Philip Ayus:
Khianat

“Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?”

Amsal 20:6

Dunia perpolitikan Indonesia akhir-akhir ini mendadak riuh dengan satu kata: “khianat”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut berarti: “perbuatan tidak setia; perbuatan yang bertentangan dengan janji.”

Keriuhan itu sendiri dimulai ketika salah satu partai mengumumkan pasangan kandidat calon presiden dan wakil presiden yang membuat kader hingga pembina partai lain meradang, karena kandidat calon wakil presiden yang dideklarasikan berbeda dari apa yang selama ini mereka yakini sudah menjadi kesepakatan bersama. Ketua partai ketiga yang justru kemudian dideklarasikan sebagai calon wakil presiden. Padahal, musim kampanya sudah berjalan, dan alat-alat peraga kampanye, seperti baliho, stiker, atau kaos bergambar pasangan kandidat calon presiden dari partai pertama dan calon wakil presiden dari partai kedua sudah terlanjur dicetak, dipajang, serta dibagi-bagikan.

Ketua dewan pembina partai kedua pun merasa “kena prank” oleh partai pertama, menyebut mereka sebagai “musang berbulu domba.” Para petinggi partai kedua yang lainnya mengunggah foto sebuah surat dengan tulisan tangan dari kandidat calon presiden yang secara gamblang menyebut nama ketua umum partai kedua dan memintanya untuk menjadi pendamping dalam pemilihan presiden, alias sebagai calon wakil presiden.

Namun demikian, nasi sudah menjadi bubur. Dalam hitungan hari, pasangan kandidat calon presiden dari partai pertama dan calon wakil presiden dari partai ketiga pun diresmikan. Mimpi partai kedua untuk mengusung ketua mereka sebagai kandidat calon wakil presiden pun harus dikubur.

Belum reda keriuhan akibat insiden khianat yang pertama, muncul lagi “tragedi pengkhianatan” yang menimbulkan goncangan besar di kapal petahana. Keluarga presiden, yang notabene diusung oleh partai petahana, membuat manuver politik yang tak lazim. Pertama, anak bungsu presiden dilantik sebagai ketua umum salah satu partai yang berkali-kali menyatakan dukungan kepada orang nomor satu di republik itu, hanya beberapa hari setelah bergabung sebagai anggota.

Tak lama setelah itu, kakaknya yang baru 2,5 tahun dilantik sebagai walikota—lagi-lagi dengan dukungan penuh dari partai pendukung ayahnya—tiba-tiba maju sebagai calon wakil presiden dari rival sang ayah dalam dua pilpres sebelumnya. Namun, yang membuat gempar jagat politik (dan hukum) sebenarnya adalah karena sang kakak dimungkinkan ikut serta dalam pemilu berkat putusan Mahkamah Konstitusi mengenai persyaratan calon presiden dan wakil presiden, dimana sang ketua majelis hakim penguji (kebetulan) adalah pamannya sendiri.

Dan, apabila dirunut ke belakang, sang paman semestinya sudah usai masa jabatannya 2 tahun lalu, seandainya tak ada revisi UU tentang MK setahun sebelumnya, dimana masa pensiun para hakim diperpanjang, sehingga sang paman baru akan purnabakti tiga tahun lagi. Barangkali, sebagian akan menyebutnya sebagai teori konspirasi, namun faktanya, itulah yang terjadi.

Tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik

Salah satu adagium politik yang sering dikutip dalam berbagai diskursus adalah, bahwa tidak ada kawan dan lawan yang abadi di dalam politik, melainkan kepentingan. Dengan kata lain, jangan pernah mengharapkan kesetiaan dalam perpolitikan.

Dalam sebagian (besar) kasus, ungkapan di atas mungkin saja berlaku. Presiden kiwari pun, ketika memulai langkah politiknya dengan mencalonkan diri sebagai walikota mendapatkan dukungan partai agamis, yang kemudian menjadi oposisi ketika dia menjabat sebagai gubernur dan presiden. Begitu pula halnya dengan dua partai besar yang ketua umunya pernah bergandengan tangan dalam Pilpres 2009, namun “pecah kongsi” di pemilu-pemilu berikutnya.

Adagium tersebut juga memiliki sisi lain, yakni jangan pernah pula mengharapkan konflik antarpartai seabadi konflik antarsekolah dalam tawuran pelajar. Partai yang diberitakan media berkonflik dalam pertarungan nasional, sangat mungkin berkoalisi dalam percaturan politik daerah. Partai-partai yang tadinya berseberangan, bisa jadi berjalan beriringan ketika dipersatukan oleh kepentingan.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, kepentingan yang seperti apa?

Tentu kita sebagai rakyat republik ini mengharapkan, bahwa kepentingan yang mempersatukan para politisi dan partai politik adalah kepentingan yang agung dan mulia, yakni untuk membawa kesejahteraan serta kemajuan bagi seluruh warga negara. Tetapi tampaknya kita harus (sekali lagi) gigit jari apabila melihat sepak terjang serta manuver para politisi, yang cenderung memperjuangkan kepentingan pribadi serta kelompok masing-masing, yang ujungnya adalah akumulasi modal, baik sosial maupun ekonomi.

Setia sampai mati

Dalam kelimpahan hikmat Ilahi yang dikaruniakan kepadanya, penulis Amsal yang notabene berada di pusat kekuasaan dan menyaksikan berbagai rupa kepribadian manusia itu menyimpulkan, bahwa ada satu kualitas ilahi yang teramat sulit didapati, yakni kesetiaan. Ia mendapati begitu banyak orang yang mengaku sebagai orang baik, atau setidaknya, orang baik-baik, yang taat hukum dan tertib pajak. Akan tetapi, orang-orang baik itu ternyata dalam satu-dua titik pada garis hidupnya pernah mengambil jalan khianat, meski mungkin dengan maksud baik.

Salah satu kualitas ilahi yang hilang dalam diri manusia sejak kejatuhannya barangkali adalah kesanggupan untuk menjadi setia. Di Eden, Adam dan Hawa berlaku khianat dengan mengabaikan larangan untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Sejak saat itu, khianat demi khianat dilakoni oleh keturunan mereka. Kain membunuh Habel, Yakub menipu Ishak, Daud meniduri Batsyeba lalu membunuh Uria, suaminya, dan seterusnya.

Umat manusia seolah-olah ditakdirkan untuk menjalani kehidupan penuh khianat.

Namun di Golgota, Yesus Kristus menunjukkan teladan kesetiaan paripurna. Rasul Paulus menuliskan, bahwa Ia “taat sampai mati,” dimana kematian-Nya bukan kematian biasa, melainkan kematian “di kayu salib,” sebuah kematian yang paling kejam dan hina di wilayah jajahan kekaisaran Roma pada abad pertama. Yesus bukan hanya setia kepada panggilan-Nya, melainkan terlebih lagi, Ia setia kepada kita, umat yang dikasihiNya.

Dan berkat pengorbanan-Nya, semua orang yang percaya diberikan kuasa sebagai anak-anak Allah, sehingga dapat menjadi orang-orang yang setia oleh kuasa Roh-Nya. Itulah mengapa kepada jemaat di Smirna, dan kepada kita pula, Ia memerintahkan untuk mengikuti teladan-Nya:

“Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Wahyu 2:10

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *