0

Selfy Antasia:
Garudaku Terluka

Garuda Pancasila, akulah pendukungmu Patriot Proklamasi sedia berkorban untukmu Pancasila dasar negara Rakyat adil makmur sentosa Pribadi bangsaku:  Ayo maju-maju, ayo maju-maju, ayo maju-maju Syair di atas merupakan syair sebuah lagu yang digubah sangat indah sebagai sumbangsih seorang pemuda bernama Sudharnoto pada zaman kemerdekaan. Lagu ini dibuat sebagai “Mars Pancasila”,...

0

Pijar Kurniawan:
Pesan Pancasila untuk Garuda

Dear Garuda, Pernahkah Engkau menyimak belakangan ini, tidak sedikit orang Indonesia menggemakan kata-kata, “Saya Indonesia, Saya Pancasila”? Frasa pertama menunjukkan identitas mereka sebagai warga negara Indonesia, sedangkan frasa kedua mengasosiasikan diri mereka denganku, ideologi dasar negara Indonesia. Frasa kedua inilah yang menarik. Slogan ini menjadi tema di tahun 2017 yang...

0

Yulius Tandyanto:
Hegemoni

Kita selalu berdebat. Kita senantiasa berbeda pendapat. Ya, kita! “Kita” sebagai suatu terjemahan halus untuk mengaburkan perbedaan terselubung antara “kami” dan “mereka”. Sejatinya, penegasan “kami” sudah selalu mengandaikan keberadaan “mereka”. Dan pengandaian tersebut bukan terutama persoalan pembedaan bahasa. Mungkin, sama halnya ketika seseorang menyebut dirinya sebagai “aku” untuk menegaskan kehadiran...

0

Yulius Tandyanto:
Toleransi

Boleh jadi istilah toleransi itu ambigu sekaligus absolut. Ambigu, karena jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, kita kerap merasa gamang, mendua, ambivalen dengan batas-batas toleransi itu sendiri. Absolut, karena toleransilah yang memungkinkan Anda dan saya dapat hidup bersama-sama dengan segenap perbedaan serta konsekuensi-konsekuensi pilihan hidup kita masing-masing. Apalagi,...

0

Yulius Tandyanto:
Kacamata

Barangkali, Anda dan saya memang terlahir rabun. Kita tidak akan pernah melihat segala sesuatu di dunia ini dengan jelas apabila kita tidak menggunakan suatu “kacamata”. Maksud saya, kita sudah selalu memakai kacamata batin—sebut saja demikian—untuk memaknai setiap aktivitas kehidupan kita. Sebagai analogi, kacamata batin ini banyak sekali jenis dan warnanya....

0

Claudia Ayu Aditiarani Seniwati, S.Th.:
Radikal yang Sejati

Akhir-akhir ini, bangsa kita tengah dirisaukan dengan maraknya paham radikal yang dapat memecah-belah persatuan bangsa. Berbagai demonstrasi muncul hendak menuntut keadilan dengan mengatasnamakan golongan mayoritas. Padahal, belum tentu juga semua anggota golongan mayoritas bangsa ini setuju dengan tuntutan yang disuarakan. Paham radikal ditengarai melatarbelakangi berbagai aksi tersebut. Banyak orang menilai,...

0

Philip Ayus:
Rute Ilahi

Di sebuah negeri pada suatu masa, seorang pejabat tinggi di sana sangat dikenal karena kinerjanya yang tanpa cela. Oknum-oknum culas yang hendak menjatuhkannya pun mengakui, bahwa mencari-cari kesalahan yang akan menjatuhkannya akan seperti mencari rumput di tumpukan jerami. Sangat sulit, kalau tidak bisa dikatakan mustahil. Alhasil, karena kualitasnya mumpuni dan...

0

Yulius Tandyanto:
Politik

Barangkali, ada satu pandangan pokok Aristoteles yang masih relevan hingga kini. Dalam benak Aristoteles, politik itu tidak sekadar membutuhkan keterampilan khusus berpolitik sebagaimana seorang dokter berupaya mengobati tubuh pasiennya. Politik juga tidak sekadar mensyaratkan pengetahuan teori politik sebagaimana para teolog mengontemplasikan hal-hal yang ilahi. Namun lebih dari itu, politik terletak...

0

Yulius Tandyanto:
Negarawan

“Siapa pun yang rela untuk memimpin, haruslah diberikan upah baik itu dalam bentuk uang, kehormatan, atau hukuman jika ia menolaknya.” —Sokrates     B arangkali, ujaran Sokrates di atas sekiranya masih mampu menggelitik telinga para negarawan masa kini. Tergelitik bukan karena harta dan kehormatan yang lazim diganjarkan pada negarawan. Namun,...

0

Yulius Tandyanto:
Nurani

Barangkali kita mudah jatuh cinta dengan kebenaran. Apapun dilakukan demi kebenaran sampai-sampai kita rela membenci tetangga kita. Dan sialnya, agama dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk mensahkan perbuatan kita itu. Walhasil, agama dikerdilkan. Dari situasi itulah agama seolah-olah membenarkan umatnya untuk bersikap “amoral”. Mungkin keadaan seperti itu analog dengan apa yang...