“Make The Best Of Your Life”

Anna (bukan nama sebenarnya) dalam usianya yang ke-30 belum punya pacar. Wajahnya lumayan dan penampilannya cukup menarik. Ia bekerja di sebuah perusahaan asing dengan gaji sekitar satu juta rupiah. Cukup tinggi untuk ukuran daerah. Namun ia sedang resah karena memikirkan teman hidup yang tidak kunjung datang. Waktu Anna masih berusia 25-an cukup banyak pria yang mendekatinya. Tak satu pun dari mereka yang “masuk itungan” Anna waktu itu. Sekarang, ia menyesal karena merasa terlambat bertindak. Harry (sebut saja demikian), pria yang bersimpati padanya, sudah dua tahun menunggu sambutan cinta Anna, kini sudah menikah karena tak mendapat jawaban. Memasuki usia kepala tiga, wanita periang ini baru sadar akan kebutuhan seorang teman khusus. Kini kedua orang tuanya pun setengah frustrasi melihat Anna belum juga ada tanda-tanda punya pacar dan siap menikah. Sebagai keluarga dari suku yang menomorsatukan status pernikahan, keadaan ini menjadi tekanan tersendiri bagi Anna dan keluarganya. Dengan status sebagai anak tertua, Anna turut merasa bertanggung jawab memikirkan pergumulan kedua orangtuanya, di  samping kebutuhannya sendiri. Karena itu, dia mencari kesempatan mendekati pria yang kira-kira “cocok” untuk dijadikan suami.

            Ketika mahasiswa, Anna aktif melayani di persekutuan. Berbagai pengajaran ia dapatkan antara lain bagaimana menjalani kehidupan Kristen yang berkenan kepada Tuhan. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana memilih teman hidup yang tepat. Akan tetapi untuk situasi sekarang, Anna tidak menuntut persyaratan yang tinggi terhadap kerohanian pria tersebut, “Asal Kristen, cukuplah. Soal keimanan, saya yang akan ‘membawa’ dia,” kata Anna terus terang.

 

Kejadian yang dialami Anna bukanlah hal baru bagi sebagian besar kaum wanita yang belum juga menikah di usia matang. Apa yang menjadi syarat yang ketat pada mulanya, akan turun dengan sendirinya bila apa yang ingin diraih belum juga tercapai. Kalau dulu Anna menginginkan suami yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, sekarang hal itu bukan persoalan lagi buat dia. Menurut Pdt. Flora Harliana Dharmawan, sikap Anna merupakan hal yang wajar. Banyak faktor mengapa Anna bersikap demikian, ujar pendeta GKI Gunung Sahari ini. “Anna menanggung dua masalah. Yang pertama, kebutuhan akan seorang pendamping. Kedua, pergumulan kedua orangtuanya menghadapi pertanyaan orang-orang mengapa anaknya belum menikah. Kalau akhirnya Anna ‘menurunkan standar’ keimanan pasangan hidupnya, sampai pada batas-batas tertentu itu masih bisa dipahami. Tetapi hati-hatilah, apakah dia dapat memasuki kehidupan yang baik nantinya. Artinya, ketika kesusahan bisa ditanggung bersama dengan mengandalkan Tuhan. Kalau pasangannya tidak mengerti prinsip ini, katakanlah menghadapi masalah dengan cara mendatangi ‘orang pintar’, bagaimana?” ujar Flora.

Yang pasti, menurut ibu tiga anak yang beranjak remaja ini, komunikasi mereka bisa terhambat karena ketidaksamaan keyakinan mereka. Bahwa Anna akan berusaha “membawa” suaminya pada kehidupan yang beriman kepada Allah, itu bisa dimengerti walaupun kurang dibenarkan. Karena kalau berbicara soal keimanan, kita tidak bisa begitu saja menghakimi bahwa hidup perkawinan mereka akan gagal. Bisa saja upaya Anna berhasil. Bagaimanapun mereka adalah manusia yang senantiasa mengalami perubahan dan pertumbuhan. Bisa saja Tuhan akan campur tangan. Akan tetapi, siapa yang bisa menjamin? Tetap akan ada dua kemungkinan. Pria ini akan bertobat atau sebaliknya. Sungguh Anna harus bekerja keras – jauh lebih keras daripada kalau dia mendapat suami yang sudah hidup dalam Tuhan – atau dia sendiri yang akan “terbawa”.

Mandala Manurung tidak setuju kalau seseorang menikah dengan alasan karena “terdesak” umur. “Kalau menikah tuh kayaknya nggak laku. Menikah memang hak setiap individu. Tapi jangan mentang-mentang hak, lantas pernikahan dijadikan gengsi,” ujar mantan pengurus Persekutuan Alumni Kristen Jakarta (PAKJ) tahun 1988 ini. Begitu pula dengan tujuan membahagiakan orangtua, jangan sampai kita terjabak pada ukuran-ukuran tersebut, dimana orang lain yang menentukan masa depan kita, lanjutnya. Kalau saat ini Mandala belum menikah di usianya yang sudah 35, itu karena ia belum menemukan wanita yang satu visi dengannya.

Mengapa Orang Melajang

Terlepas dari setuju atau tidak terhadap alasan seseorang menikah, jumlah orang yang melajang dewasa ini cukup banyak, terutama di kota besar seperti Jakarta. Bahkan di lingkungan Kristen sendiri (gereja dan persekutuan) seperti dituturkan Pdt. R. A. S. Pandiangan berdasarkan pengamatannya, kuantitas anggota jemaat yang melajang semakin banyak. Meskipun, ungkap Bapak yang kerap dipanggil “Pak Ras” ini, belum ada survey khusus mengenai hal itu. Ia melihat, ada beberapa latar belakang mengapa seseorang melajang.

Pertama, karena tidak adanya kesempatan untuk menikah. Berdasarkan pengalamannya menggembalakan jemaat, faktor ini yang paling menonjol. “Mereka bukannya tidak mau menikah, tapi karena ‘dipaksa’ oleh situasi. Antara lain karena kesibukan kerja, tidak ada orang yang mendekati, atau si dia tidak memenuhi persyaratan yang diinginkan,” kata Pak Ras. Diungkapkan kemudian olehnya, pergumulan ini sangat terasa di kalangan wanita. Kalaupun ada pria yang masih melajang, lebih banyak karena pertimbangan-pertimbangan ekonomi, misalnya karena harus menyekolahkan adik-adiknya, merawat ibunya, sehingga soal pernikahan dibelakangkan untuk sementara.

Kedua, adanya sekelompok orang yang memilih melajang karena mereka terpanggil untuk menekuni pelayanan rohani, misalnya menjadi penginjil, atau bekerja dalam pelayanan sosial. Banyak orang yang terjun ke pelayanan sosial seperti di panti asuhan, panti jompo, karena merasa kehadirannya dibutuhkan orang lain. Sehingga, boleh dibilang mereka ini “menikah” dengan pekerjaan sosialnya.

Ketiga, disebabkan oleh orang lain. Banyak pria atau wanita yang trauma dengan kegagalan perkawinan orangtuanya sehingga tidak berani menikah, kata Pak Ras. Kasus lain, yaitu adanya sebagian orang yang memiliki kelainan seksual (biseks atau homoseks), mereka tidak menikah. Secara fisik penampilan mereka menarik. Tinggal di lingkungan yang baik dan termasuk kelompok orang-orang baik pula. Orang-orang seperti inilah yang paling sulit dipahami mengapa mereka tidak menikah. Walaupun kasusnya sedikit, tapi Pak Ras yakin diluar lingkungan gereja orang-orang berkelainan seperti ini jumlahnya cukup banyak. Pak Ras menyebut mereka sebagai “orang yang punya kesempatan menikah namun tidak mengambil kesempatan itu”.

Tampilkan Diri

Untuk meraih kesempatan itu, tutur pendeta GKI Perniagaan ini, harus ada inisiatif dari si individu untuk menampilkan dirinya. “Banyak wanita yang terlalu pasif, tidak berusaha menampilkan dirinya supaya orang lain “menoleh” padanya. Pernikahan tidak lepas dari rasa tertarik. Tampilkan diri secara atraktif, bergaullah seluas-luasnya. Kalau orang sembunyi terus, siapa yang mau lihat? Ini tanggung jawab pribadi setiap orang,” kata Pak Ras.

Meskipun demikian, ia tidak keberatan kalau para lajang “diberi” mak comblang. “Tapi bukan biro jodoh. Itu terlalu naif. Berikan peluang kepada anak muda supaya mereka bisa saling bertemu dan bersosialisasi. Misalnya kegiatan atau wadah khusus. Jangan menganggap tabu hal seperti ini karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri,” ujar Pak Ras serius.

Wadah yang tepat untuk mewujudkan hal seperti diutarakan Pak Ras menurut Flora Dharmawan, adalah gereja. Gereja bertanggung jawab mengusahakan “pertolongan” bagi anggota jemaat yan masih melajang. Dikemukakan oleh lulusan STT Jakarta ini, banyak di antara mereka (para lajang) yang belum sepenuhnya dapat menerima keberadaan dirinya sehingga belum mampu menata hidupnya. Mereka sering merasa ada yang kurang dalam dirinya. Minder, merasa tidak berharga, dan merasa gagal adalah keluhan yang paling nyata. Gereja harus merangkul mereka dengan menciptakan wadah perjumpaan yang nantinya dapat mengangkat kepercayaan diri mereka,” kata ibu dua anak ini.

Namun, tutur Flora, mengupayakan niat ini harus berhati-hati karena tidak semua orang bisa menerima cara “perjodohan” seperti ini. “Masih banyak yang merasa ini hal yang bersifat pribadi. Jangan sampai kita berkata ‘Ini obyek pelayanan nih, mereka masih melajang. Orang kan nggak suka diperlakukan seperti itu.” ujar Flora lebih lanjut.

Sebaliknya, banyak juga yang mempertanyakan kenapa gereja tidak memikirkan kelompok lajang? Karena itulah Flora kini sedang memikirkan bentuk sosialisasi yang setepat mungkin. Yang jelas kegiatan tersebut harus menjadikan kaum lajang sebagai subyek, bukan obyek. “Mereka yang akan terlibat dalam kegiatan ini bertujuan ingin berbuat sesuatu, bukan semata-mata mencari pasangan. Kami buka wadah perjumpaan, misalnya kelompok paduan suara. Keterlibatan mereka tidak secara struktural atau formal, melainkan dibuat sedemikian rupa sehingga orang yang bersangkutan bisa berbuat sesuatu, tanpa sadar bahwa mereka “dimasukkan” ke lingkungan itu. Dan yang masuk kesana bukan hanya kaum lajang. Yang sudah berpasangan pun harus ada supaya tidak terlalu mencolok bahwa kegiatan ini milik orang single dan bertujuan cari jodoh,” papar pendeta yang menyukai topik-topik mengenai perkawinan dan karir ini.

Sulitkah merealisasikan proyek tersebut? Menurut Flora sebetulnya tidak. Yang sulit adalah mencari koordinatornya. Orang ini harus punya beban khusus dan berkonsentrasi penuh mengamati perkembangannya. Ia pun harus mengerti berbagai keterbatasan individu yang bersangkutan, antara lain hambatan waktu dan corak kepribadian masing-masing orang.

Keterlibatan gereja untuk memperhatikan kaum lajang di jemaatnya dilihat oleh keempat narasumber sebagai tindakan yang seharusnya. Namun Pak Ras dalam hal ini sangat menekankan pentingnya sikap yang positif dari masyarakat dan keluarga, terutama para orang tua, dalam menghadapi anaknya yang belum menikah. “Jangan menganggap mereka tak laku. Hargailah mereka berdasarkan prestasinya, bukan statusnya,” kata Pak Ras. Prinsip yang sama diutarakan Kembong Mallisa. Ia menyarankan supaya kita menolong mereka yang cenderung belum punya pacar, berperangai sulit dan gampang tersinggung, serta orang-orang yang merasa dirinya tidak dimengerti oleh orang lain. Bentuk pertolongan praktis seperti dikatakan pria kelahiran Rantapao, 21 Oktober 1950 ini antara lain: melibatkan mereka dalam kegiatan pelayanan yang sifatnya memberi, misalnya mengunjungi orang sakit, atau menantang mereka supaya menunjukkan kelebihannya. “Jangan lupa membuka kesempatan kepada mereka bertemu dengan orang banyak,” tutur Kembong Mallisa.

Sementara Flora Dharmawan menyarankan kepada para lajang supaya mereka mempersiapkan diri sebaik-baiknya, jika ada kemungkinan tidak akan menikah. Bagi mereka yang sudah punya pekerjaan, karirnya bisa menjadi “kompensasi”. Dengan demikian para lajang pun tetap mempunyai social life, menghargai hidupnya, dan tetap berkarya dengan baik. “Anda harus menghargai diri Anda, karena ‘harga’ yang Tuhan berikan kepada kita adalah kematian Yesus supaya kita selamat. Make the best of your life,” katanya. (em)

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini