Philip Ayus:
Sodom dan Gomora

Kejahatan sesungguhnya: mengambil-alih peran Allah
Apa yang terjadi pada penduduk Sodom dan Gomora merupakan konsekuensi dan pengulangan dari pelanggaran Adam dan Hawa sewaktu di Taman Eden. Ketika menawarkan kedua anak gadisnya, Lot berkata kepada para penduduk yang dikuasai birahi itu, “… perbuatlah kepada mereka seperti yang kamu pandang baik…” (Kej. 19:8). Mereka mengikuti natur dari dosa, yakni, sama seperti penawaran Iblis kepada Hawa, hasrat untuk menjadi sama seperti Allah: tahu apa yang baik dan yang jahat (lih. Kej. 3:5). Hanya saja, buah (ketidaktaatan) itu bukannya menjadikan manusia tahu, tetapi justru mendorongnya untuk mengambil-alih peran Allah: menentukan apa yang baik dan yang jahat.

Pada waktu SMP, saya pernah membolos bersama beberapa teman. Pada waktu itu, “strategi” membolos kami masih sederhana, yaitu tidak masuk sekolah dan pergi ke tempat lain. Ketika di bangku SMA, saya belajar “strategi” baru untuk meninggalkan pelajaran sepanjang hari secara resmi. Meskipun saya meninggalkan jam pelajaran secara resmi, pada dasarnya, yang saya lakukan di waktu SMP dan SMA adalah sama: membolos. Saya hanya menggantikan kata “membolos” dengan istilah lain.

Demikian pula halnya dengan berbagai tindakan dosa yang kemudian dipoles dengan istilah-istilah yang canggih, ilmiah, dan sebagainya, sehingga ia tak lagi bernuansa merah seperti kirmizi, melainkan putih seperti salju. Manusia ingin agar dosanya tampak putih seperti bulu domba, bukan merah seperti kain kesumba (lih. Yes. 1:18). Masalahnya adalah, mereka menginginkan itu semua terjadi di luar Tuhan. Dosa memang membuat kita “alergi” dengan segala sesuatu yang berbau ilahi. Karena itulah, maka segala sesuatu yang berpotensi menyingkapkan kejahatan dan dosa mereka pun dibuang ke tempat sampah—apalagi sasaran utamanya, jikalau bukan Tuhan dan firman-Nya?

Jadi, kisah Sodom-Gomora bukan hanya tentang perilaku homoseksual, tetapi lebih mendasar lagi, yakni mengenai pemberontakan terang-terangan terhadap Allah dengan mendefinisikan sendiri mengenai apa yang baik dan jahat. Moralitas dilenturkan, dan dosa didefinisikan ulang. Sebuah pilihan yang menimbulkan keluh kesah dari sekelilingnya dan kehancuran bagi mereka sendiri. Tak hanya itu, pilihan Lot untuk mendiamkan kejahatan di sekelilingnya selama bertahun-tahun itu juga turut andil dalam kebinasaan Sodom dan Gomora.

Tinggalkan Balasan

Satu pemikiran di “Sodom dan Gomora”

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini