Kategori Lesehan

Di zaman banjir informasi dan super sibuk, kita hampir-hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk berhenti sejenak dan menimbang apa yang terjadi di sekitar kita. Rubrik “Lesehan” dimunculkan khusus untuk mendampingi pembaca dalam mengulas realitas melalui pengamatan ringan namun mendalam akan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita.

Rubrik ini diasuh oleh Yulius Tandyanto, alumnus Pascasarjana STF Driyarkara, Jakarta.

0

Yulius Tandyanto:
Candu

„Die Religion […] ist das Opium des Volks,” tulis Karl Marx dalam kata pengantar buku Tentang Kritik atas Filsafat Hukum Hegel (1844). Dalam bahasa kita, potongan pernyataan Marx ini barangkali terdengar kontroversial, tetapi juga memikat: Agama adalah suatu candu bagi masyarakat. Pasalnya, bagi sebagian kita, agama adalah hal yang penting—jika...

1

Yulius Tandyanto:
Dorothy

Kematian sesungguhnya sangat dekat dengan kita. Begitu dekatnya, sehingga kita sering melupakan “sentuhan” personalnya. Kita cenderung berjarak dan merasionalkan kematian dengan logika: semua orang akan mati. Memang kita jadi bersikap objektif terhadap kematian. Namun, ada sesuatu yang hilang di situ: suatu rasa gamang yang sangat pribadi ketika berhadapan dengan kematian....

0

Yulius Tandyanto:
Moral

Alkisah pada suatu siang bolong tampak seorang paman dan keponakannya sedang menyusuri trotoar. Mereka tampak berhati-hati agar tidak terserempet pengendara sepeda motor yang jauh lebih lihai menyusuri trotoar. Persis di ujung trotoar itu terlihat baliho bertuliskan, “Ayo, jadikan kota ini kota bermoral!” Tak lama kemudian, bertanyalah sang keponakan, “Paman, moral...

0

Yulius Tandyanto:
Kata

Pada mulanya adalah kata. Dan kata itu tinggal bersama-sama kita. Syahdan, tak satu hal pun dapat diketahui oleh kita tanpa melalui kata. Barangkali kata hanya berkembang pada ras manusia—makhluk yang dikenal paling intelektual sampai saat ini. Hewan punya bahasanya sendiri, tetapi mereka tidak mampu menciptakan kata. Sebaliknya, hanya manusia yang...

0

Yulius Tandyanto:
Benci

Pada tahun 2015, pastor David Oyedepo mengkhotbahkan kebencian terhadap umat Islam demi memenangkan petahana Goodluck Jonathan dalam pemilihan presiden di Nigeria. Bahkan, seruan untuk membunuh umat Islam pun tak lagi mengusik hati nurani massa pengikut Oyedepo. Di Pakistan, Sabeen Mahmud (39) menjadi target golongan religius ekstrem sejak tahun 2013 karena...

4

Yulius Tandyanto:
Mentor

Apakah mentor itu selalu baik? Harapannya sih begitu. Semua orang membayangkan “kakak pengasuh” yang baik. Setiap orang menghendaki dibimbing untuk menjadi lebih baik. Tapi, mungkin di situ tersimpan sejumput persoalan yang tak mau pudar: menjadi “baik”. Imajinasi tentang kebaikan senantiasa menggugah batin. Ia juga menumbuhkan harapan. Ya, harapan bahwa segala...

0

Yulius Tandyanto:
Hegemoni

Kita selalu berdebat. Kita senantiasa berbeda pendapat. Ya, kita! “Kita” sebagai suatu terjemahan halus untuk mengaburkan perbedaan terselubung antara “kami” dan “mereka”. Sejatinya, penegasan “kami” sudah selalu mengandaikan keberadaan “mereka”. Dan pengandaian tersebut bukan terutama persoalan pembedaan bahasa. Mungkin, sama halnya ketika seseorang menyebut dirinya sebagai “aku” untuk menegaskan kehadiran...

0

Yulius Tandyanto:
Toleransi

Boleh jadi istilah toleransi itu ambigu sekaligus absolut. Ambigu, karena jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, kita kerap merasa gamang, mendua, ambivalen dengan batas-batas toleransi itu sendiri. Absolut, karena toleransilah yang memungkinkan Anda dan saya dapat hidup bersama-sama dengan segenap perbedaan serta konsekuensi-konsekuensi pilihan hidup kita masing-masing. Apalagi,...

0

Yulius Tandyanto:
Kacamata

Barangkali, Anda dan saya memang terlahir rabun. Kita tidak akan pernah melihat segala sesuatu di dunia ini dengan jelas apabila kita tidak menggunakan suatu “kacamata”. Maksud saya, kita sudah selalu memakai kacamata batin—sebut saja demikian—untuk memaknai setiap aktivitas kehidupan kita. Sebagai analogi, kacamata batin ini banyak sekali jenis dan warnanya....

0

Yulius Tandyanto:
Politik

Barangkali, ada satu pandangan pokok Aristoteles yang masih relevan hingga kini. Dalam benak Aristoteles, politik itu tidak sekadar membutuhkan keterampilan khusus berpolitik sebagaimana seorang dokter berupaya mengobati tubuh pasiennya. Politik juga tidak sekadar mensyaratkan pengetahuan teori politik sebagaimana para teolog mengontemplasikan hal-hal yang ilahi. Namun lebih dari itu, politik terletak...

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini