Ellys Z Manalu:
Untuk Ayah…

Melihat seorang anak perempuan sedang menuntun ayah yang sudah renta, membawa ingatan kepadamu, Ayah. Tiba-tiba, aku merasakan rindu yang teramat sangat kepadamu. Tak dapat menahan, air mata pun bergulir di pipi. “Ayah….”

Sejenak, aku hanyut dalam sedih, hingga tatapan heran orang-orang di sekitar membangunkan sadarku. Lekas-lekas kuseret langkah meninggalkan tatapan heran itu. “Ayah, aku sedih….”

Ayah, andai aku bisa mengembalikan waktu, ingin rasanya ada di masa itu lagi. Masa yang dulu kita nikmati bersama. Bercengkrama sembari mendengar engkau bercerita dari Pi Ramli, aktor idolamu asal negeri jiran Malaysia, hingga kisah kemerdekaan negeri kita Indonesia. Mendengarkan engkau kembali menyanyikan “Cikecik-Kecik Kepong,” lagu yang kerap kau dendangkan sebagai penghantar tidurku kala aku kecil dulu. Menikmati pembelaanmu tatkala ada yang menjahiliku. Merasakan sabetan sapu lidi di kaki sebagai hukuman atas ketidakpatuhanku kepadamu. “Ayah, kini semua terasa indah….”

Tak hanya itu, Ayah. Aku juga ingin merasakan kembali bermain dan menari bersamamu. Merasakan kembali kobaran semangatmu saat bertutur perjuangan para pahlawan. Kembali merasakan amarahmu yang menurutku masih tersisa kepada para penjajah negeri. Semua itu berkali kita lakukan hingga larut menyapa. Seperti biasa, aku sering kalah melawan kantuk dan tak mampu menahan mata agar terus terjaga hingga akhir cerita. “Ayah, aku rindu….”

Yaaahh Ayah, semua itu hanya sebatas ingin dan tak mungkin terulang. Sebab Ayah sudah tak lagi di sini, tapi di sana, di surga yang indah. Dan Ayah, betapa singkat waktu yang kita punya untuk hidup bersama. Namun sekalipun demikian, aku bersyukur kepada Tuhan karena pernah memberikan aku seorang Ayah yang hebat.

Ayah, waktu tak akan mampu menghapusmu tetapi akan selalu ada…dan tetap ada….

_____________________
*penulis adalah staf Literatur Perkantas

Berikan tanggapan