Percikan:
Hesti, Guru Sejarah

Hesti, sebut saja begitu. Dia baru lulus. Masih anget menyandang gelar sarjananya. Kutemui dia saat wisuda.

“Selamat ya Hes! Terus, mau ke mana nih?” tanyaku.

“Nggak tahu; Pengennya sih kerja!”

“Rencananya mau kerja apa?”

“Pengennya sih jadi guru sejarah!”

“Apa? Nggak salah dengar nih. Mbok cari kerja yang lain. Ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau cuma ngajar sejarah. Sekolah mahal-mahal,ekh begitu lulus cari kerja yang prospeknya tidak menjanjikan,” protesku.

“Nggak tahu, ya Tom. Ketika aku bergumul tentang rencanaku setelah lulus, satu hal yang terpikir untuk bekerja di tempat aku bisa melakukan pekerjaan dengan baik, yang orang lain tidak bisa melakukannya.”

“Dheeeilaah! Ideal amat. Mendingan kamu jadi guru di pedalaman Irian aja sekalian. Jarang orang yang mau melakukannya.Tapi ngomong-ngomong, apa sih yang bikin kamu pengen jadi guru sejarah?” selidikku.

“Terus terang aku sedih dengan keadaan anak-anak sekolah sekarang. Baik di tingkat sekolah dasar maupun di perguruan tinggi. Koq, kayaknya mereka kurang menghargai bahkan tidak mau tahu soal sejarah bangsanya.”

“Maksudmu menghargai bagaimana? Apa mereka perlu hapal nama-nama dan tampang para pahlawan?”

“Bukan hanya itu, Tom. Lebih dari itu, mereka harusnya sadar akan sejarah dan mampu menilai sejarah.”

“Akh, itu mah urusan sejarawan. Ngapain sih kita ikut-ikutan mikirin terlalu jauh tentang sejarah.”

“Tahu nggak, Tom. Bangsa Amerika Perancis dengan revolusinya. Jepang, Korea Selatan dan lainnya, menjadi bangsa yang besar karena ditempa peristiwa-peristiwa sejarah yang dialaminya. Tingkat kesadaran sejarahnya telah memasyarakat. Sudah tinggi.”

“Hes, emongnya kesadaran anak-anak sekolah bangsa kita sudah parah?”

“Coba deh, Tom. Tanya anak sekolah sekarang, apa itu Piagam Jakarta? Apa yang menjadi “keberatan” waktu Piagam itu ditulis? Pasti hanya segelintir anak yang tahu. Nah, kalau kita tahu latar belakang jiwa dan semangat Piagam Jakarta itu, kita akan punya pemahaman sejarah yang benar, sekaligus melihat relevansinya dengan jaman sekarang”.

“Maksudmu, Hes?”

“Ya, kita bisa bercermin. Kita akan punya sikap yang benar kalau ada upaya-upaya seperti proses pembuatan Piagam Jakarta.”

“Oh, begitu!”. Lalu, bagaimana kesadaran sejarah itu bisa tumbuh? Maksudku, bagaimana caranya supaya masyarakat bisa memahami fungsi dan faedah sejarah.”

“Banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya, dari sisi penulisannya. Maksudku, penulisan sejarah itu harus obyektif, ilmiah, dan selalu bisa dinilai oleh masyarakat secara langsung.

“Emangnya ada penulisan sejarah yang nggak obyektif, maksudku ada unsur pengkhianatan?”

“Oh ada, Tom. Kadang-kadang kita cenderung menulis sejarah yang baik-baik saja. Tabu menulis sejarah yang mengungkapkan peristiwa yang buruk dan menakutkan. Takut kalau-kalau peristiwa buruk itu terulang.”

“Waduh, gawat tuh. Padahal, dari situ kita bisa belajar”

“Tom, contoh kecil saja. Aku pernah iseng-iseng membandingkan fakta-fakta sejarah didalam buku paket anak SD sekarang. Dari enam buku IPS dan PSPB isinya berbeda. Ini nih …. soal peristiwa Jepang menyerah kepada Sekutu. Dari empat buku, menyebutkan peristiwa itu terjadi 14 Agustus 1945, sebuah buku terbitan Bandung menyebutkan 15 Agustus 1945 dan satu buku lainnya tidak menyinggung peristiwa itu.”

“Hmmm….. Hes, aku yakin kalau kita tanya anak-anak SD sekarang kapan Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara, jawabannya pasti macam-macam. Tanggal 1 Agustus 1945-lah, 18 Agustus 1945- lah, atau &dunia 1945. Ekh, aku jadi mikir, rumit juga kalau kamu jadi guru.”

“Ya, gitu deh…..”

“Terus, apa yang akan kau lakukan? Apalagi sekarang cerita-cerita sejarah dijadikan bulan-bulanan atau dipelesetkan. Contohnya oleh kelompok Padhyangan. Tambah runyam aja dah !”

“Yang pasti aku musti beli banyak buku untuk pembanding atau menelusuri langsung ke sumber-sumber aslinya. Ton!”

“Aku bingung, Hes. Koq bisa ya, data-data sejarah itu berbeda satu dengan lainnya”

“Ya… itu karena minimnya arsip-arsip sejarah. Tidak ada catatan resmi yang bisa dipakai sebagai patokan. Data sejarah bisa dibolak-balikan. Hal ini selalu ada di sepanjang sejarah manusia. Sehingga kita nggak, heran, orang yang semestinya dianggap pahlawan, ekh koq malah di cap sebagai pengkhianat. Orang yang di zaman perjuangan ngumpet di rumah, ekh tiba-tiba di zaman kemerdekaan menampilkan diri sebagai pahlawan kesiangan. Nah, celakanya lagi, Tom, justru mereka ini yang mendapatkan posisi strategis dalam struktur kekuasitan”

“Arsip itu penting sekali ya. Aku baca kemarin di koran, arsip RIS kita masih sedikit. juga tentang PRRI/Pemesta. RMS. Pergantian kabinet di jaman Bung Karno, bahkan peristiwa G-30-S PKI hampir tidak ada arsipnya. Demikian pula peristiwa Malari. Kasus Tanjung Priok atau Petisi 50”

“Hmmm.. naskah Supermen yang begitu penting saja. hingga kini belum ketemu. Tom”

“Kalau dipikir-pikir arsip itu seperti rekaman kehidupan suatu bangsa, ya! Tanpa arsip yang baik. kayaknya kagak bakalan sejarah bisa ditulis dengan baik”

“Bener. Tapi di Indonesia lain lho!”

“Maksudmu’?”

“Bangsa kita ini lebih suka ngomong daripada menulis. Apalagi menyimpkan catatan-catatan peristiwa. Orang Indonesia itu lebih suka mengandalkan daya ingatnya daripada mengandalkan catatan. Padahal kapasitas ingatan kita terbatas dan kemungkinan biasanya pun besar.”

“Hes, kalau gitu, salah satu tugas kamu sebagai guru sejarah adalah mengajak siswa untuk mulai menulis dan membudayakan kearsipan!”

“Tentu dong!”

“Tapi Hes, kalau aku bandingin anak-anak sekarang dengan kita dulu, terutama antusias mereka belajar sejarah, koq beda ya. Dulu, kalau mendengar guruku menceritakan kepahlawanan Patimura, Diponegoro, dan lainnya… aku seperti terlibat dalam perjuangan para pahlawan itu. Anak-anak SD sekarang kayaknya lebih tertarik dengan kepahlawanan Satria Baja Hitam atau kecerdikan Mac Gyver. Mereka lebih terharu dengan Ibu guru Simena dalam film “Carussel” daripada perjuangan Ibu Kartini sewaktu mengajar kaum puteri di Rembang.”

“Mungkin cara menceritakan sejarahnya kurang inspiratif. Penghidangan peta sejarah, gambar-gambar di dalam buku, porsinya harus banyak. Gambar-gambar sejarah amat penting dalam buku-buku semacam itu. Sebuah gambar atau bantuan peraga lainnya akan memberikan darah dan daging terhadap penuturan cerita sejarah”

” Hmm..iya…yat Bagaimana pelajaran sejarah dapat memupuk rasa cinta kepada bangsa dan umat manusia, kalau segi-segi inspiratifnya diabaikan.”

“Makanya, Tom. Aku melihat peran guru sejarah itu amat penting. Apalagi kalau kita mau menanamkan semangat kebangsaan kepada generasi muda di negeri ini”

“Aku baru ngerti sekarang kenapa kamu begitu komit mau menjadi guru sejarah. Yaa… kita kerja khan bukan semata-mata untuk dapat pengakuan dan kedudukan. Tapi sejauhmana kerja dan karya kita itu punya pengaruh, sekalipun kecil.”

“Kalau gitu kamu mendukung aku jadi guru sejarah?”

“lya…lahyauuuwww. Ekh, ngomong-ngomong, kita makan yuk! Aku yang traktir, deh. Ini kan peristiwa bersejarah! Kamu udah jadi sarjana! Ini perlu kita catat, bahwa di hari wisuda karnu. kita pernah makan bareng”

“Okey! Okey!”**

 

**Majalah DIA Edisi 4/1994

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini