Kategori Lesehan

Di zaman banjir informasi dan super sibuk, kita hampir-hampir tidak mendapatkan kesempatan untuk berhenti sejenak dan menimbang apa yang terjadi di sekitar kita. Rubrik “Lesehan” dimunculkan khusus untuk mendampingi pembaca dalam mengulas realitas melalui pengamatan ringan namun mendalam akan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita.

Rubrik ini diasuh oleh Yulius Tandyanto, alumnus Pascasarjana STF Driyarkara, Jakarta.

4

Yulius Tandyanto:
Mentor

Apakah mentor itu selalu baik? Harapannya sih begitu. Semua orang membayangkan “kakak pengasuh” yang baik. Setiap orang menghendaki dibimbing untuk menjadi lebih baik. Tapi, mungkin di situ tersimpan sejumput persoalan yang tak mau pudar: menjadi “baik”. Imajinasi tentang kebaikan senantiasa menggugah batin. Ia juga menumbuhkan harapan. Ya, harapan bahwa segala...

0

Yulius Tandyanto:
Hegemoni

Kita selalu berdebat. Kita senantiasa berbeda pendapat. Ya, kita! “Kita” sebagai suatu terjemahan halus untuk mengaburkan perbedaan terselubung antara “kami” dan “mereka”. Sejatinya, penegasan “kami” sudah selalu mengandaikan keberadaan “mereka”. Dan pengandaian tersebut bukan terutama persoalan pembedaan bahasa. Mungkin, sama halnya ketika seseorang menyebut dirinya sebagai “aku” untuk menegaskan kehadiran...

0

Yulius Tandyanto:
Toleransi

Boleh jadi istilah toleransi itu ambigu sekaligus absolut. Ambigu, karena jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, kita kerap merasa gamang, mendua, ambivalen dengan batas-batas toleransi itu sendiri. Absolut, karena toleransilah yang memungkinkan Anda dan saya dapat hidup bersama-sama dengan segenap perbedaan serta konsekuensi-konsekuensi pilihan hidup kita masing-masing. Apalagi,...

0

Yulius Tandyanto:
Kacamata

Barangkali, Anda dan saya memang terlahir rabun. Kita tidak akan pernah melihat segala sesuatu di dunia ini dengan jelas apabila kita tidak menggunakan suatu “kacamata”. Maksud saya, kita sudah selalu memakai kacamata batin—sebut saja demikian—untuk memaknai setiap aktivitas kehidupan kita. Sebagai analogi, kacamata batin ini banyak sekali jenis dan warnanya....

0

Yulius Tandyanto:
Politik

Barangkali, ada satu pandangan pokok Aristoteles yang masih relevan hingga kini. Dalam benak Aristoteles, politik itu tidak sekadar membutuhkan keterampilan khusus berpolitik sebagaimana seorang dokter berupaya mengobati tubuh pasiennya. Politik juga tidak sekadar mensyaratkan pengetahuan teori politik sebagaimana para teolog mengontemplasikan hal-hal yang ilahi. Namun lebih dari itu, politik terletak...

0

Yulius Tandyanto:
Negarawan

“Siapa pun yang rela untuk memimpin, haruslah diberikan upah baik itu dalam bentuk uang, kehormatan, atau hukuman jika ia menolaknya.” —Sokrates     B arangkali, ujaran Sokrates di atas sekiranya masih mampu menggelitik telinga para negarawan masa kini. Tergelitik bukan karena harta dan kehormatan yang lazim diganjarkan pada negarawan. Namun,...

0

Yulius Tandyanto:
Nurani

Barangkali kita mudah jatuh cinta dengan kebenaran. Apapun dilakukan demi kebenaran sampai-sampai kita rela membenci tetangga kita. Dan sialnya, agama dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk mensahkan perbuatan kita itu. Walhasil, agama dikerdilkan. Dari situasi itulah agama seolah-olah membenarkan umatnya untuk bersikap “amoral”. Mungkin keadaan seperti itu analog dengan apa yang...

0

Yulius Tandyanto:
Distopia

… mengenang GH (14), AN (15), TM (16), dan mereka yang telah “tertidur” …. Alkisah, seseorang bernama Dasein telah meninggalkan kota kelahirannya. Ia berkelana hampir selama setahun demi menunaikan sebuah tugas. Dan saat ini, sejauh mata Dasein memandang hanya ada dua hal saja yang berkecamuk di dalam benaknya: sabana tandus...

0

Yulius Tandyanto:
Plot

Sesungguhnya siapa yang disebut sebagai manusia Indonesia? Atau, karakter seperti apa yang menjadikan seseorang disebut sebagai manusia Indonesia?—Barangkali, tidak ada. Kalaupun ada—[S]alah satu karakter utama manusia Indonesia dewasa ini adalah identitas-identitas religius sektariannya. Lihat saja orang-orang yang suka memamerkan kehidupan agamanya. Sebut saja, misalnya, melalui busana muslim, kalung salib, berdoa...

0

Yulius Tandyanto:
Dengki

Joel Stein tidaklah mengada-ada ketika ia mengaitkan internet dengan salah satu gejolak emosi di dalam diri kita: rasa benci. Ia bertanya, “Mengapa kita menyerahkan internet pada budaya benci?” dalam majalah Time (18/8). Stein (45), kolumnis Time, mendeskripsikan secara apik bagaimana oknum-oknum tertentu menjadikan internet sebagai jamban yang penuh dengan keagresifan...