Majalah DIA

Menjadi Tsadiqim di Tengah Gelombang Perubahan

Di momen ulang tahun yang ke-77 kemerdekaan negara kita tahun ini, kita disambut dengan kuatnya arus perubahan. Belum selesai dengan perubahan pola hidup akibat pandemi COVID-19, perahu negeri ini sekali lagi dihantam oleh gelombang krisis energi dan ekonomi akibat perang. Belum lagi jika kita bicara mengenai perkembangan teknologi yang mendorong munculnya era disrupsi. Maka, gelombang yang membawa perubahan tersebut telah bergulung semakin besar dan geloranya semakin terasa, sampai-sampai perubahan itu sendiri tidak mudah ditebak arahnya.

Setiap hari, kita bisa melihat atau pun merasakan perubahan yang terjadi, baik itu dalam bidang politik, hukum, keadilan sosial, transportasi, kebudayaan, iklim, dan lain-lain. Demikian juga dengan problem lama berupa ekstremisme agama, krisis teladan dan kepemimpinan di dalam gereja, gaya hidup yang semakin hedonis, dan menipisnya nilai-nilai moral dalam keluarga.

Pertanyaannya adalah, di mana posisi kita semua sebagai umat Allah dalam situasi seperti ini? Masih terdengar dengan jelaskah panggilan sebagai “Tsadiqim” (Ibr. orang-orang benar) di telinga kita?

Semoga perubahan demi perubahan yang ada tidak menggerus iman kita sebagai “surat-surat Kristus yang terbuka” dan dibaca semua orang, sehingga semua orang terus dapat membaca Firman Allah melalui perilaku dan kesaksian komunitas umat Allah, kemudian tertarik mengenal Dia (lih. 2 Korintus 3:2-3). Semoga panggilan sebagai “garam” dan “terang” dunia juga masih tersimpan dengan baik di dalam relung hati setiap kita, sehingga kita berdiri teguh menerangi dunia serta memberi rasa  dan membawa shalom bagi lingkungan kita.

Di saat seperti ini, dunia butuh kepastian, butuh keadilan, butuh teman seperjalanan, butuh sesorang yang bisa dipercaya  dan yang memegang teguh nilai-nilai keadilan dan kebenaran.

Pertanyaan penting yang muncul berikutnya adalah: apakah yang dapat kita lakukan sebagai tsadiqim di tengah dunia yang berubah begitu cepat ini dan dari mana kita memulainya? Ada beberapa hal yang dapat menolong kita mempersiapkan diri menghadapi perubahan dan menjalankan panggilan.

Pertama, tsadiqim sebagai agen transformasi dituntut memiliki kepekaan sosial yang tajam. Dunia yang ada dalam krisis multidimensi ini sangat haus akan kehadiran orang-orang yang sungguh-sungguh mengerti masalah yang mereka hadapi dan yang tahu bagaimana menolong mereka menuju suatu pembaharuan yang dilandasi oleh keadilan dan kebenaran. Oleh karenanya, sebagaimana disampaikan oleh rasul Paulus, adalah penting untuk belajar tidak terburu-buru membuat kesimpulan dan belajar membaca arah zaman.

Kedua, perubahan lingkungan sejatinya dimulai dengan perubahan di dalam diri. Semua tokoh pembaharuan yang ada di Alkitab memberi pelajaran penting bagi kita bahwa sesungguhnya pembaharuan yang terjadi di masyarakat selalu diawali oleh pembaharuan yang terjadi di dalam diri Sang Tokoh. Untuk itu, seorang murid harus belajar untuk mengenali sisi gelap dalam dirinya dan kemudian waspada serta mampu untuk mengendalikan kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Ia juga harus sanggup bekerja sama dengan pihak lain dalam proses pembaharuan dan pengembangan.

Ketiga, perlu dicatat bahwa pembaharuan yang kita lakukan adalah pembaharuan yang dilandaskan oleh kasih karunia dan kuasa dari Allah. Tokoh-tokoh pembaharu di dalam Alkitab sendiri telah dipakai oleh Allah dengan begitu luar biasa oleh karena mereka terlebih dahulu telah menjadi hamba-hamba Allah dan hamba-hamba Firman. Kekuatan seorang pembaharu yang sebenarnya adalah dari Roh Kudus. Itu sebabnya, seorang pembaharu seharusnya juga adalah seorang yang berdoa!

Keempat, kita perlu mengingat, bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kebanyakan perubahan yang bertahan lama bahkan adalah perubahan yang dimulai dari membangun kebiasaan-kebiasaan (tradisi) yang tampak kecil atau sederhana.

Terakhir, kita perlu membangun kesadaran, bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan. Sesuatu yang pasti akan terus terjadi. Kita mungkin tidak bisa mencegahnya, namun kita masih dapat mengelolanya, mewarnainya, dan bahkan menginisiasinya. Jika bukan orang saleh yang melakukan, maka perubahan sangat mungkin dikendalikan orang yang salah. Biarkanlah bunga-bunga bertumbuh dan mekar mewangi di taman atau di padang. Biarkanlah angin menerpa dan menjatuhkan benihnya. Biarlah kupu-kupu turut menghisap sari madunya. Biarkanlah para tsadiqim betumbuh sesuai dengan keunikan dan panggilannya. Biarkanlah perubahan membentuknya makin dewasa. Biarlah orang sekitarnya memuji Allah karena kehadirannya. Soli Deo Gloria.

____________

Penulis adalah Staf BPC Perkantas Jawa Barat

Exit mobile version