kesalahan yang terjadi. Tanggung jawab untuk melindungi rakyat dan anak-anaknya tidak dijalankan dengan baik. Ia tidak tegas dalam mendidik anak-anaknya dan cenderung mendiamkan peristiwa keji yang dialami oleh anak-anaknya. Meskipun Daud ditunjuk oleh Allah sebagai raja, namun tanggung jawab terhadap orang Israel haruslah menjadi perhatian utama kepemimpinannya. Raja adalah wakil Allah bagi bangsa Israel. Raja juga adalah seorang imam. Raja haruslah menjadi teladan kehidupan bagi bangsa Israel. Ketika raja gagal dalam mengemban tanggung jawabnya, maka wajar dan manusiawi jika rakyat menarik dukungan.

Jika kita melihat situasi di Indonesia saat ini, maka kita akan mendapatkan beberapa kesamaan konteks permasalahan dengan apa yang terjadi di kerajaan Daud pada waktu itu. Setiap hari melalui media elektronik dan media cetak, kita menyaksikan para elit politik gencar melakukan lobi-lobi politik, baik itu dengan cara yang terang-terangan maupun dengan cara sembunyi-sembunyi. Kampanye hitam pun tidak kalah gencar disebarkan terutama di dunia maya sebagai salah satu cara yang dianggap efektif untuk menggiring opini publik dalam memilih salah satu calon presiden tertentu. Cara yang santun hingga cara yang kasar pun ditempuh demi menaikkan elektabilitas calon-calon pemimpin. Pada akhirnya, rakyatlah yang menjadi korban. Tak sedikit yang termakan isu-isu negatif yang dihembuskan pihak-pihak tertentu demi menahan laju popularitas salah seorang calon pemimpin maupun mempopulerkan calon pemimpin yang mereka dukung.

Golput: bukan pilihan bijak
Hingar-bingar “pesta demokrasi” selalu menjadi ajang pertarungan perebutan kekuasaan di tingkat elit. Meskipun demikian, di alam demokrasi, rakyatlah yang akan menentukan siapa yang akan memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Satu suara yang kita berikan akan sangat menentukan perjalanan bangsa Indonesia selama lima tahun ke depan. Oleh karenanya, golput bukan pilihan yang bijak bagi orang percaya. Saatnya kita berpartisipasi dalam pemilihan presiden nanti, sebagai wujud tanggung jawab kita kepada Allah.

Bukalah mata lebar-lebar untuk mengorek informasi yang akurat tentang setiap calon presiden. Jangan terpaku pada satu sosok tertentu dan menutup diri akan kebaikan dari calon lain. Jangan sampai kita tertipu oleh polesan luar dan kharisma yang dimiliki, namun gagal melihat wibawa Allah dalam orang tersebut. Doakan dan carilah informasi penting seakurat mungkin tentang visi dan misi serta latar belakang calon presiden pilihan kita, sehingga kita tidak mudah termakan isu negatif atau kampanye hitam seperti rakyat Israel terhadap Absalom.

Kriteria seorang pemimpin
Dari bacaan di atas, kita dapat mempelajari tentang kriteria calon pemimpin. Pertama, seorang pemimpin haruslah orang yang takut akan Tuhan, yang berarti dia menyadari bahwa kepercayaan dari rakyat adalah amanah dari Tuhan, sehingga tujuan kepemimpinannya adalah demi kesejahteraan rakyat.

Kedua, pemimpin yang benar adalah pemimpin yang memiliki ketegasan. Artinya, dia menggunakan kekuasaannya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di dalam masyarakat dengan cepat dan bijaksana, juga berani mengambil risiko secara pribadi. Akibat tidak tegas mengatasi permasalahan yang terjadi antara Absalom, Amnon, dan Tamar, Daud harus membayar harga yang sangat mahal.

Ketiga, pemimpin yang benar adalah pemimpin yang dekat dengan rakyat. Kedekatan itu bukan hanya pencitraan semata, melainkan kedekatan yang benar-benar meniadakan sekat antara penguasa dan rakyat jelata. Sekalipun Absalom nampak dekat dengan rakyat, sesungguhnya kedekatan itu hanyalah alat baginya untuk menarik simpati rakyat dan merebut tahta ayahnya.

Keempat, pemimpin yang benar adalah pemimpin yang bervisi jelas. Seorang pemimpin haruslah seorang yang visioner dan memiliki pandangan yang jauh ke depan, sesuai dengan kehendak Tuhan. Absalom mungkin berhasil menjadi raja Israel untuk sementara waktu, akan tetapi ia tidak mencapai tahta itu dengan visi yang jelas dari Tuhan, melainkan karena ingin memenuhi ambisi pribadinya. Pemimpin seperti ini, sekalipun rakyat memilihnya, cepat atau lambat akan dijatuhkan oleh Tuhan.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda siap memilih pemimpin dengan menyelidiki siapa sesungguhnya mereka dan apa motivasi serta rekam jejak mereka? Selamat mewaspadai kampanye negatif dan kampanye hitam, selama memilih yang terbaik sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan memberkati.

——-
*Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana STT Jakarta

Leave a Reply