Evan Aristol Lature:
Persekutuan atau Kerumunan?

Apabila mendengar istilah persekutuan atau kerumunan, jelas dengan sigap kita akan mengatakan bahwa keduanya adalah hal yang berbeda. Namun, tahukah Anda, bahwa persekutuan dan kerumunan memiliki kesamaan? Iya, benar. Dua-duanya sama-sama terdiri dari kumpulan orang-orang. Hanya saja, jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kerumunan bersifat sementara dan tidak teratur, sedangkan persekutuan menekankan pada ikatan orang-orang yang sama kepentingannya.

Di dalam sejarah gereja, persekutuan dikenal secara meluas untuk pertama kali setelah kejadian turunnya Roh Kudus pada hari raya Pentakosta. Alkitab mencatat ribuan orang yang menerima perkataan Petrus memberi diri dibaptis, kemudian bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan di dalam persekutuan. Dalam bahasa aslinya, istilah persekutuan disebut “koinonia”. Kata koinonia sendiri memiliki beberapa varian, antara lain “koinos” yang berarti bersama; “koinoneo” yang berarti berbagi; dan “koinonikos” yang berarti murah hati.

Menurut John Stott, persekutuan yang otentik adalah persekutuan Trinitarian. Persekutuan Trinitarian menjadi saksi, bahwa kita berbagi bersama dalam rahmat Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Beberapa ahli teologia berpendapat bahwa doktrin Trinitas sendiri merefleksikan natur Allah akan persekutuan. Dengan kata lain, jika menggunakan prinsip kepraktisan dalam menjawab pertanyaan mengapa penting bersekutu, adalah hal yang jelas jika jawaban atas pertanyaan itu adalah karena Allah sendiri bersekutu.

Masalahnya sekarang adalah apakah persekutuan yang otentik itu benar-benar terjadi di antara kita—entah itu di PMK ataupun di gereja? Bersekutu adalah lawan dari sendiri. Jika kita tidak mau hidup sendiri, maka bersekutulah.

Tapi tunggu dulu, apakah benar bahwa persekutuan dapat menghalau kesepian yang kerap menjadi masalah krusial dalam hidup ini? Saya kenal beberapa teman yang memiliki perasaan terasing yang sangat akut. Dari luar ia terlihat ramai, supel, dan ramah. Ia suka bergaul dan mempunyai banyak kenalan. Hingga satu saat, ketika saya mencoba mengenal kehidupan personalnya lebih jauh, saya menemukan bahwa apa yang ia lakukan adalah wujud pelariannya akan rasa keterasingan yang ia alami di dalam keluarganya. Usahanya untuk berkumpul dengan teman-temannya tidaklah mampu mengusir rasa kesendiriannya.

Kerumunan sebenarnya lebih melanggengkan kesendirian daripada menyembuhkannya, demikian ujar John Stott. Hal ini juga tidak bisa dipungkiri terjadi juga di dalam persekutuan. Siapa yang bisa menjamin bahwa si A tidak lagi merasa kesepian meski ia berada di tengah-tengah PMK atau gereja? Meski si A adalah pengurus, rajin datang rapat dan pertemuan, ikut KTB, sering diminta menjadi pelayan altar, ikut kepanitiaan, dan sebagainya—dan sebagainya. Apakah kita benar-benar bisa sepakat bahwa A kini terhindar dari rasa kesepian? Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengadakan survei kecil-kecilan. Saya menanyakan ke beberapa orang mengenai apa arti penting dari bersekutu. Berikut saya hadirkan jawaban mereka:

1. Tempat berkenalan dengan keselamatan yang sesungguhnya

Persekutuan yang sejati adalah persekutuan yang didasarkan pada karya penebusan Kristus bagi manusia berdosa. Di dalam persekutuan, orang yang sebelumnya tidak menyadari bahwa dirinya berdosa menjadi sadar bahwa ia sesungguhnya adalah manusia hina yang tidak layak di hadapan Allah. Di sini terjadi penyingkapan citra diri manusia yang sesungguhnya. Di sini terjadi kegelisahan yang luar biasa di dalam diri manusia karena menyadari kebenaran firman Tuhan yang menginginkannya untuk hidup benar. Komunitas orang percaya membantunya untuk menyadari kebenaran ini, dan akhirnya secara sadar dan penuh kerendahan hati membuat keputusan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Babak selanjutnya, persekutuan kini diterima oleh setiap orang sebagai anugerah Allah bagi umat pilihan-Nya untuk memelihara dan mengembangkan kasih yang telah Allah berikan.

2. Penerimaan satu sama lain

Di dalam persekutuan yang baik, terdapat penerimaan yang satu terhadap yang lain. Ini membawa kehangatan yang terjalin antar setiap orang yang terlibat di dalamnya. Dia yang dulunya merasa tidak “berada” kini merasa “ada” dengan penerimaan orang-orang di dalam persekutuan. Dia yang dulu tidak peduli dengan keberadaan orang lain kini menjadi peduli dengan orang-orang yang menaruh peduli padanya. Ini bukanlah berarti bahwa proses penerimaan itu akan berjalan mulus-mulus saja. Akan ada gesekan-gesekan yang mungkin bisa menyebabkan lecet atau bahkan mungkin luka. Persekutuan yang sehat adalah persekutuan yang bertumbuh. Dan untuk bertumbuh itu sering kali menyakitkan. Hal ini bertentangan dengan sifat alamiah kita yang tidak menyenangi konflik.

Ada satu ungkapan menarik dalam buku yang pernah dihadiahkan oleh sahabat saya sewaktu saya berulang tahun: “Hubungan-hubungan antar manusia adalah seperti landak di malam hari sewaktu musim dingin. Mereka saling membutuhkan satu sama lain demi kehangatan, tetapi mereka terus saja saling menusuk ketika mereka saling berdekatan. Maka mereka pun mundur dan mencoba lagi, berharap mereka dapat membenarkannya. Manusia memiliki duri mereka sendiri berupa keegoisan serta kesombongan. Mereka memiliki ujung-ujung tajam berupa sikap tidak rela mengampuni dan suka menghakimi. Sementara mereka mencoba mendekatkan diri terhadap satu sama lain, mereka pasti menjumpai ujung-ujung tajam dari masing-masing kepribadian. Mereka bisa saja ada yang menyerah dan mengisolasikan diri atau terus belajar rendah hati untuk sama-sama mengejar kehangatan tersebut.”

3. Bertumbuh dalam hal rohani

Sudah seharusnyalah persekutuan menuntun orang untuk dapat merasakan hubungan pribadi yang mesra dan hangat dengan Allah. Ia tidak takut ataupun enggan untuk mengungkapkan segala keluh kesah, problematika, ataupun kerinduannya di hadapan Allah. Setiap orang mengerti apa makna dari doa yang pernah diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Memanggil Allah dengan sebutan Bapa (Lukas 11), sebuah sebutan yang di dalamnya terkandung kedalaman hubungan. Karena Allah adalah Bapa kita, kita selalu rindu untuk berhubungan dengan-Nya. Berkomunikasi dengan-Nya lewat saat teduh, doa pribadi, menggali dan merenungkan setiap perkataan-Nya di dalam Alkitab, dan bahkan lewat waktu spesial kita yang hanya berdua saja dengan-Nya. Allah rindu memiliki hubungan dengan kita. “Sebab Aku menyukai kasih setia dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah lebih daripada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6). Di dalam persekutuan, kita saling bahu-membahu di dalam proses pertumbuhan rohani.

4. Mengasah karakter

Banyak karakter yang diubahkan melalui persekutuan. Kalau boleh sedikit beromantis-romantisan ria, mari sejenak bernostalgia. Barangkali ada yang dulu cuek bebek, kini menjadi perhatian dengan sesamanya. Ada yang dulu kasar sewaktu menghadapi teman lawan jenis, kini berubah menjadi lembut, selembut marshmallow. Atau mungkin yang dulunya kikuk bila berhubungan dengan teman lawan jenis, kini sudah supel dan tahu bagaimana memperlakukan teman lawan jenisnya tersebut dengan kasih persaudaraan yang telah dianugerahkan Allah. Ada juga kisah beberapa orang yang tadinya perfeksionis—obsesif, pelan namun pasti berubah menjadi pribadi yang apresiatif dan penuh kehangatan.

5. Kontrol sosial

Persekutuan juga berfungsi sebagai kontrol sosial. Dengan adanya sahabat-sahabat yang sama-sama bertumbuh dalam Kristus, kita akan selalu diingatkan untuk selalu berjuang hidup benar di hadapan Allah. Fungsi kontrol sosial ini juga menjaga kita untuk tidak terjerumus dengan nilai-nilai dunia yang permisif dan penuh hujatan terhadap Allah. Namun, bukan berarti sebagai orang percaya kita adalah orang-orang yang aneh, orang yang gagap dengan bahasa gaul masyarakat. Alec Vidler merumuskan, bahwa setiap orang Kristen memiliki identitas ganda yang disebutnya “holy worldliness” (kemenduniaan yang suci). Persekutuan sejati seharusnya memahami identitas gandanya. Persekutuan yang sejati sudah seharusnya memperlengkapi setiap orang yang ada di dalamnya mampu berdiri menentang semangat zaman yang kian bengkok, bukannya menjadikan anggota-anggotanya bersembunyi mencari kenyamanan dan berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa di luar sana.

Lalu, mengapa kini ada kecenderungan persekutuan nyaris terpeleset pada kerumunan? Nyaris atau bahkan mungkin telah jatuh kepada kumpulan orang-orang yang secara individualistis datang kepada Kristus hanya untuk memperoleh kepuasan dalam pembenaran diri serta keuntungan dan kepentingan pribadi. Jika berkaca dari kisah Yesus menyembuhkan orang lumpuh yang digotong oleh empat orang rekannya (Markus 2:1-12; Lukas 5:17-26), kita menemukan kilauan mutiara kebenaran bahwa iman yang murni kepada Kristus mampu mendatangkan berkat bagi orang lain. Inilah yang harus kita miliki agar persekutuan kita tetap terjaga kehangatannya, tanpa perlu terpeleset pada kerumunan. Iman inilah yang harus terus kita pelihara agar kita tetap boleh menikmati kedalaman bersekutu, bukannya jatuh pada kedangkalan hubungan yang egosentris khas kerumunan.


—– Penulis adalah Staf Mahasiswa Perkantas Jawa Barat

— Diterbitkan pada Majalah Dia Edisi 3/ Tahun XXIII/2009

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *