Percikan:
Dunia ldeal, Tanpa Dosa?

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu,sungguh amat baik …

Kejadian 1 : 31

 

 

Siapakah di antara kita yang tidak mendambakan dunia yang damai, sejahtera, makmur. Penuh cinta-kasih dan tanpa kejahatan di dalamnya? Sayangnya, harapan itu menjadi komoditi langka dewasa ini. Sebaliknya, kita menyaksikan krisis harmonisasi hubungan antar individu, golongan, bangsa dan lingkungan. Kejahatan semakin meningkat; dan apa yang baik itu kini relatif.

Kitab Kejadian sangat membantu kita mengerti proses penciptaan segala sesuatu yang ada di bumi ini. Kita tahu, setelah Allah menjadikan langit, bumi, dan segala isinya, Ia berhenti sejenak. Perasaan dan pikiran Allah tersirat dalam ayat di atas. Hati-Nya sangat puas memandang semua yang dicipta-Nya.

Suasana Eden

Di suatu pagi yang cerah, Adam tampak membelai tubuh binatang yang kemudian dinamainya gajah. Setelah itu ia segera mendekati seekor hewan yang nampak tegar dan gagah. Binatang itu mencium kakinya. .Adam menamainya harimau.

Sambil bercengkerama dengan harimau itu, mata Adam menatap seekor serigala dan anak domba makan rumput bersama-sama. Persediaan makanan mereka tersedia berlimpah. Satu pun tidak ada yang berebut.

Menjelang sore seekor binatang meliuk-liuk. menari-nari,kemudian meliliti tubuh Adam. Manusia pertama ini senang bercanda dengannya. Binatang itu disebutnya ular. Tiap-tiap hari Adam memberi nama pada setiap hewan itu.

Tiba-tiba Adam merasakan suatu keanehan dalam dirinya. Ia melihat, setiap binatang mempunyai pasangan; ia sendiri tidak. Rasa kesepian menyelinap dalam dirinya. Rasa sepi yang ia sendiri tidak mengerti.

Allah mengetahui kebutuhan itu. Maka Ia memberikan seorang gadis cantik dan manis, yang dicipta dari tulang rusuk Adam sendiri. Adam menamakan gadis itu Hawa, dan menjadi penolongnya puluhan tahun.

Suasana Taman Eden tambah semarak. Adam tidak lagi sendirian. Ia tidak tagi kesepian. Mereka memadu kasih. Ke mana-mana selalu bersama, sedikit pun tidak mau berpisah. Kebutuhan mereka tersedia berlimpah. Tubuh mereka sehat. Kesukaan mereka penuh. Apalagi disaat ngobrol dengan Tuhan Allah yang sesewaktu datang berkunjung. Kasih mareka juga tercurah pada lingkungannya. Mereka merawat hewan dan tumbuhan yang dipercayakan Allah.

Siang barganti malam, tahun berganti tahun. Tidak terasa, semua berlalu dengan cepat. Adam dan Hawa, dengan tawa yang lepas mengamati keintiman anak lembu dan anak singa yang makan bersama. Polusi belum ada dan lapisan ozon belum menipis seperti sekarang ini. O, indahnya Taman Eden, dunia ideal yang didamba!

 Mandat Ilahi

Allah sungguh puas melihat semua yang dijadikannya. Ia puas mendengar tawa riang Adam dan Hawa; melihat keramahan diantara mereka dan mahluk yang lain. Tingkah mereka menyenangkan hatiNya.

Sebelum lebih jauh mengarungi hidup, Allah memanggil manusia itu dan memberi mandat kepada mereka, “Beranak-cuculah dari bertambah banyak. Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Luar biasa! Kiamat ini menunjukkan betapa Tuhan menempatkan manusia pada status yang sangat istimewa di hadapanNya. Pantaslah Daud menuliskan mazmur yang indah, yang menyatakan kekagumannya kepada Allah, yang telah memahkotai manusia itu dengan kemuliaan dan hormat. Para ahli Alkitab menyebut firman di atas: mandat pembangunan dunia.

Allah memberikan pesan kedua pada manusia pesan istimewa ini berkaitan dengan kebebasannya. Firman Allah, “Semua buah pohon yang ada ditaman ini boleh kamu makan ,kecuali buah pohon yang ada di tengah-tengah taman. Kalau kamu memakannya, kamu akan mati.”

Pelanggaran dan Upahnya

Seperti biasa, hari itu Adam dan Hawa sedang jalan-jalan sambil bergandengan tangan. Mereka menikmati ciptaan Tuhan yang mempesona hati. Ketika baru saja beberapa langkah mendekati pohon ‘terlarang’ itu, terdengar sapaan halus. Hawa tersentak. Ternyata ular yang menyapanya. Si Ular mulai merayu. Cerdik rayuan itu, sehingga Hawa terpedaya. Tapi Adam pun kurang waspada. Ia menuruti perkataan isterinya. Maka, jatuhlah mereka dalam dosa yang pertama. Inilah awal pemberontakan manusia pada Tuhannya.

Tanpa menunda waktu, Tuhan segera menjenguk mereka. Dalam ketakutan, mereka mendengar penjelasan terperinci mengenai bentuk hukuman mereka. Yang paling mengerikan, mereka diusir dari Taman Eden, jauh dari hadirat Allah. Inilah arti kematian pertama: Putusnya hubungan manusia dengan Allah. Ini berlaku untuk semua keturunan manusia pertama itu.

Betapa mengerikan akibat pemberontakan ini. Adam dan Hawa mulai bersusah-payah mencari nafkah. Hubungan diantara mereka mulai tidak harmonis. Lingkungan pun tidak ramah lagi. Pembunuhan perdana dilakukan oleh anak sulung Adam. Pengalaman di Babel menunjukkan citra manusia yang mencari kemuliaan diri sendiri, kejaahatan terjadi pada zaman Nuh sehingga Allah sendiri turun tangan menghukum manusia dengan air bah. Penyembahan berhala seperti pada zaman Terah (ayah Abraham) tidak mungkin berkurang hingga zaman ini. Dosa terus berlanjut sampai Sodom dan Gomora harus dibumi hanguskan. Manusia makin tidak tenang menghadapi hidup.

Tapi itu belum cukup. Masih menanti upah dosa yang paling akhir, yaitu maut (kebinasaan kekal). Allah berfirman, “Sebab itu, sama seperti dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”

Tapi, sekaligus dengan hukuman yang dijatuhkan-Nya, Allah mengucapkan janji keselamatan. Itu digenapkannya melalui Anak-Nya. Kematian Kristus disalib mengubah hukuman menjadi berkat, putus-asa menjadi harapan. Kematian kekal menjadi hidup kekal bagi mereka yang percaya.

Selamat hari Paskah. Selamat menikmati anugerah keselamatan melalui kebangkitan Tuhan Yesus!*

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini