Sederhana Adalah Ibadah

 

Dalam suatu perbincangan dengan beberapa kawan muncul pertanyaan,”Menurut kamu, siapakah orang yang paling tidak bahagia di dunia saat ini?” Bagi saya, salah satu orang yang paling menderita di dunia saat ini adalah Paris Hilton. Lho, kok bisa? Perdebatan muncul. Mengapa tidak bahagia? Bukankah Paris Hilton adalah pewaris kekayaan orang tuanya yang multi milyuner. Mana bisa ia menderita? Yah, justru itu masalahnya. Bagi saya Paris Hilton terlalu kaya, terlalu tidak pernah susah, terlalu manja, dan terlalu banyak keinginannya yang terpenuhi. Bagi saya hidup Paris terlalu tidak nyata. Mana bisa orang yang tidak pernah hidup susah bisa tumbuh dewasa, dan bagaimana seorang yang tidak dewasa bisa bahagia? Channel televisi vHl menyebutkan, bahwa orang sekaya dan setenar Paris menggunakan video porno pribadinya untuk mengangkat popularitasnya. Ia juga pernah ditahan karena mengemudi sambil mabuk. Bahagiakah ia atau justru menderita?

Walau dia membuat satu acara yang berjudul “Simple Life“, di mana cerita dalam reality show ini ingin menunjukkan bagaimana Paris Hilton hidup susah di dunia nyata. Tetapi bagi saya, hidup susah hanya sekadar cicipan eskperimen hidup saja untuk Paris. Karena di lebih banyak bagian hidupnya, justru kemewahan yang tak terhingga memenuhi dirinya. Perbedaan pendapat kami terjadi karena satu titik saja: harta. Bagi sebagian kawan, memiliki banyak harta adalah sumber bahagia, sedangkan bagi saya dan sebagiannya lagi, banyak harta justru bisa membuat celaka.Walau punya harta banyak tidak diharamkan oleh Tuhan.

Simple Life? Terus terang saya meragukannya. Lebih heran lagi, begitu banyaknya orang ingin memiliki kekayaan seperti Paris. Kekayaan tanpa batas memang menarik siapa saja tetapi orang kaya justru mengalami kesusahan ketika benar-benar menjadi kaya. Kekayaan adalah anugerah. Ada yang diberi berlebihan, ada pula yang pas-pasan, semuanya memang penetapan Tuhan. Tetapi baik yang berlebih maupun yang pas-pasan, keduanya harus hidup dengan sederhana. Kesederhanaan adalah keharusan, walau antara si kaya dan si miskin kesederhanaan menjadi relatif. Misalnya untuk orang yang berpenghasilan l0 juta, membeli HP senilai 2 juta masih dibilang sederhana. Sedangkan untuk yang berpenghasilan 2 juta, membeli HP dengan harga yang sama dianggap sebagai pemborosan. Bagi seseorang, pergi ke Singapura adalah tanda kesederhanaan, dibanding ke Eropa atau wisata ke Yerusalem. Sedangkan bagi yang penghasilan pas-pasan, pergi ke kebun binatang saja, mewahnya sudah bukan main.

Seseorang pernah berkata, bahwa sederhana adalah, ketika seseorang dengan penghasilan tertentu, hanya menggunakan 5%-10% nya untuk kepentingan pribadi, dan 90% sisanya adalah biaya untuk kebutuhan sesehari. Seperti listrik, tagihan, dsb. Ditambah dengan biaya untuk membantu orang lain. Maka, kesederhanaan menjadi relatif untuk masing-masing orang. Maka jangan keburu menghakimi jika ada seseorang bisa punya jam tangan seharga 2 juta, karena kemungkinan pendapatannya l0 kali lipat dari harga jam tangannya, dan persembahannya jauh lebih besar daripada harga laptopnya. Bukan pula berarti, bahwa seseorang yang sepeda motornya butut dengan baju seadanya adalah orang sederhana. Mungkin saja dia orang pelit atau memang pembawaannya? Sejak kecil. Maka, kesederhanan tak bisa dinilai secara fisik tetapi dapat menjadi ukuran untuk diri sendiri. Apalah diri ini sama dengan pepatah “lebih besar pasak daripada tiang”, sehingga membuat hidup kita masuk dalam kategori pemboros. Atau, walau gaji kita tidak besar tetapi puas dan mampu mengontrol diri dalam kecukupan, tidak berlebih-lebihan sehingga masuk dalam kategori sederhana.

Apakah arti kesederhan, secara ringkas sederhana adalah sebuah sikap yang tidak berlebih-lebihan. Berkaitan dengan kekayaan, seorang yang sederhana adalah yang memanfaatkan miliknya dengan secukupnya, tidak berlebihan, baik kaya maupun miskin. Jadi, sebenarnya kesederhanaan menyangkut kedewasaan. Walau kesederhanaan relatif bagi setiap orang, tetapi kesederhanaan adalah tanda kedewasaan. Mengapa? Karena mengumbar uang untuk kepentingan pribadi adalah tanda kekanak-kanakan, atau bahkan salah satu pelanggaran terhadap buah Roh, yaitu penguasaan diri (Gal. 5:23). Materi memang godaan; laptop sekarang makin canggih, HP yang makin banyak fiturnya, lotion pemutih kulit, kursi yang memijat sendiri, alat pelangsing, sepatu, baju. dsb.

Gile emang, ye, ketika Mamon vs Allah disandingkan. Mamon adalah personifikasi dari materi dalam bahasa Perjanjian Baru; mamon sesungguhnya adalah benda mati. Sedangkan Allah adalah pencipta segalanya, dan Ia adalah kehidupan itu sendiri. Tetapi herannya, keduanya bisa bersandingan. Yang lebih heboh lagi, yang menyandingkan adalah Kristus itu sendiri! (Mat.6:24). Karena Ia tahu bahwa manusia lebih mudah terpengaruh oleh materi yang terlihat dari pada Allah yang tak kelihaan. Materi, tentu saja tidak salah untuk memilikinya. Tetapi selalu merupakan bahaya jika kita berpusat kepadanya. Maka kesederhanaan bukanlah sebuah pilihan, tetapi harusnya memang menjadi gaya hidup. Gaya hidup siapa? Gaya hidupnya Tuhan Yesus selama di dunia dan juga harusnya menjadi gaya hidup kita entah sedikit atau banyak harta kita.

Tuhan Yesus tidak pernah menentang kekayaan. Ia meninggal dan dikuburkan di makam seorang kaya, Yusuf Arimatea. Selama melayani ia juga didukung oleh Khuza yang adalah bendahara Herodes (Yoh.8:3), bahkan la pun makan di rumah boss pemungut cukai, Zakheus. Dalam 2 Korintus 8:14 rasul Paulus mengatakan, “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Jadi, kekayaan bukan masalah. Mengapa? Karena harta adalah benda mati yang seharusnya menjadi hamba bagi manusia. Maka orang kaya yang sudah lahir baru pintar memperoleh banyak harta dan menjadikan harta sebagai hamba dan salah satu alat untuk pelayanan. Namun masalahnya, kekayaan itu memang menggodanya luar biasa, sehingga di sisi lain Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa seekor unta masuk ke lubang jarum masih lebih mudah daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah, mungkin karena terlalu nikmat di dalam kerajaannya sendiri. (Luk.l8:25)

Mau tidak mau, dalam menulis mengenai kesederhanaan, maka kita harus bicara pula mengenai kekayaan. Dalam 1 Timotius 6: 6-7 menyatakan, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungon besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.” Mengerti harta sebagai sebuah kecukupan selaras dengan perjalanan iman. Maka selanjutnya dalam ay. 6:8-9 rasul Paulus kembali melanjutkan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah (batas minimum kebutuhon manusia). Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.” Mengapa? “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka “(ay. l0). Maka menjadi kaya bukanlah masalah sebenarnya, tetapi sikap terhadap kekayaan itulah masalahnya. Sehingga dalam I Timotius 6:17 -19 rasul Paulus menghimbau, “Peringatkanlah kepada orang-orong kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Pringatkanlah agar mereka itu berbuat baik menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yong baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.”

Jadi masalah kesederhanaan bukanlah perkara banyak atau sedikit harta, miskin atau kaya. Tetapi dengan harta yang ada; kaya atau miskin, kita memiliki hati untuk berbagi sambil mencukupkan diri dengan apa yang ada untuk diri sendiri. Kesederhanaan adalah salah satu buah Roh Kudus, yaitu penguasaan diri, yang menjadikan uang di bawah kekuasaan kita bukan sebaliknya. ltulah sebabnya mengapa, antara hidup matre dan beribadah bukanlah sesuatu yang selaras. Sehingga jika hidup kita tidak sederhana, sebenarnya ibadah kita adalah sia-sia. Karena harta masih menjadi tuan bukannya hamba. Maka, sadar atau tidak, sebenarnya sederhana adalah sebuah ibadah. ltulah sebabnya sederhana bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan, bahkan gaya hidup bagi anak-anak pilihan Tuhan.

Ketika diminta untuk menuliskan mengenai gaya hidup sederhana, terus terang saja saya bingung, karena yang namanya sederhana, ternyata sangat relatif. Ada yang menganggap memiliki satu motor saja sudah sederhana. Sedangkan yang lain menganggap punya dua mobil saja sudah sangat sederhana. Sebenarnya kesederhanaan dilihat dari dua sisi, debit dan kredit. Antara pengasilan atau pemasukan dan pengeluaran pemakaian uang susah, bukan menilai apakah seseorang itu memiliki hidup sederhana atau tidak? Maka marilah kita melihat kepada diri sendiri saja dahulu, untuk mengukur apakah pengeluaran kita masih dapat dikendalikan jika dibandingkan dengan pemasukan kita. Apakah pengeluaran pribadi masih l0% atau kurang dari itu. Kadang miskin atau tidaknya kita bukan dihitung dari gaji, tetapi dari gaya hidup yang melebihi pemasukan. Saya mengenal seseorang yang di Jakarta masih bisa hidup dengan uang 600 ribu. Sedangkan yang bergaji 2 juta masih ngomel-ngomel melulu. Yah, itulah yang terjadi ketika, seperti pepatah mengatakan, lebih besar pasak daripada tiang.

Lebih sulit lagi ketika kita menjadi merasa perlu untuk memiliki semuanya. Contoh, kita pemakai HP kelas SMS, demikian tergoda melihat HP yang punya kamera. Lalu keinginan itu mulai membuat kita “menderita” karena harusnya HP kita juga punya kamera. Padahal kebutuhan kita sesehari hanya butuh SMS. Perasaan untuk perlu memiliki segala sesuatu itu lah yang akhirnya dapat membuat kita jadi menderita, bukan karena benar-benar menderita, tetapi karena harapan lebih tinggi dari kemampuan.

Adakah kemewahan yang ditinggalkan Kristus selama Ia di dunia? Serigala punya liang tetapi Dia tak punya tempat tinggal. Lahir dari kalangan bawah, dan hidup di dalam kesederhanaan, bahkan mati dalam kesengsaraan. Yah, banyak bedanya lah dengan beberapa “hamba-Nya” yang minimal khotbah pakai dasi dan jas, punya rumah dengan anak-anak di luar negeri, dengan gaji yang lumayan. Tetapi apakah berarti anak hamba Tuhan tidak bisa ke luar negeri atau, tidak boleh punya mobil dan rumah, atau khotbah dengan kaus oblong saja? Bukan itu maksudnya, tetapi seperti yang di atas, apakah pendapatan sesuai dengan pengeluaran? Walau kadang susah juga melihatnya, maka dari itu, marilah melihat kepada diri sendiri saja daripada menuduh yang bukan-bukan.

Kesederhanan juga mencakup seluruh kepercayaan kita. Bayangkan, Kristus tidak pernah meninggalkan ritual-ritual tertentu untuk gaya ibadah yang benar. la tidak pula menulis buku, tidak pernah jalan-jalan ke Asia Tenggara, bahkan memiliki murid dari kalangan bawah. Tetapi setidaknya la mengaiarkan 3 “ritual” sederhana yang menjadi panduan kita untuk mengerti PengorbananNya, yaitu makan, minum dan mandi.

Semuanya itu disebut sakramen. Kristus hanya menganjurkan 3 hal itu. Makan dan minum perjamuan, di perintahkan-Nya sebagai peringatan akan tubuh dan darahNya di dalam Perjamuan Suci. Sedangkan mandi adalah tanda perjanjian dengan ikatan anugerah Allah didalam sakramen baptisan. Hanya 3 hal itu, tetapi semuanya kita lakukan setiap hari, dan meniadi peringatan yang diingat setiap hari. Tugu peringatan seperti Monumen Nasional, Patung Libefi Taj Mahal, atau Tugu Pahlawan saja tidak kita hayati setiap hari. Tetapi kesederhanaan Kristus iustru mengalak kita menghayati-Nya setiap hari.

Jadi, mungkin kita berteriak,”Oh my God!” betapa matrenya hidup kita kini, bahwa untuk menjadi hamba-Nya saja kita ribut untuk urusan fasilitas, gaji dan penghidupan. Untuk urusan HP yang punya kamera atau cuma bisa SMS saja kita bingungnya setengah mati. Kadang jika semua harapan tak terpenuhi lalu ngomel melanda hati, mungkin Tuhan berkata “Macam Aku tak berkuasa saja…”. Lha, wong semut saja Dia pelihara kok, apalagi kita anak yang dipilihNya. lbaratnya dinamika hidup, materi hanyalah membuat kita melebar ke samping, dengan segala bolo-bolo yang kita miliki padahal hidup kia mengarah ke depan, bahkan lebih lagi menuju kekekalan. Bagi Tuhan benar-benar tak ada bedanya antara orang punya HP atau tidak; manusia saja yang membuat perbedaan. Maka janganlah kita nelangsa dalam derita hanya gara-gara masalah kehidupan atau materi, macam Dia itu tak tahu urusan kita.

Memiliki harta bukanlah kesalahan, menjadi kaya adalah pula karya Tuhan. Memiliki teknologi terkini dalam rumah kita adalah penghargaan terhadap karya manusia ciptaan Tuhan. Apa yang salah dengan semua itu? Namun menganggap semua itu sebagai tujuan utama adalah sebuah bencana besar, karena akhirnya kita dikontrol oleh materi yang nilainya tergantung expired date. Maka, kita perlu sederhana berpola pikir, dan sederhana dalam menjalani kesederhanaan pola pikir itu, sesederhana Juru Selamat yang datang di dalam kesederhanan. Manalah bisa mengabdi kepada dua tuan, Allah dan mamon. Ketika kita mencari bahagia dari berjibunnya harta, apalagi memuaskan diri dengan kesenangan diri lalu hidup dalam kemewahan, sudah pastilah kita termasuk dalam golongan matre dan matre itu adalah salah satu buah dari pengabdian kita kepada mamon. Tetapi walau kita kaya raya atau berlimpah harta tetapi jiwa kita mengarah juga kepada kepentingan sesama, maka walau mobil kita keluaran terbaru sekalipun itu bisa disebut sederhana. Bedanya antara orang kaya dan miskin hanyalah masalah berbagi. Orang miskin nggak mau berbagi walaupun kaya, tetapi orang kaya selalu berbagi walau pun hartanya terbatas. Sederhana bukan pilihan, tetapi the way of life.

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini