W. Stanley Heath:
Kemajuan Teknologi VS Kedaulatan Allah

Manusia dan Kemajuan Teknologi

Perkembangan dan kemajuan industri secara masal pada abad ke 19 ditandai oleh kombinasi dua evolusi. Pertama adalah perkembangan progresif sistim produksi, yang didominasi oleh teknologi “carbon and iroi”, kemudian diikuti oleh teknologi elektronika, motor peledak serta sintesa kimia. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh industrialisasi yang menyebar di banyak negara Eropa dan Amerika Utara.

Sejarah dunia mencatat tiga perkembangan besar industrialisasi. Yang pertama terjadi di Inggri pada akhir abad ke 18, kemudian diikuti oleh Perancis, Belgia, Swiss dan Amerika Serikat pada awal abad ke 19. Sedang Jerman dicatat kemudian sebagai negara yang memproduksi kereta api paling besar di antara negara-negara Eropa.

Sampai abad ke 20, negara-negara tersebut di atas menjadi produsen utama industri dunia. Belajar dari kenyataan ini negara-negara seperti Rusia, Skandinavia, Itali,negara-negara Eropa Timur serta Jepang tergerak untuk melangkahkan industrinya ke depan

Saat ini seluruh dunia melihat kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia sebagai jantung ekonomi dunia. Angka-angka pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara Asia Pasifik telah memuat seluruh dunia berpaling kekawasan ini. Hal ini tidak akan terjadi apabila pembuat keputusan mengabaikan kenyataan, politik, kebudayaan, militer dan teknologi.

Pada beberapa dekade terakhir dunia ini memang telah menunjukkan perkembangan teknologi yang amat cepat. Gerakan-gerakan riset di dunia telah memacu kecepatan perkembangan teknologi. Kurun waktu antara teori dan penerapan terasa semakin pendek. Bila pada beberapa abad yang lalu diperlukan sekian banyak manusia dari generasi ke generasi untuk menyelesaikan sebuah bangunan seperti gereja dan piramida maka saat ini selama usia manusia bisa mengalami sekian banyak generasi teknologi.

Alfin dan Heidi Toffler mengatakan antara sekarang dan tahun 2020, akan terjadi serangkaian terobosan, diantaranya bidang teknologi, dari optical computing ke rekayasa biologis, dari superkonduktor dan kekuatan fusi ke kedokteran dan ilmu material. Beberapa diantaranya, seperti yang mempengaruhi energi, dapat secara radikal menata kembali peta ekonomi dan politik.

Penemuan baru tim peneliti Australia yang mengklaim telah menemukan terobosan baru dalam teknologi produksi superkonduktor menguatkan ramalan kedua ekonom ini bahwa era superkonduktor telah di ambang pintu. Superkonduktor temuan baru tersebut mampu bekerja pada temperatur tinggi, dengan material tertentu.

Perubahan dan konflik Yang terjadi

Kemajuan teknologi memang telah terbukti banyak membantu mengangkat manusia dari kesulitan dan kemiskinan. Namun sejarah juga mencatat bahwa memasyarakatnya teknologi selalu diikuti oleh transformasi sosial dalam tatanan masyarakat.

Francis Scheffer mengatakan bahwa dua hal yang menandai era saat ini adalah ledakan ilmu dan teknologi serta kehancuran moral. Menurutnya, bukanlah suatu hal kebetulan bila dua hal tersebut terjadi secara simultan.  Dua hal tersebut saling berkaitan. Perkembangan teknologi sering mengubah nilai moral  manusia dan masyarakat secara drastis. Perkembangan teknologi sering mengubah nilai teknologi sering mengubah nilai moral manusia dan masyarakat secara drastis. Perkembangan teknologi akan terus berlangsung dan dampaknya tidak mungkin di bendung.

 

Teknologi dan Kedaulatan Allah

Kekaguman manusia terhadap teknologi telah membuat manusia semakin agung dan Allah semakin tak berarti dimata para pengagum dan penikmat hasil teknologi. Kesanggupan manusia mengembangkan elektronika, bioteknologi, transportas, peralatan militer, ruang angkasa dan produk teknologi lainnya telah mengubah kenaturalan alam semesta menjadi suatu yang “modern”. Sehingga apa yang natural identik dengan “ke-kunoan” dan absurd.

