Integritas Belaka Tidak Cukup: Pemuda Kristen dan Penanggulangan Korupsi

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?

Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”

Perkataan Mazmur 119:9 itu sudah menjadi salah satu ayat hafalan favorit bagi banyak muda-mudi Kristen. Bagaimana tidak? Berbagai pembinaan rohani begitu sering mengutipnya di depan mereka sambil menegaskannya sebagai obat mustajab bagi kekorupan. Integritas (“kelakuan bersih”) adalah lawan kekorupan, dan integritas ini dapat dipertahankan dan dijaga orang muda dengan cara mengacukan hidup kepada firman Allah.

Tetapi, anehnya, kekorupan tetap merajalela di Indonesia. Bahkan pelakunya termasuk kalangan muda (Kristen) pula. Bukannya mengabdi kepada Indonesia, seperti yang dianjurkan secara tersirat oleh Sumpah Pemuda 1928, mereka malah ikut merompak tanah air dan bangsanya sendiri. Dan jika kita, umat Kristen, mau berkilah bahwa kita adalah kaum minoritas yang tak bisa berbuat banyak secara nasional, faktanya kekorupan menonjol pula di kantong-kantong Kristen.

Dari Tanah Batak sampai Tanah Dayak, dari Nias di ujung barat sampai Papua di ujung timur, dari Sulawesi Utara di batas utara sampai NTT di batas selatan, kita menyimak banyak berita korupsi. Sejumlah pejabat setempat, yang notabene orang Kristen, diciduk dan disidang dengan dakwaan korupsi. Kalaupun dakwaan itu sulit dibuktikan, pembangunan yang tersendat dan ketertinggalan di bermacam sektor bersaksi bahwa korupsi memang nyata di kantong-kantong Kristen.

Jika sudah begitu, apalah arti Mazmur 119:9 yang kerap dihafal dan difavoritkan muda-mudi Kristen? Apalah arti penegasan mimbar-mimbar Kristen bahwa integritas adalah obat mustajab bagi kekorupan?

Tulisan ini akan membahas bahwa integritas belaka tidak cukup untuk menanggulangi korupsi yang sudah akut di tengah bangsa dan, khususnya, di kantong-kantong Kristen. Alkitab sendiri, seperti akan kita tinjau nanti, mengisyaratkan hal itu kepada kita.

 

Secara Alami?

Integritas alias “kelakuan bersih” tentu saja merupakan syarat mutlak penanggulangan korupsi—tetapi jelas bukan satu-satunya syarat. Sayangnya, kalangan Kristen saleh sering dijangkiti pola pikir naif yang memandang bahwa pertobatan pribadi atau “lahir baru” (yakni titik pangkal untuk berkelakuan bersih) dengan sendirinya akan menghasilkan perubahan masyarakat ke arah yang baik.

“Mereka,” tulis Robert Kyle, “memandang pertobatan pribadi—bukan program-program sosial—sebagai jawaban untuk masalah-masalah sosial.”1 Mereka “percaya bahwa pembaharuan sosial akan tumbuh secara alami dari kelakuan pribadi-pribadi yang bertobat.”2 Akibatnya mudah ditebak: untuk menanggulangi persoalan sosial seperti korupsi, mereka cenderung mengejar pertobatan pribadi-pribadi sambil mengesampingkan hal-hal seperti kajian intelektual atau program sosial.

Ya, kelakuan bersih orang-orang yang bertobat dari dosa tentunya bisa berdampak kepada masyarakat, tetapi tidak pasti “secara alami” akan mengubah masyarakat jadi saleh. Buktinya, meski tak pernah kekurangan orang “lahir baru,” Amerika Serikat tetap dibelit kebejatan—yang tak dilakukan, bahkan tak terpikirkan, oleh bangsa-bangsa non-Kristen. Demikian pula kantong-kantong Kristen dililit kemabukan, pergaulan bebas, korupsi meski KKR gencar digelar di sana dan tantangan bertobat sering ditanggapi beratus-ratus orang.

Teranglah bahwa umat Kristen harus celik akan faktor-faktor selain “kelakuan bersih” ketika berbicara tentang penanggulangan kekorupan. Gereja dan lembaga pelayanan Kristen hendaknya tidak mengajari kaum mudanya menyederhanakan perkara dengan ide “tumbuh secara alami” yang disebutkan Kyle di atas.

Apa lagi yang dibutuhkan pemuda Kristen selain “kelakuan bersih”?

 

Idealisme dan Iklim Penggugahnya

Pemuda Kristen butuh idealisme dan iklim penggugah idealisme itu. Idealisme yang dimaksud di sini adalah idealisme untuk maju menghadapi kekorupan “muka dengan muka”—sesuai dengan panggilan atau “penugasan” yang diterima dari Tuhan. Tanpa idealisme yang demikian, integritas bisa tertahan di area nyaman saja dan tak pernah “dibenturkan” dengan kekorupan.

Dalam hal ini, muda-mudi Kristen dapat meneladani Nehemia, yang rela berkorban dan bersusah-susah meninggalkan pekerjaan bergengsinya di istana Susan untuk kembali ke negeri Yehuda dan membangun tembok Kota Yerusalem. Idealisme mengantarnya mendatangi—bukan menghindari—kondisi yang sulit, sarat tantangan, bahkan mengancam nyawa. Idealisme mengajarinya memanfaatkan peluang untuk masuk ke kancah penanggulangan masalah di Yerusalem, bukan sekadar berdoa atau berandai-andai di Susan yang jauh.

Iklim penggugah idealisme Nehemia terbentuk ketika beberapa orang Yehuda menggambarkan keadaan Kota Yerusalem yang mengenaskan. Karena memang mencintai tanah air dan bangsanya, hati Nehemia remuk seketika itu juga dan angannya dibanjiri idealisme untuk pulang membangun Yerusalem.

Kalau kita membaca riwayat para pemuda pencetus Sumpah Pemuda 1928, kita akan mendapati idealisme sejenis—dan juga iklim penggugah idealisme itu. Bukan tanpa kesulitan dan keberanian mereka mengikrarkan keindonesiaan di zaman penjajahan Belanda!

Pada masa kini, gereja dan lembaga pelayanan Kristen harus menggembleng kaum muda Kristen untuk punya idealisme macam itu. Bukan sekadar dicerahi tentang integritas, mereka juga harus dicerahi tentang adanya panggilan untuk berkorban dan bersusah-susah demi kebaikan bangsa. Bukan sekadar diajari ayat-ayat tentang integritas, mereka juga harus diajari cara-cara melihat dan mengambil peluang untuk turut menanggulangi kekorupan di tengah negeri.

Dan iklim penggugah idealisme itu harus dihidupkan di tempat-tempat pembinaan pemuda Kristen. Jangan lagi gereja dan lembaga pelayanan Kristen hanya pandai menantang muda-mudinya untuk masuk ladang misi atau kependetaan tetapi tidak pandai menantang mereka masuk medan juang penanggulangan kekorupan di berbagai sektor kehidupan bangsa.

 

Tekad Baja dan Penguasaan Keilmuan

Mendampingi idealisme, pemuda Kristen butuh tekad baja dan penguasaan keilmuan. Di hadapan kekorupan, integritas belaka adalah rapuh tanpa tunjangan tekad kuat, dan semangat berintegritas belaka adalah sia-sia tanpa pengetahuan tentang berbagai hal. “Tanpa pengetahuan,” kata Kitab Amsal, “kerajinan pun tidak baik” (Ams. 19:2).

Dalam hal ini, muda-mudi Kristen dapat meneladani Daniel, yang mashur kebulatan tekadnya dan menonjol keilmuannya. Apakah Daniel berintegritas? Pasti. Tetapi apakah Daniel bisa sukses bekerja dan dipercaya di Kerajaan Babel dan Media-Persia semata-mata karena berintegritas? Tidak!

Ia punya tekad baja untuk melawan arus dalam hal yang diyakininya benar. Sewaktu banyak orang Yahudi berkompromi dengan jatah ransum yang sudah dipersembahkan kepada berhala, ia menolak secara baik-baik—bukan secara beringas—dan meminta jenis makanan lain. Ketika banyak orang Yahudi tunduk saja kepada peraturan untuk tidak berdoa kepada sembahan manapun, ia tetap menjalankan sembahyang rutinnya dan mengingat bangsanya dalam doa.

Ia juga giat belajar sehingga menguasai baik ilmu keras, seperti pengetahuan administrasi negara yang ditekuninya di Babel selama tiga tahun (Dan. 1:4-5,17), maupun ilmu lunak, seperti kemampuan berdiplomasi dengan pemimpin pegawai istana dan pengawas (“penjenang”) asrama (Dan. 1:9-16).

Tekad baja dan penguasaan keilmuan serupa dimiliki pula oleh para pemuda pengikrar Sumpah Pemuda 1928. Kita semua tahu bahwa mereka adalah kaum terpelajar (karena benar-benar banyak belajar) yang berbulat tekad untuk menegakkan jati diri keindonesiaan—apa pun tantangannya.

Pada masa kini, gereja dan lembaga pelayanan Kristen harus menempa kaum muda Kristen untuk jadi orang bertekad baja demi membantu mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bersih. Bukan sekadar didorong untuk menjaga integritas, mereka juga harus didorong untuk mantap menjunjung idealisme, siap melawan arus bilamana harus, dan berani “membenturkan” integritas mereka dengan kekorupan.

Gereja dan lembaga pelayanan Kristen pun harus menyemangati mereka untuk menguasai rupa-rupa pengetahuan dan keterampilan—sesuai dengan panggilan hidup masing-masing. Bukan sekadar didesak untuk rajin mengkaji Alkitab, mereka juga harus didesak untuk rajin mengkaji keilmuan sehingga tahu menggubah dan menggunakan cara atau sistem terbaik demi mengatasi penyakit bangsa seperti korupsi.

 

Peluang-peluang yang Dibukakan Tuhan

Di atas integritas, idealisme dan iklim penggugahnya, tekad baja dan penguasaan keilmuan, sudah barang tentu pemuda Kristen butuh peluang-peluang yang dibukakan Tuhan. Semua hal lain itu tak akan berarti banyak sekiranya Tuhan tidak membukakan pintu kesempatan kepada kedudukan yang lebih strategis atau wewenang yang lebih besar untuk memerangi kekorupan.

Nehemia, kita tahu, mendapat peluang pulang ke Yerusalem—peluang menerapkan idealismenya di kancah permasalahan—ketika Tuhan “meramahkan” hati Raja Artahsasta terhadap niat-niatnya. Daniel pun mendapat peluang kepada jabatan yang makin tinggi ketika Tuhan mengatur peristiwa-peristiwa yang membuat para penguasa Babel dan Media-Persia berkenan dan percaya kepadanya. Para pemuda penggubah Sumpah Pemuda 1928 juga mendapat peluang kepada kecerdasan dan perjuangan bangsa ketika Tuhan menggerakkan khalayak di Belanda untuk mendesak pemerintah Belanda membuka keran pendidikan bagi penduduk Nusantara.

Dan mereka semua sigap memanfaatkan peluang-peluang itu, bukan tertegun atau berlambat-lambat dalam bimbang dan takut.

Demikianlah gereja dan lembaga pelayanan Kristen harus melatih muda-mudi Kristen untuk bekerja sama dengan Tuhan—untuk mengandalkan, mengharapkan, dan memohon Tuhan membukakan peluang-peluang—dalam juang melawan korupsi. Gereja dan lembaga pelayanan Kristen juga harus melatih mereka untuk mengambil peluang-peluang itu begitu terbukakan.

Dan semua ini menegaskan bahwa pembinaan rohani Kristen bisa dan harus berbuat lebih dari yang sudah-sudah untuk turut menyokong upaya penanggulangan korupsi di tengah bangsa. Pembinaan rohani Kristen harus beranjak dari pemikiran naif yang memandang bahwa integritas belaka atau “lahir baru” belaka cukup untuk membanteras wabah sosial seperti korupsi.

Ya, kita semua setuju bahwa integritas atau “kelakuan bersih” adalah penawar kekorupan yang tak dapat ditawar-tawar, karena memang begitulah faktanya dan begitulah yang dinyatakan Alkitab. Tetapi sekarang kita juga paham bahwa integritas bukanlah satu-satunya faktor, karena fakta dan Alkitab sendiri menunjukkan kepada kita faktor-faktor penting lain yang harus dilibatkan.

Kiranya sejak sekarang kita bisa melihat gereja dan lembaga pelayanan Kristen giat menggugah kaum muda Kristen berperan aktif, tanpa berpikiran naif, untuk berkarya baik di tengah bangsa—termasuk berkarya memerangi kekorupan. Kiranya kita bisa menyaksikan kaum muda Kristen, dan kaum muda umat lain, bahu-membahu dalam menjunjung integritas, idealisme, tekad baja, penguasaan ilmu, dan pemanfaatan kesempatan yang dibukakan Tuhan—faktor-faktor yang sebetulnya dikenali secara universal—dan “membenturkan” semua itu dengan kekorupan.

Dengan demikian, pemuda Kristen akan turut mempertahankan kebersihan tanah air dan bangsa Indonesia, yang telah diperjuangkan dan dibentuk generasi muda terdahulu dengan tunjangan faktor-faktor yang sama pula.

 

————–

*Ditulis oleh Samuel Tumanggor,pengarang buku dan fasilitator pelatihan penulisan

** Diterbitkan dalam majalah Dia edisi II tahun 2012

 

 

Catatan

1 Richard Kyle. Evangelicalism: An Americanized Christianity. New Jersey: Transaction Publishers, 2006, hal. 178.

2 Richard Kyle, hal. 41.

 

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini