Philip Ayus:
Hidup Rukun Bersama

Sebait lagu yang digubah berdasarkan syair Mazmur segera terlintas di dalam benak, sejenak setelah saya memandangi foto kedua anak saya yang sedang bermain bersama, yang dikirimkan oleh istri saya melalui sebuah aplikasi perpesanan,

Sungguh alangkah baiknya,
Sungguh alangkah indahnya,
Bila saudara semua
Hidup rukun bersama!

Meski kualitas gambar yang diambil menggunakan kamera ponsel tersebut tak setajam foto-foto yang dihasilkan dari kamera digital dan tak seindah foto-foto para “selebgram”, namun pemandangan atau suasana yang ditangkap melalui kamera ponsel itulah yang membuat hati saya “bungah”, alias dipenuhi dengan sukacita.

Sebagai seorang ayah, melihat anak-anak yang “hidup rukun bersama” merupakan sebuah ke-bungah-an tersendiri. Dan saya yakin, ibu mereka juga merasakan hal yang sama. Semua orang tua, saya percaya, juga pasti mengaminkannya.

Pemikiran lain pun muncul setelah itu. Barangkali itu pula yang dirasakan oleh Bapa di sorga ketika melihat anak-anak-Nya di dunia ini hidup dengan rukun. Barangkali juga, syair yang dituliskan oleh pemazmur perlu dibaca sebagai ungkapan bungah Allah terhadap manusia ciptaanNya yang hidup rukun bersama.

Pertanyaannya adalah, apakah yang bisa membuat dua atau lebih orang memiliki kehidupan yang rukun? Tentu jawabannya bisa beraneka ragam. Dalam konteks kedua anak saya, mereka bisa rukun mungkin karena sedang tidak memiliki kepentingan yang saling berbenturan. Dalam banyak kesempatan, mereka bahkan memiliki kepentingan yang sama, yakni bermain. Namun, kasih persaudaraan di antara mereka itulah yang menurut saya menjadi perekat yang paling kuat.

Namun dalam konteks berbangsa dan bernegara, tampaknya kerukunan berdasarkan kasih persaudaraan sebagai sesama anak bangsa harus banyak diperjuangkan. Politik identitas yang bergaung dalam Pilpres 2014 dan makin menguat sejak Pilkada DKI yang lalu tampaknya menjadi “kegemaran” baru politisi di negeri ini. Baik kubu oposisi maupun kubu petahana sama-sama menggunakannya. Mereka tampaknya meyakini, bahwa setelah pesta demokrasi usai, semuanya akan kembali seperti sedia kala. Semua bisa saling merangkul dan memaafkan. Namun, benarkah demikian?

Berbekal pengalaman pribadi setelah Pilkada DKI, saya harus berpikir seribu kali untuk menjawab ya.

Politik identitas bak kotak pandora, yang sekali dibuka, memunculkan berbagai kejahatan, meski menyisakan pula pengharapan. Tak sedikit kesaksian di media sosial, tentang bagaimana sekarang orang-orang merasa harus berhati-hati menjawab ketika ditanya tentang pilihannya dalam Pemilu. Meski sebangsa, rasa persaudaraan yang membuahkan saling percaya pun mulai sirna. Sekadar memandang orang lain sebagai sesama manusia pun makin sulit rasanya.

Sebelum berkembang makin luas, politik identitas harus diberantas. Ini harus dimulai dari diri sendiri. Mulai dengan memikirkan konsekuensi atau implikasi dari tindakan mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan atribut-atribut identitas seperti suku, ras, atau agama.

Barangkali, kita perlu untuk membuat versi “negatif” dari bait lagu di atas,

Sungguh alangkah buruknya,
Sungguh alangkah jeleknya,
Bila saudara semua
Tidak rukun bersama!

Barulah kita menyadari, bahwa Allah bukanlah Pribadi yang eksklusif, melainkan inklusif; seorang Bapa yang lebih suka melihat anak-anak-Nya hidup rukun dalam kasih mesra, bukan saling memunggungi hanya karena ingin mempertahankan pembenaran kebenarannya sendiri-sendiri.

Oleh karenanya, marilah kita belajar untuk saling menghargai, saling mendukung, dan yang jelas, saling mengasihi sebagai sesama anak-anak negeri, dan lebih daripada itu, sebagai sesama anak Allah, sehingga kehidupan kita akan diberkati secara melimpah,

Seperti minyak di kepala Harun,
Yang ke janggut dan jubahnya turun,
Seperti embun yang dari Hermon
Mengalir ke Bukit Sion
 
Sebab ke sanalah Allah mem’rintah
Agar berkat-berkat-Nya tercurah
Serta memberikan anugerah
Hidup s’lama-lamanya!
 

Hidup rukun bersama membuahkan hidup selama-lamanya. Sungguh baik, dan alangkah indah!

Leave a Reply