Ir. Lukas Tersono Adi:
Transformasi Masyarakat di Bidang Kewirausahaan

Pemberdayaan Keluarga

Program pemberdayaan masyarakat mengandung makna potensi masyarakat yang sudah diketahui dan dapat diukur, masih mau dan mampu ditingkatkan lagi untuk mencapai hasil optimal yang dapat diukur angka keberhasilannya. Maka untuk memulai program ini sudah harus disiapkan data kemampuan dan potensi masyarakat setempat sampai ke tingkat komponen masyarakat terkecil yaitu keluarga-keluarga. Pemberdayaan masyarakat berarti pemberdayaan keluarga.

Survai keluarga harus mencerminkan kemampuan sendiri atau mandiri dibidang tertentu yang memberikan kemampuan untuk menghidupi diri sendiri dan sesamanya, minimal untuk bertahan hidup dan mengaktualisasi diri. Memunculkan potensi baru untuk dikembangkan menjadi usaha baru, dilakukan terus menerus menjadi habit/kebiasaan dalam keseharian, akan menolong menemukan cor usaha keluarga. Teknik internalisasi jiwa entrepreneurship perlu disengaja untuk dilakukan setiap hari sebagai gaya hidup (life style).

Sebagai contoh: mengumpulkan ide usaha, ide kreatif, dan menyusun dalam setiap kesempatan keluarga berkumpul. Selanjutnya dalam kesempatan lain, mengkonkritkan ide yang sudah dipilih bersama untuk ditindaklanjuti dalam bentuk usaha kecil-kecilan (small bisnis). Lalu dilakukan evaluasi terhadap langkah-langkah yang sudah diambil untuk disempurnakan sampai mencapai hasil yang paling optimal.

Dalam kesempatan lain perlu difasilitasi adanya kelompok-kelompok kecil usahawan/wati baru yang belum berpengalaman untuk mengekspresikan ide usaha semakin disempurnakan, melalui berbagi pengalaman dari pengusaha yang telah berpengalaman. Alangkah efektifnya kelompok kecil ini dapat mengakomodir tiap individu menghasilkan jenis usaha kreatif baru dikemudian hari.

Langkah-langkah kecil calon pengusaha baru dengan metode sel group akan mudah diawasi dibimbing, dan diperbaiki. Dalam hal ini bukan mandat modal tapi yang ditekankan adalah habit berusaha dengan aneka macam cara yang kreatif, sampai menemukan style nya, seperti produknya yang diinginkan konsumen seperti apa, promosinya bagaimana, cara bertransaksinya bagaimana, after sales service nya bagaimana, dsb.

Prediksi Pak Ciputra tentang pencapaian kesejahteraan masyarakat adalah, bila ada 4% entrepreneurs di Indonesia atau sekitar 14 juta wirausaha (sekarang baru ada 400.000 wirausaha, jadi masih kurang dari 1% wirausaha). Dapat dibayangkan penduduk Indonesia 250 juta jiwa dengan jumlah pengusaha yang sedikit dan mungkin terkonsentrasi di pulau Jawa saja, apalah jadinya. Daerah tertinggal di luar pulau Jawa masih bergelut dengan kemiskinan, kebodohan, kesehatan yang rendah, gizi rendah. Penggerak ekonomi daerah harus dikerjakan oleh putra putri daerah melalui kewirausahaan. Mereka dilatih untuk jeli mengangkat potensi daerah menjadi bernilai di tingkat nasional, sumber daya alam, wisata, budaya pengobatan tradisional, industri kerajinan, industri berat jika ada, dan lainnya yang bisa ditampilkan. Belum lagi industri jasa dan industri kreatif oleh tangan muda kreatif mengemas dalam bentuk aneka ragam produk unik yang disukai umum. Harus ada peran pendampingan dari daerah maju dengan daerah tertinggal (sister village).

Tak pelak lagi siapa pun yang menekuni dunia usaha, dengan tangan terbuka siap diminta menggandeng pengusaha muda daerah tertinggal agar setelah maju mereka akan menggandeng daerah tertinggal lainnya, demikian seterusnya hingga secara nasional kebutuhan pengusaha dapat tercapai dan kesejahteraan nasional pun ikut tercapai. Lapangan kerja terbuka dimana-mana, pendapatan per kapita meningkat.

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini