Philip Ayus:
Sodom dan Gomora

Diamnya orang-orang baik
Berdasarkan linimasa yang dibuat oleh para ahli, Lot menginjakkan kakinya pertama kali di Sodom pada tahun 2085 SM, dan penghukuman TUHAN atas kota-kota itu terjadi pada tahun 2067 SM. Jadi, Lot dan keluarganya telah tinggal di Sodom selama kira-kira 18 tahun. Alkitab mengisahkan, bahwa sejak Lot tinggal sebagai orang asing di Sodom pun, orang-orang di sana sudah “sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN” (Kej. 13:13). Alkitab juga mengisahkan, bagaimana Abraham sempat melakukan tawar-menawar kepada TUHAN mengenai berapa “kuota minimal” orang baik di Sodom agar Dia tidak menghukumnya, dan bahwa disepakati bahwa jika didapati sepuluh saja orang baik di Sodom, maka TUHAN tidak akan menghukumnya (Kej. 18:23-33).

Barangkali Abraham berpikir, bahwa keberadaan Lot dan keluarganya di sana akan membantu menyelamatkan Sodom dan murka Allah. Delapan belas tahun bukan waktu yang singkat, dan Sodom-Gomora bukan wilayah yang kecil, sehingga mungkin saja ada sepuluh orang baik di sana. Namun kita semua tahu, bagaimana akhir dari kota-kota itu.

Edmund Burke, seorang negarawan Inggris yang hidup pada abad ke-18 pernah menyatakan, bahwa satu-satunya prasyarat yang membuat kejahatan berkuasa adalah diamnya orang-orang baik. Sayangnya, itulah yang terjadi pada Sodom dan Gomora. Bukan hanya tidak berhasil “memprovokasi” (setidaknya enam dari) tetangga-tetangganya untuk bertobat, Lot bahkan menyerah dengan standar baik-jahat lingkungannya. Akibatnya, ia harus kehilangan semua harta bendanya, dan bahkan isterinya. Kita tidak bisa menjaga kekudusan pribadi sekaligus mendiamkan kejahatan berlangsung sedemikian hebat di sekeliling kita. Sama seperti sebuah lilin tidak dapat menyala tanpa menerangi sekelilingnya.

Perkataan lain dari Burke dapat menjadi perenungan kita bersama sekaligus menutup tulisan ini:

“Those who don’t know history are doomed to repeat it.”

________
Penulis adalah Staf Divisi Media Perkantas

Leave a Reply

One thought on “Sodom dan Gomora”