Yohannes Somawiharja:
Menemukan Kembali Akar Tradisi Kita Transformasi Masyarakat Melalui Bidang Pendidikan

Pembelajaran Abad 21

Ada hal menarik bahwa keprihatinan kalangan Kristen seperti di atas juga seolah dikonfirmasi oleh pihak sekular. Sebuah konsorsium yang bernama “The Partnership for 21st Century Learning” meneliti apa saja tantangan yang akan dihadapi oleh para peserta didik di abad 21 dan menyajikan hasil pemikirannya (kunjungi situs www.p21.org).

Konsorsium melukiskan dua generalisasi model pendidikan di abad 20 dan di abad 21 seperti pada gambar berikut ini.

Materi hasil studi konsorsium dan kesimpulannya menurut saya sebagian masih bisa diperdebatkan, namun mereka menyadarkan saya akan beberapa hal penting.

Pada Model Pendidikan Abad 20 yang ditekankan hanya belajar core-subject dan model assessment nya yang hanya summative (UTS-UAS) saja. Sedangkan Model Pendidikan Abad 21 menunjukkan, pertama, bahwa hakekat pembelajaran yang hilang perlu diktemukan kembali (Life Skills, Learning & Thinking Skills). Alvin Toffler pernah mengatakan: “The illiterates of the 21st century will not be those who cannot read and write but those who cannot learn, unlearn, and relearn”. Kedua, studi ini menunjukkan tantangan di depan yang sangat berbeda kategorinya (ICT Literacy, Global Content & Context).

Disitu dikatakan bahwa belajar materi ilmu saja (core-subject) tidak lagi memadai. Penerbit literatur masa kini dan internet menyediakan kwantitas bahan ajar secara luar biasa banyaknya. Sehingga yang perlu adalah kemampuan unutk memilih dan memilah mana yang bermutu dan mana yang sampah. Yang perlu adalah kemampuan berpikir kritis dan menemukan model belajar yang tepat bagi dirinya. Disini proses belajar sama pentingnya dengan hasil belajar. Sehingga model assessment nya pun tidak lagi cukup hanya summative (UTS-UAS), melainkan juga formative (selama proses pembelajaran berlangsung). Formative assessment yang di disain dengan baik oleh Guru akan membentuk pola pikir dan pola belajar yang baik.

Seorang peserta didik juga perlu dilengkapi dengan kompetensi Life Skills (Communication Skills, Interpersonal Skills, Financial Skills, Self Mastery, dll). Yang harus dipikirkan mana yang adalah porsi institusi dan yang menjadi porsi orang tua. Tidak mungkin institusi pendidikan dibebani melaksanakan seluruh tugas pendidikan, walau katakanlah ada orang tua yang mampu membayar semua biayanya.

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini