Dr. Jhon A. Titaley:
Semua Pendatang di Indonesia

            Dr. Jhon A. Titaley, Ketua Program Pascasarjana Agama dan Masyarakat sejak 1991 hingga sekarang dan mengajar Bidang Studi Sosiologi Gereja-gereja di Indonesia dan Teori Sosial di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Lulusan fakultas Teologia, UKSW ini semasa mahasiswa ernah menjadi ketua Dewan majasiswa dan Pembantu Rektor III. Kemudian ia melanjutkan studi ke Graduate Theological Union (GTU) Berkeley – Amerika Serikat.

            Anak ketiga dari lima bersaudara ini dilahirkan 44 tahun lalu (tepatnya 9 Juni 1950) di kota ‘minyak’ Sorong. Kemudian ia menikah (1981) dengan wanita asli Madura Ida Imam. Kini mereka dikaruniai seorang putri dan putra.

            Walaupun sering mengikuti dan menjadi pembicaraan di berbagai seminar, antara lain: ‘100 tahun Parlemen Agama-agama Sedunia dan Kongres Nasional I Agama-Agama Di Indonesia – Yogyakarta’ dan Gerakan Keesaaan Kristen di Indonesia (GKMI), Jhon A. Titaley hidup sederhana. Ia, sehari-harinya mengayuh sepeda dari rumah ke tempat ‘pengabdian’, UKSW. Selain itu, ia sangat akrab dengan parah mahasiswa.

            Di tengah kesibukannya, Jhon A. Titaley bersedia dtemui DIA di kantornya, USKW. Hari itu khusus disediakan bagi Majalah DIA. Apa pendapatnya tentang nasionalitas? Mengapa kita harus memiliki nasionalitas? Bagaimana nasionalitas para tokih yang beragama Kisten sebelum dan sesudah kemerdekaan? Mengapa mereka turut berjuang dan terihat dalam pembangunan bangsa dan Negara Indonesia? Apakah benar umat Kristen sekarang nasionalitasnya ‘menepis’? konsep teologis apa yang harus dimiliki umat Kristen dalam keterlibatannya di masyarakat dan Negara?

            Silahkan And baca wawancara di bawah ini.

Ketika  zaman penjajahan, awal kemerdekaan dan Orde Baru kita masih dapat menyebutkan nama-nama orang yang beragama Kristen yang terlibat dalam kancah pemerintahan. Sekarang ini sukar menyebutkan nama dan buktinya. Mengapa, Pak?

Keterlibatan orang Kristen dulu banyak didukung, pertama, factor pendidikan. Pada zaman penjajahan, orang Kristen yang berpendidikan lebih banyak dibandingkan lainnya. Dan, ketika merdeka dan Negara Indonesia terbentuk, yang siap mengisi dan menjalankan program pembangunan pemerintah adalah mereka. Apalagi system pemerintahan yang dibentuk adalah moder, yaitu dijalankan dengan system yang sangat berbeda dari sebelumnya. Factor pendidikan tersebut mempersiapkan mereka menjalankan roda pemerintahan.

Kedua, J. Leimena. W. J. Rumambi, Basoeki Probowinoto, A. Mangara Tambunan melihat kemerdekaan Indonesia itu sebagai Anugrah Allah. Apalagi gerakan kebangsaan dan kemerdekaan sedang melanda semua orang, termasuk kaum intelektual kristiani. Agama yang mereka anut pun tidak terlepas dari nasionalis. Mengapa? Mereka berada dalam perjuangan konkret. Kemerdekaan adalah suatu kebutuhan. Nah, ketikia itulah, mereka mencoba membangkitkan hubungan kemerdekaan dan agama.

Untuk uman Kristiani, pada waktu itu, tidak hanya menekankan keselamatan jiwa atau sprititual. Ketika dijajah Belanda, jiwa mereka sudah diselamatkan, tetapi secara dirisk belum. Pertanyaannya yang timbul adalah; bukankah keselamatan yang Allah janjikan? Ya! Bila dikatakan sudah diselamatkan, kenyataannya masih dijajah. Apalagi yang dijajah sebangsa dengan si pembawa Injil. Keselamat apa itu? Apakah ungkapan itu hanya sebatas mulut? Apalagi kata kemerdekaan, kasih, dan keadilan kesejahteraan, kedamaian dan sebagainya adalah kata-kata yang acapkali diucapkan dalam kekristenan.

Melalui pergumulan dan pemikiran dewasalah, mereka sampai pada sikap dan tindakan yang benar. Mungkin dalam pergumulannya, mereka mempertanyakan bentuk keselamatan. Mereka ketika itu tidak melihat relevansi dari apa yang disuarakan kekristenan. Merekalah yang menggumukan relevasi iman dan kemerdekaan, lalu menemukan bahwa iman mereka tidak boleh berhenti disitu, tapi harus berjuang mencapai kemerdekaan, mereka merasa telah diselamatkan. Atas dasar itulah mereka melihat bahwa injil itu tidak terlepas dari realitas seluruh aspek hidup, termasuk politik. Tanpa itu, kita selamat sebatas gedung gereja. Itulah yang tidak dilihat oleh umat Kristen Indonesia sekarang.

 

Kalau para pejuang dan pengisi kemerdekaan seperti J. Leimena, A. Mangara Tambunan Rumambi, Basoeki Probowinto, T.B. Simatupang dan lain-lain dapat menerapkan iman mereka ke dalam kehidupan bernegara, mengapa umat Kristen sekarang tidak? Seperti ‘benang merahnya’ terputus. Mungkinkah Bapak dapat menjelaskan dimana permasalahannya?

Dasar teologis yang sudah mulai dibangun, kemudian mati. Bayangkan benih yang sudah mulai tumbuh, tapi tidak disirami pekerja penerusnya. Apa yang terjadi? Pasti mati!

Ketika saya diundang berbicara dalam seminar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GKMI), saya mengusulkan adanya Gereja Kristen yang Esa di Indonesia (GKEI). Ini sesuai dengan yang dipikirkan para pendiri PGI tahun 50-an. Jika dibentuk, maka dasar teologis keterlibatan gereja-gereja dalam masyarakat majemuk, menjadi tokoh.

Bila umat Kristen dulu mendasarkan tindakan nasionalitasnya pada dorongan agama, mengapa sekarang banyak orang yang secara agama, tapi tindakan konkretnya kurang di masyarakat?

Itu bertanda bahwa kekristenan kita masih terperangkap dalam tembok-tembok gereja. Belum aplikatif. Agama sebatas liturgis. Kalau Kekristenan hanya sebatas dinding gereja, jangan haran bila kelak kekeristenan tidak dibutuhkan.

Pendidikan, kesadaran beragama dan berbangsa merupakan faktor yang sangat mendukung keterlibatan kita di masyarakat. Keterlibatan akan mendasar bila secara teologis kita mempunyai dasar yang jelas. Pertanyaan yang harus kita jawab adalah ‘apakah perwujudan konkret kekristenan kita sudah di-Indonesia-kan?’ kalau masih terpisah, jangan berharap orang Kristen masuk dan peduli terhadap permasalahan nasional. Perwujudan itu harus dimulai dari pandangan teologis dan pendidikan.

Jika pertanyaan Bapak ‘apakah perujudan konkret kekristenan kita sudah di-Indonesia-kan’ tidak menjawab, kemungkinan apa yang terjadi?

Umat Kristen tidak akan pernah melihat maksud Tuhan terhadap penempatan di Indonesa. Dan, secara birokasi Negara ini akan didominasi golongan tertentu. Itu kan power. Bila seperti itu, umat Kristen jangan mengeluh dan menyesalinya! Itu kesalahan kita.

Apa yang harus kita lakukan? Mau menghantam secara parsial? Salah! Dalam seminar, saya sering manantang gereja-gereja untuk berpikir dan bertindak konkret. Karna itu mari kita jawab ‘apa itu Indonesia secara teologis’?

Saya melihat bahwa manusia di Indonesia, juga bagian dari manusia di dunia, ada dalam rencana penyelamatan Allah. Gereja yang ditempatkan-Nya di ibu pertiwi ini seharusnya meneruskan rencana tersebut. Ada pembantu dianiyaya, atau buruh diperas misalanya, hendaknya umat Kristen ‘berteriak’. Bukan sekedarr meneriakkan ‘kamu berdosa!’

Mengapa kita tidak belajar dari pendahulu?

Karena kita masih mempunyai sikap bahwa yang namanya kekristenan dan teologia itu dari Barat. Sampai sekarang masih begitu. Padahal para tokoh umat Kristen dulu sudah melihat kekristenan bukan dari Barat, tapi berangkat dari realitas. Padahal identitasnya sudah mulai dibangun. Namun dari generasi ke generasi tidak ditangkap atau tidak diteruskan. Itulah salah satu penyebab mengapa kita masih berorientasi ke Barat. Buktinya? Lihat saja buku-buku reverensi yang digunakan STT, masih diimport.

Bila kita ingin berubah, maka perubahan itu harus dimulai dari pandangan teologia. Dulu para tokoh Kristen yang ada bukan dari kalangan teologia, tapi dari umum. Sekarang ini kita mempunyai banyak doctor teologia, tapi apa yang terjadi? Generasi pemimpin gereja tidak mencoba menggumulkan bagaimana menerapkan Injil di Negara plural Indonesia. Mereka terus mempraktekkan Injil seperti di Negara Barat atau sibuk dengan urusan masing-masing. Padaha Indonesia sebagai bangsa yang harus diisi.

Kalau sekarang ini tidak ada orang Kristen yang berjiwa nasionalis, apakah itu juga berarti kesalahan para pendahulu?

Bisa! Tapi kesalahan itu dasarnya dari pemahaman teologis, Injil belum dibumi-Indonesiakan.

Apakah itu berarti Bapa menginginkan adanya quo vadis Kristen?

Tidak! Tapi mempertanyakan dan menginginkan perumusan kembali ‘menjadi umat Kristen yang ditempatkan Allah di bumi pertiwi ini’.

 

Yang mulai siapa, Pak?

Itulah yang harus kita jawab. Apakah realitas Indonesia ini realitas teologis atau tidak. Maksudnya, bagaimana pertanggungjawaban kita terhadap realitas masyarakat. Apa tindakan kita bila ada masyarakat kecil dikuasi dan diperas orang lain? Apakah kita sudah memperlakukan orang lain secara manusiawi?

Indonesia sudah merdeka 49 tahun. Apakah Negara kita sudah menggunakan Sumber Daya Alamnya (SDA) untuk kesejahteraan dan kemakmuran ‘masyarakat’? bukankah realitas masyarakat yang diberkati adalah kemakmuran? Bila belum, maka pertanyaan lebih lanjur yang harus umat kristiani jawab adalah ‘apakah panggilan dan pekerjaan Tuhan, yaitu membawa damai, kesejahteraan keadilan dan kebenaran sudah kita lakukan?’ dari jawaban pertanyaan itulah kita berteologia.

Jawaban itu harus mendorong umat kristiani untuk terlibat dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga secara harkat dan martabat, manusia Indonesia terangkat dan makin lama makin baik. Kalau bertindak demikian, itu bukan sekedar warga Negara Indonesia, tapi juga telah bersaksi tentang iman kita. Itulah sesungguhnya panggilan orang beriman. Bila ada orang yang dianiyaya lalu kita atau gereja tutup mata, itu berarti kita belum mengerti panggilan orang Kristen.

 

Sekarang ini nasionalitas orang Cina di Indonesia juga diusik. Apakah Bapak melihat dasar permasalahannya?

Itu karena kesalahan kita. Selama ini kita mendiskriminasikan Cina dari suku lain. Dengan mengeluarkan ‘ras’ Cina, kitalah pemilik Negara ini. Membicarakan perjuangan nasional, acapkali kita melepaskan perjuangan orang-orang Cina. Mereka hanya ‘penumpang’, bukan peserta.

Padahal sebelum tahun 1945 tidak ada yang namanya Indonesia. Artinya, sebelum Indonesia terbentuk dan mereka, semua adalah pendatang, termasuk Ambon, Batak, Jawa, Cina dan sebagainya. Kemerdekaan Indonesia sebagai bangsa dan Negara baru ada setelah kemerdekaan. Kemerdekaan dan pembentukan Negara ini diperjuangkan semua suku – termasuk orang-orang Cina-, agama dan budaya dari Sabang hingga Marauke. Konsep ini sebaiknya ada di benak semua orang, dengan demikian orang Cina bisa berbaur.

Bila itu tampak dalam kehidupan sehari-hari, maka tidak ada lagi gugat menggugat jiwa nasionalis. Suku lain akan menganggap cina sama dan sederajat dengan dirinya. Sebaliknya, orang Cina pun akan melihat suku Ambon, Irian dan sebagainya sama dengan dirinya. Tidak ada suku di Indonesia ini yang lebih rendah dari suku lain. Bila sikap kita seperti itu, tidak mungkin akan ada yang berkata, “Orang Cina bukan bagian dari Indonesia”. Dan, tidak mungkinada satu suku atau agama di Indonesia ini yang berani ngatakan ‘negara ini dimerdekakan dan di bentuk semata-mata olehnya.

Dua bulan lalu ada isu ‘gayangan’ Cina. Mengapa itu terjadi?

Isu itu muncul karena kita membuat mereka berada diluar bangsa Indonesia. Permasalahannya disitu! Untuk mengatasinya, salah satu adalah, kita mengubah konsep berpikir tentang kepemilikan kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, mungkin karena kecemburuan sosial ekonomi. Ini pun terjadi karena kita menempatkan mereka bukan sebagai bagian Indonesia. Sehingga melihat kekuatan sosial ekonomi sebagai monopoli, bahkan cenderung ‘menjajah. Karena itu konsep berbangsa kita harus ubah!

Perubahan dan pembauran Cina dan non Cina ini hendaknya diprakarsai gereja. Sehingga keterlibatan gereja tampak di masyarakat dan pemerintah. Gereja disini adalah kita semua, bukan hanya teolog.

Tapi gereja sekarang ‘kan sedang repot mengurus diri sendiri masing-masing?

Itu memang sangat disayangkan. Namun selain itu kan kita mempunyai Sekolah Tinggi Teologia (STT). Disinilah kita mulai. Kami (Jhon Titaley adalah salah satu pengurus dari pembuatan standart kurikulum STT di Indonesia) sudah melihat itu dan sedang disusun agar STT yang ada menyempurnakan kurikulumnya.

Selain itu, perguruan tinggi yang bernaung di bawah Yayasan Kristen harus menyadari panggilannya. Bila STT menyiapkan pembawa firman, maka perguruan tinggi nonteologia menyiapkan pengurus gereja. Karena itu baik mahasiswa sekolah teologia dan non teologia harus dibina dan dipersiapkan sedini mungkin. Sehingga kelak menjadi pemimpin-pemimpin gereja dan masyarakat yang mau dan terpanggil.

Apakah kekurangan kepedulian umat Kristen terhadap Indonesia ini karena anggapan bahwa kita menempatkan Indonesia ‘di luar’ dari diri umat Kristen?

Itu karena hanya melihat keselamatan itu sebatas jiwa, spiritual. Konsep itu yang harus diubah. Max Weber menyebutkan sebagai inner worldly asceticism kepada dunia. Karena itu pandangan teologi itu harus diubah. Sehingga keterlibatan kita memasyarakat.

Siapa yang pertama kali mengubahnya?

Para teolog.

Tapi para teolog sedang sibuk…..?

Sekarang ini sudah mulai dicoba kearah itu

Bila diarahkan ke situ, ada orang berpendapat bahwa itu liberal, Pak?

Apa yang dimaksud dengan liberal dan fundamental? Mungkin yang saya katakana inilah yang fundamental.

Bila terjadi permasalahan di Indonesia yang membuat umat Kristen terjepit dan diperhadapkan pada pilihan pindah warga Negara, apa yang harus diperbuat?

Bila kita mengamati sejarah kelahiran bangsa Indonesia. Memang benar kita ingin merdeka sebagai bangsa. Semua disini bukan hanya dari masyarakat agama dan suku tertentu. Semua suku dan agama dari Sabang sampai Marauke turut merindukan kemerdekaan. Masyarakat yang berlatang belakang suku, budaya, dan agama inilah yang disebut dengan bangsa Indonesia. Karena itulah, bangsa Indonesia berjuang mencapai kemerdekaan. Masalah pengkotak-kotakann baru muncul pada akhir-akhir ini.

Kemerdekaan yang adil dan makmur merupakan konsensus kebersamaan pencapaian kemerdekaan Indonesia. Bila konsensus itu masih tetap sebagai cita-cita bangsa Indonesia ini ‘kan dibentuk dari banyak latar belakang suku dan agama. Suku Minang, Batak, Aceh, Jawa, Ambon, Manado, cina dan sebagainya yang ada dari Sabang sampai Marauke mempunyai andil dan derajat yang sama dalam memerdekakan Negara ini. Konsensus inilah yang seharusnya diperhatikan masyarakat Indonesia.

Jika konsensus kemerdekaan kita berubah, apa yang harus kita lakukan?

Kalau dalam perjalanan Negara ini ternyata konsensus dilanggar, kita harus berusaha memperjuangkan konsensus yang telah disepakati 49 tahun lalu. Kalau berhasil bagus! Bila sebaliknya, bisa saja pindah atau bubarkan Indonesia! Ukuran dari pembubaran Indonesia adalah kalau melanggar kon-sensus. Kalau orang mau pindah boleh kita capai tidak lagi menjadi dasar pembangunan yang hendak dicapai.

Selain itu, kita juga melihat ‘apa peranan orang Kristen dalam memelihara dan melaksanakan consensus yang telah disepakati’. Karena peran kita dalam melaksanakan konsensus tersebut sangat penting.

Sekarang ini ada golongan tertentu yang mencoba mengarahkan orang untuk berpikir bahwa kemerdekaan Indonesia itu diperjuangkan hanya golongan tertentu. Bagaimana menurut Bapak?

Itu tidak mungkin! Sebaiknya jangan mencoba! Kalau sampai terjadi sebaiknya Indonesia lebih dulu dibubarkan! Itu berarti tragedy Bosnia!

Setiap pulau di Indonesia memiliki beragam agama, suku dan bahasa. Bila perpecahan secara agama terjadi mungkinkah masing-masing pulau bersatu mendirikan Negara tertentu? Atau bubar seperti apa yang Bapa maksud?

Kalau seperti pernyataan Anda itu terjadi maka Indonesia pecah. Mungkin bukan menjadi Indonesia lagi. Ganti nama. Saran saya, sabaiknya hal itu jangan dicoba-coba! Fatal nanti akibatnya! Mari kita kembali dan berjalan pada konsensus yang sudah disepakati 49 tahun lalu.

Banyak peristiwa terjadi, tapi masyarakat bungkam seribu bahasa. Lalu apa yang harus dilakukan?

Masyarakat bukan tidak bisa bertindak, tapi tidak mau bertindak. Itu terjadi karena pengertian dan pemahaman kita belum sampai pada tindakan konkrit. Kekristenan kita masih if you believe in Jesus Christ, you are saved. Disitu kesalahannya.

Bukan akrena takut, Pak?

Bukan…! Itu terjadi karena kita belum mempunyai dasar teologis yang jelas.

Dalam seluruh dokumen aliran kekristenan di Indonesia, konsep keterlibatan umat Kristen dalam Negara tidak ada. Dalam Lima Dokumen Keesaan Gereja PGI pun tidak disinggung. Karena itu dalam seminar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GKMI), 31 Mai 1994 lalu saya membukakan ‘apakah Indonesia itu secara teologis?’. Pertanyaan ini belum pernah ada!

Dalam era globalisasi dan teknologi ini orang dapat berpindah warganegara dari satu tempat ke tempat lain tanpa berubah hari. Orang yang memiliki peluang besar untuk berpindah tempat adalah mahasiswa dan alumni, termasuk yang beragam Kristen. Hal-hal apa yang harus dipertimbangkan jika ingin berpindah warganegara?

Kembali tanyakan pada diri sendiri ‘makna apa yang hendak diisinya dalam perjalanan pada kedamaian, kemakmuran, kemajuan hidup dan sebagainya.. silahkan! Dimanapun berada, kita harus melihat tujuan hidup kita disitu. Saya 4 tahun tinggal di Negara paman Sam, tapi saya kembali ke sini.

Kita tidak bisa memisahkan agama dari nasionalitas. Itu harus kita terima sebagai komitmen. Jangan piker ketika merdeka Indonesia sudah ‘menjadi’. Maksudnya, Indonesia hanya dibentuk oleh sekelompok orang. Tidak bisa! Indonesia terbentuk dari kerinduan semua agama dan suku, akrena itu harus diisi pula oleh semua orang.

Bila ada kemungkinan pindah ke Negara lain, apa yang harus dipertimbangkan?

‘Apakah kita sudah menjadi saksi Kristus di mana kita berada’. Pertanyaan inilah harus kita jawab terlebih dahulu. Saya melihat bahwa panggilan umat Kristenn di Indonesia adalah meneruskan pekerjaan Allah yang sudah dimulai. Kalau itu menjadi tantangan, belum tentu kita mau pindah ke tempat yang lebih baik.

Hal lain adalah, apa tujuan hidup kita. Makna apa yang hendak kita ‘lakoni’ selama hidup. Panggilan saya dalam kebersamaan masyarakat adalah perdamaian, keadilan, pemerataan dan sebagainya. Dengan itulah saya member makna hidup ini. Melalui itu, menurut saya, kita dapat menghadirkan kemanusiaan yang utuh, manusia yang manusiwi. Itu juga kita lihat dalam kehidupan-Nya ketika hidup di dunia. Kalau manusia sudah dimanusiawikan, maka dunia ini akan adil, makmur dan sejahtera.

Bagaimana sebaiknya umat Kristen menerapkan jiwa nasionlisnya dalam masyarakat majemuk?

Dengan merumuskan dasar ketertiban umat Kristen di tengah masyarakat majemuk Indonesia. Sebab dulu belum terbentuk seperti Indonesia sekarang ini. Yang ada adalah daerah jajahan Belanda. Setelah merdekalah, Indonesia terbentuk. Kalau pemerintah kita masih memperlakukan rakyat seperti masa penjajahan, misalnya, maka setiap warga Negara wajib memperingatinya.

Jika melihat perkembangan zaman yang membuat kota semakin seperti ‘kampung besar’, apakah di era globalisasi dan teknologi ini masih dibutuhkan nasionalitas?

Globalisasi bukan berarti bebas nilai dan bisa menghilangkan nasionalitas. Bila itu terjadi maka globalisasi membahayakan. Globalisasi dan teknologi juga tidak terlepas dari economic interest. Melalui ekonomi dan teknologi, sebagai model baru, penjajahan dapat terulang. Dulu, dengan perkembangan pengetahuan teknolohi yang cukup sederhana, Negara lain mampu menguasai hasil bumi Indonesia. Apalagi sekarang ini. Karena itu kita harus ‘siuman’, kritis dan belajar dari sejarah.

Penjajahan sekarang ini bukan seperti dulu, secara fisik. Yang paling berbahaya adalah kita dijajah secara ekonimi misalnya, tapi kita tidak tahu bahwa kita sedang dijajah. Paabrik sepatu didirikan perusahaan asing di Indonesia, misalnya. Bahan mentahnya semua berasal dari bumi Indonesia, termasuk pekerjanya. Bahan mentaj dan buruh tersebut dibayar murah. Sebelum dipasarkan, supaya terkenal, mahal dan cepat laku, sepatu tersebut diiklankan dilayar kaca selama semenit oleh Michael Jordan dengan bayaran jutaan dollar. Bandingkan! Upah Michael Jordan dengan buruh! Adilkah?

Nah, faham nasionalisme dibutuhkan Negara untuk meneriakkan bahwa kemanusiaan kita dengan mereka sama dan sederajat. Nasionalitas membuat kita ‘melek’, walaupun masyarakat sedang berlomba mencapai hidup mapan. Bila tidak diimbangi dengan nasionalisme, maka devide et impera bisa terjadi.

Apakah menipisnya sikap nasionalis di Negara bekembang lazim terjadi?

Menipis mungkin tidak. Permasalahannya adalah Negara berkembang berada dalam posisi tidak sebanding dengan Negara maju. Dalam Negara berkembang berganing power nya lemah. Sedangkan Negara maju sebaliknya kuat. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah menyadarkan Negara maju bahwa hidupnya tidak akan nyaman bila masih ada Negara terbelakang. Kemajuan mereka harus diimbangi upaya memajukan Negara berkembang. Bila tidak, maka Negara berkembang tersebut akan mendatanginya.

Alas an lainnya adalah kemajuan dan kemakmuran yang dicapai Negara maju ada kalanya karena mengeksploitasi bahan mentah dan mengekspor barang jadi ke Negara berkembang dengan perbandingan harga mencolok. Sehingga mau tidak mau, Negara maju tertera jelas dalam perjanjian perdamaian Indonesia dengan Belanda.

Oleh karena itulah masyarakat perlu jiwa nasionalis. Itu berfungsi untuk menyadarkan bahwa tanggungjawabnya besar terhadap sesame. Pemimpin dunia, misalnya, menghimbau supaya umat manusia memelihara bumi. Itu nasionalitas secara global. Kesadaran itu timbul karena mereka tidak bisa ‘lari’ ke planet lain. Dunia ini adalah kampong besar dan semua manusia yang harus dipelihara.

Sebagai seorang dosen, bagaimana Bapak menimbulakan jiwa nasionalis di kalangan mahasiswa?

Saya mulai dengan mengajarkan hakekat berbangsa dan bernegara. Indonesia adalah fenomena baru. Konsensus kemerdekaan terjadi di Indonesia pada awal kemerdekaan. Melalui itu, secara konkrit, mahasiswa dapat melihat aturan-aturan dan teori social yang dianalisis dalam masyarakat Indonesia. Tidak seperti selama ini. Indonesia, sebelum konsensus kemerdekaan diajarkan seakan telah ada.

Bagaimana reaksi dan tindakan mahasiswa terhadap ajaran Bapak tersebut?

Ya. Mentalitas berteologia mereka berubah. Selain itu, ada tindakan maujud dalam kehidupan ini (ini Red. DIA buktikan dengan baca di whiteboard mahasiswa: “surat kepada Pemerintah menganai masalah kericuhan di tubuh HKBP” dari beberapa mahasiswa yang menandatangani).

Saran bagi pembaca DIA, Pak?

Kita hidup dalam satu Negara berarti, mau tidak mau, harus diatur Negara. Kita harus berjalan di sebelah kiri, contohnya. Itu peraturan Negara. Bila kamu berjalan di sebelah kanan, maka yang menghukum Negara. Tindakan kita sudah diatur oleh Negara.

Supaya aturan Negara sesuai dengan kebutuhan masyarakat, maka kita harus peduli terhadapnya. Bila ada aturan yang tidak sesuai kita wajib memperingatkan. Bila kita peduli terhadap Negara, berarti kita juga sedang melindungi kemanusiaan kita. Benar kan?

 

 **Majalah DIA, Edisi 4/1994

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini