Yohannes Somawiharja:
Menemukan Kembali Akar Tradisi Kita Transformasi Masyarakat Melalui Bidang Pendidikan

Tugas Para Stakeholder Pendidikan

Menurut saya tugas utama para stakeholder pendidikan (Guru, penyandang dana, dinas pemerintah terkait, orang tua, pemikir pendidikan) adalah untuk menemukan ulang (rediscover) hakekat pendidikan. Kita perlu memikirkan secara serius aspek-aspek yang hilang dan apa dampaknya.

Dua tahun lalu seorang professor di Singapura menceritakan kepada saya tentang program pemerintahnya yang sangat menekankan science (menghasilkan lulusan yang pandai dan skillful) secara tidak seimbanga dengan mengesampingkan liberal arts. Akibatnya lulusan mereka menjadi para ahli yang hebat dalam matematika, fisika, komputer, namun sekaligus pribadi-pribadi dengan kemampuan komunikasi buruk, miskin tatakrama, tidak menghargai budaya, kasar, menyebalkan dll. Orang seperti itu cenderung akan jadi tukang yang bekerja sendirian di depan komputernya saja. Ini penemuan yang mencemaskan bagi pemerintah Singapura karena itu adalah ciri-ciri tukang atau buruh dan bukan pemimpin atau pemilik.

Nampaknya kita harus kembali lagi menghargai aspek-aspek pendidikan yang penting walaupun “tidak menghasilkan uang” seperti liberal arts atau yang “kurang efisien” seperti metode mentoring dan kelas skala kecil yang memungkinkan intensitas interaksi guru-murid.

Saya paham bahwa kita memang tidak boleh membiarkan institusi-institusi pendidikan go uncheck, tidak ada akuntabilitas. Pada dasarnya, manusia atau organisasinya sebagai para pendosa selalu butuh partner seimbang untuk mempertanggung-jawabkan apa yang dikerjakan. Jadi issue nya bukan bahwa menjadi efisien itu tidak diperlukan, melainkan apa yang akan dijadikan ukuran bagi keberhasilannya dan apa yang mungkin-tidak mungkin dalam sebuah proses pembelajaran yang baik dan benar.

jika peran Guru diturunkan menjadi seorang pekerja saja, dituntut produktivitas massal dan keberhasilannya diedit dan diukur secara kwantitas untuk menghasilkan positive statistics bagi institusi pendidikan yang sudah benar-benar diturunkan fungsinya menjadi sekadar sebuah “company”, maka akan sangat sulit menuntut kwalitas dan keberhasilan yang lebih holistik. Sebab kita menyadari bahwa pendidikan yang baik tidak ada yang mudah dan selalu butuh waktu bagi perserta didik untuk menjadi seorang educated person.

Para stakeholder juga perlu membantu mencarikan bantuan untuk guru-guru yang baik tapi tidak mampu mengupayakan dukungan dana yang memadai. Para Guru perlu belajar bagaimana berbuat lebih jauh dari hanya sekedar rutinitas “mengajar” dan belajar meyakinkan para penyandang dana bahwa apa yang mereka lakukan tesebut layak dihargai.

Para orangtua tidak boleh sama sekali lepas tangan dalam pendidikan anak-anaknya. Mereka harus ikut belajar agar bisa ikut mengambil peran sebagai pendidik. Mungkin sudah saatnya Perkantas memiliki wadah untuk mendidik para orangtua. Bahan-bahan pendidikan homeschooling menurut saya bisa dipakai bukan hanya oleh mereka yang mengajar anak-anaknya di rumah, melainkan juga untuk belajar pendidikan.

Leave a Reply