Kategori Lesehan

29 posts

Di zaman banjir informasi dan super sibuk, kita hampir-hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk berhenti sejenak dan menimbang apa yang terjadi di sekitar kita. Rubrik “Lesehan” dimunculkan khusus untuk mendampingi pembaca dalam mengulas realitas melalui pengamatan ringan namun mendalam akan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita.

Rubrik ini diasuh oleh Yulius Tandyanto, alumnus Pascasarjana STF Driyarkara, Jakarta.

Yulius Tandyanto:
Duapuluh

Duapuluh tahun telah berlalu. Dan masih perlukah kita setia merayakannya? Kepada ia, sang momen, yang telah dibaptis sebagai tonggak untuk membuka era baru NKRI: Reformasi. Kebebasan, toleransi, dan solidaritas. Tiga anak kandung yang lahir dari rahim tua nan otoriter. Dan yang dibuahi oleh idealisme-idealisme darah muda. Dan juga yang selalu […]

Yulius Tandyanto:
Candu

„Die Religion […] ist das Opium des Volks,” tulis Karl Marx dalam kata pengantar buku Tentang Kritik atas Filsafat Hukum Hegel (1844). Dalam bahasa kita, potongan pernyataan Marx ini barangkali terdengar kontroversial, tetapi juga memikat: Agama adalah suatu candu bagi masyarakat. Pasalnya, bagi sebagian kita, agama adalah hal yang penting—jika […]

Yulius Tandyanto:
Dorothy

Kematian sesungguhnya sangat dekat dengan kita. Begitu dekatnya, sehingga kita sering melupakan “sentuhan” personalnya. Kita cenderung berjarak dan merasionalkan kematian dengan logika: semua orang akan mati. Memang kita jadi bersikap objektif terhadap kematian. Namun, ada sesuatu yang hilang di situ: suatu rasa gamang yang sangat pribadi ketika berhadapan dengan kematian. […]

Yulius Tandyanto:
Moral

Alkisah pada suatu siang bolong tampak seorang paman dan keponakannya sedang menyusuri trotoar. Mereka tampak berhati-hati agar tidak terserempet pengendara sepeda motor yang jauh lebih lihai menyusuri trotoar. Persis di ujung trotoar itu terlihat baliho bertuliskan, “Ayo, jadikan kota ini kota bermoral!” Tak lama kemudian, bertanyalah sang keponakan, “Paman, moral […]

Yulius Tandyanto:
Kata

Pada mulanya adalah kata. Dan kata itu tinggal bersama-sama kita. Syahdan, tak satu hal pun dapat diketahui oleh kita tanpa melalui kata. Barangkali kata hanya berkembang pada ras manusia—makhluk yang dikenal paling intelektual sampai saat ini. Hewan punya bahasanya sendiri, tetapi mereka tidak mampu menciptakan kata. Sebaliknya, hanya manusia yang […]

Yulius Tandyanto:
Benci

Pada tahun 2015, pastor David Oyedepo mengkhotbahkan kebencian terhadap umat Islam demi memenangkan petahana Goodluck Jonathan dalam pemilihan presiden di Nigeria. Bahkan, seruan untuk membunuh umat Islam pun tak lagi mengusik hati nurani massa pengikut Oyedepo. Di Pakistan, Sabeen Mahmud (39) menjadi target golongan religius ekstrem sejak tahun 2013 karena […]

Yulius Tandyanto:
Mentor

Apakah mentor itu selalu baik? Harapannya sih begitu. Semua orang membayangkan “kakak pengasuh” yang baik. Setiap orang menghendaki dibimbing untuk menjadi lebih baik. Tapi, mungkin di situ tersimpan sejumput persoalan yang tak mau pudar: menjadi “baik”. Imajinasi tentang kebaikan senantiasa menggugah batin. Ia juga menumbuhkan harapan. Ya, harapan bahwa segala […]

Yulius Tandyanto:
Hegemoni

Kita selalu berdebat. Kita senantiasa berbeda pendapat. Ya, kita! “Kita” sebagai suatu terjemahan halus untuk mengaburkan perbedaan terselubung antara “kami” dan “mereka”. Sejatinya, penegasan “kami” sudah selalu mengandaikan keberadaan “mereka”. Dan pengandaian tersebut bukan terutama persoalan pembedaan bahasa. Mungkin, sama halnya ketika seseorang menyebut dirinya sebagai “aku” untuk menegaskan kehadiran […]

Yulius Tandyanto:
Toleransi

Boleh jadi istilah toleransi itu ambigu sekaligus absolut. Ambigu, karena jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, kita kerap merasa gamang, mendua, ambivalen dengan batas-batas toleransi itu sendiri. Absolut, karena toleransilah yang memungkinkan Anda dan saya dapat hidup bersama-sama dengan segenap perbedaan serta konsekuensi-konsekuensi pilihan hidup kita masing-masing. Apalagi, […]

Yulius Tandyanto:
Kacamata

Barangkali, Anda dan saya memang terlahir rabun. Kita tidak akan pernah melihat segala sesuatu di dunia ini dengan jelas apabila kita tidak menggunakan suatu “kacamata”. Maksud saya, kita sudah selalu memakai kacamata batin—sebut saja demikian—untuk memaknai setiap aktivitas kehidupan kita. Sebagai analogi, kacamata batin ini banyak sekali jenis dan warnanya. […]

Yulius Tandyanto:
Politik

Barangkali, ada satu pandangan pokok Aristoteles yang masih relevan hingga kini. Dalam benak Aristoteles, politik itu tidak sekadar membutuhkan keterampilan khusus berpolitik sebagaimana seorang dokter berupaya mengobati tubuh pasiennya. Politik juga tidak sekadar mensyaratkan pengetahuan teori politik sebagaimana para teolog mengontemplasikan hal-hal yang ilahi. Namun lebih dari itu, politik terletak […]

Yulius Tandyanto:
Negarawan

“Siapa pun yang rela untuk memimpin, haruslah diberikan upah baik itu dalam bentuk uang, kehormatan, atau hukuman jika ia menolaknya.” —Sokrates     B arangkali, ujaran Sokrates di atas sekiranya masih mampu menggelitik telinga para negarawan masa kini. Tergelitik bukan karena harta dan kehormatan yang lazim diganjarkan pada negarawan. Namun, […]

Yulius Tandyanto:
Nurani

Barangkali kita mudah jatuh cinta dengan kebenaran. Apapun dilakukan demi kebenaran sampai-sampai kita rela membenci tetangga kita. Dan sialnya, agama dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk mensahkan perbuatan kita itu. Walhasil, agama dikerdilkan. Dari situasi itulah agama seolah-olah membenarkan umatnya untuk bersikap “amoral”. Mungkin keadaan seperti itu analog dengan apa yang […]

Yulius Tandyanto:
Distopia

… mengenang GH (14), AN (15), TM (16), dan mereka yang telah “tertidur” …. Alkisah, seseorang bernama Dasein telah meninggalkan kota kelahirannya. Ia berkelana hampir selama setahun demi menunaikan sebuah tugas. Dan saat ini, sejauh mata Dasein memandang hanya ada dua hal saja yang berkecamuk di dalam benaknya: sabana tandus […]

Yulius Tandyanto:
Plot

Sesungguhnya siapa yang disebut sebagai manusia Indonesia? Atau, karakter seperti apa yang menjadikan seseorang disebut sebagai manusia Indonesia?—Barangkali, tidak ada. Kalaupun ada—[S]alah satu karakter utama manusia Indonesia dewasa ini adalah identitas-identitas religius sektariannya. Lihat saja orang-orang yang suka memamerkan kehidupan agamanya. Sebut saja, misalnya, melalui busana muslim, kalung salib, berdoa […]

Yulius Tandyanto:
Dengki

Joel Stein tidaklah mengada-ada ketika ia mengaitkan internet dengan salah satu gejolak emosi di dalam diri kita: rasa benci. Ia bertanya, “Mengapa kita menyerahkan internet pada budaya benci?” dalam majalah Time (18/8). Stein (45), kolumnis Time, mendeskripsikan secara apik bagaimana oknum-oknum tertentu menjadikan internet sebagai jamban yang penuh dengan keagresifan […]

Yulius Tandyanto:
Terminal

Tetaplah berdoa. —1Tes 5:17     Terminal Cikarang pada pukul 02.30 pun masih terjaga. Padahal, desir angin dini hari telah menambah atmosfer beku udara di sana setelah hujan lebat menghunjam ke atas permukaan bumi Jawa Barat. Toh, suasana demikian tak menghentikan langkah-langkah berbagai pasang kaki untuk berkumpul di sana. Bagi […]

Yulius Tandyanto:
Pemula

[M]enjadi seperti anak kecil … —Mat 18:4 Ivan menghela napasnya. Ia kembali memosisikan kaki kanannya pada pedal sepeda roda duanya. Tak berapa lama kemudian, Ivan mengayuhkan pedalnya. Sepeda pun meluncur perlahan, meski arahnya masih tak beraturan. Sesekali Ivan mengarahkan perhatiannya pada jalanan sementara ia berkonsentrasi penuh demi menjaga keseimbangan laju […]

Yulius Tandyanto:
Harkat

Alkisah, di sebuah negeri, menetaplah bangsa kambing. Tapi, kambing-kambing ini bukanlah kambing pada umumnya. Laiknya sebuah peradaban, kambing-kambing ini memiliki sistem pemerintahan, sistem pekerjaan, bahkan dewan keagamaannya sendiri. Untuk saat ini, kita tak perlu memusingkan dari mana asal-muasal peradaban kambing ini. Kita cukuplah terkesima dengan kemajuan peradaban mutakhir bangsa kambing […]

Yulius Tandyanto:
Saudara

Mungkinkah majikan bersaudara dengan buruhnya? Mungkinkah penjahat bersaudara dengan polisi? Mungkinkah komunisme bersaudara dengan kapitalisme? Mungkinkah sang fajar pagi bersaudara dengan sang gelap malam? Atau, mungkinkah Anda bersaudara dengan saya? Ah, Anda pun dapat meneruskan daftar kesangsian ini dengan cara menyandingkan dua hal yang tampak kontradiktif disertai kata penghubung yang […]