Sebenarnya bila kita menerima Alkitab secara terbuka dan dengan pikiran terang, maka batas-batas hak manusia serta kedaulatan Allah telah jelas, baik secara tertulis ataupun sebagai fakta sejarah. Untuk merenungkan kenyataan ini kita bisa membaca misalnya dalam kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta ini dan manusia adalah pencipta-Nya.

Ketidak mampuan manusia untuk menciptakan kehidupan material dasar yang dibutuhkan bagi produk teknologi dalam sejarah iptek yang telah memasuki era superkonduktor dan rekayasa biologi ini, membuktikan kebesaran dan ketidakterbatasan Allah – Sang Pencipta- serta kecilnya dan keterbatasan manusia –selaku ciptaan– Hal ini merupakan fakta yang mendasar mengenai batas dan hak manusia dan kedaulatan Allah dalam era-teknologi ini, sebagaimana tertulis dalam Alkitab.

Di sisi lain, Alkitab juga memberikan dasar mengapa manusia diberi kemampuan mengembangkan iptek. Manusia diciptakan sebagai pribadi yang segambar dengan Allah yang berakal budi serta memiliki mandat dari Allah untuk mengelola bumi sebagaimana tertulis dalam Alkitab, “…. penuhilah bumi dan taklukkanlah itu..” Karena Allah memiliki daya cipta yang tak terbatas, maka tidak mengherankan bila ciptaan-Nya yang segambar diberi kemampuan mengembangkan iptek. Pernyataan dari dua orang tokoh ilmu pengetahuan modern yang bukan kristen, Alfred North whitehead (186-1947) dan J. Robert Oppenheimer (1904-1967) membenarkan hal ini.

Whitehead dihormati sebagai ahli matematik dan filsuf. Dalam tulisannya yang berjudul Science and The Modern World di Harvard University Lowell Lectures, Whitehead menulis bahwa kekeristenan adalah mother of science.  Karena kekristenan menggantungkan diri pada akal budi Allah. Whitehead juga mengatakan karena mula-mula ilmuwan percaya bahwa dunia diciptakan oleh seorang Allah yang berakal budi, maka mereka tidak heran bila mengetahui manusia dapat menemukan sesuatu yang benar tentang bumi dan alam semesta atas dasar akal budi.

Sedang Oppenheimer, setelah menjadi direktur Institute for Advanced Study di Princeton pada tahun 1947, menjadi penulis tentang struktur dan tenaga atom serta menulis banyak subyek mengenai ilmu pengetahuan. Opphenheimer dalam artikel On Science and Culture (1962) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan modern dilahirkan dari kekristenan.

Dengan pernyataannya, Whitehead dan Oppenheimer secara sadar dan rasionil mengakui kedaulatan Allah atas semesta alam dan menemukan jawaban mengapa manusia mampu mengembangkan dan menguasai teknologi.

Bila manusai mempertanyakan posisi Allah dalam kemajuan teknologi, maka dengan sendirinya Allah tidak akan mengembangkan produk teknologi, karena Dia telah memberikan akan budi dan tanggungjawab kepada manusia dengan memanfaatkan dan mengelola alam semesta ini. lebih dari itu Allah sangat menghargai ciptaan-Nya sebagai suatu pribadi dan bukan sebagai mesin atau robot.

Namun demikian tetap harus dicatat bahwa alam semesta yang diciptakan Allah memiliki nilai, jauh diatas produk teknologi yang secanggih apapun. Suatu bangunan tahan gempa yang dirancang dan dibuat dengan teknologi canggih, tak akan bisa menangkis gempa teknologi dengan skala Richter tertentu, seperti di Liwa dan beberapa tempat di dunia lainnya. Sebaliknya alam tunduk terhadap perkataan dan kuasa Yesus. Contohnya, bagaimana Tuhan Yesus juga membandingkan pakaian sebagai produk teknologi dengan bunga bakung sebagai ciptaan Allah.

Meski sepanjang sejarah penciptaan alam semesta dan manusia, Allah tidak mengembangkan teknologi, namun Alkitab mencatat bahwa Allah memberi petunjuk bagaimana Nuh harus membuat kapalnya, bagaimana manusia harus mengatur nilai arsitektur bagi bait-Nya, bagaimana Yesus juga mengajarkan memilih tanah yang baik untuk argo industri dan pondasi rumah. Firman Allah telah mengawali memberikan inspirasi bagaimana mengembangkan teknologi, sehingga daya kreasi manusia bisa berkembang.

Allah berdaulat terhadap semua kehidupan, alam semesta beserta sekuruh sistimnya karena Dia adalah pencipta yang tak terbatas dan suci. Sehingga jelaslah, bahwa dalam setiap kehidupan terdapat suatu hubungan dengan Allah. Produk teknologi sebagai karya manusia merupakan hasil dari hak dan tanggungjawab yang diberikan Allah kepadanya. Karena manusia merupakan ciptaan-Nya, maka teknologi pun dalam kuasa Allah.

Teknologi sebagai produk manusia berdosa

Namun hal yang perlu dicatat adalah bahwa manusia pasca Adam adalah manusia yang telah jatuh dalam dosa. Hal ini membawa kecenderungan manusia untuk melepaskan diri dari hukum moral yang diberikan Allah agar dia bisa bebas melakukan apa saja. Sifat ini – seringkali – menjadikan kemajuan teknologi sebagai dilema.

Sebagai contoh adala timbulnya revolusi besar dalam bidang rekayasa genetika. Kemampuan memperoleh pengetahuan lengkap dan dapat menggambarkan secara detil setiap sudut, setiap ujung dan setiap gen dari molekul DNA pada manusia, sebagaimana yang dikerjakan Dr. Francis Collin, telah memungkinkan dilakukan Dr. W. French Anerson. Penemuan-penemuan ini membawa kemungkinan terhadap penyembuhan dan pencegahannya penyakit manusia lebih cepat. Bahkan lebih jauh, dengan pengetahuan yang lengkap akan molekul DNA telah memungkinkan memperbaiki ketidaksempurnaannya, sehingga mannusia dapat dicegah dari suatu penyakit yang memungkinkan dia mati atau menderita.

Hal seperti diatas tentu akan membawa harapan-harapan baru bagi kesehatan dan kehidupan yang lebih baik bagi manusia.

Sifat-sifat dosa yang dimiliki manusia pasca Adam dapat membawa manusia ke arah pemakaian yang bertentangan dengan kedaulatan dan kesucian Allah, terhadap produk teknologi. Dengan temuan teknologi tersebut, memungkinkan pula manusia melahirkan generasi-generasi yang mereka inginkan. Mereka bsia menyeleksi kelahiran, yang otomatis akan memusnahkan ataupun merekayasa embrio-embrio yang cacat atau yang sifat dan bentuknya tidak dikehendaki. Sehingga peperangann genetika akan merupakan salah satu bentuk peperangan di masa depan di samping bom nuklir dan kimia. Disinilah kemudian timbul dilema terhadap kemajuan teknologi, yang akan membawa ke suatu pertanyaan tentang kedaulatan Allah dan hak manusia.

Contoh dilema lain yang lebih sederhana bisa kita ligat dalam era media, karena teknologi dalam era ini ditandai dengan lompatan kemajuan sistim informasi ini telah banyak membantu kesulitan komunikasi manusia antar benua. Dengan kemajuan teknologi di bidang informasi telah memungkinkan diatasinya kesulitan komunikasi manusia dan masyarakat antar kota, antar pulau, bahkan antar benua dengan produk teknologi seperti telepon, fax, komputer ataupun audiovisual.

Tetapi kemajuan beberapa produk teknologi di bidang komunikasi ini melahirkan dampak-dampak negatif terhadap masyarakat. Kehidupan amoral seperti ide-ide pornografi, kekejaman dan sadistis dapat disalurkan dan dinikmati melalui audiovisual, disket komputer dan lain-lain secara sempurna. Kenyataan ini telah memebrikan model-model kriminalitas dalam suatu masyarakat, sehingga mereka didorong melakukan hal yang sama. Sehingga bukanlah hal yang mustahil bila masayarakat memasuki “nilai-nilai” yang disesuaikan dengan teknologi yang ada.

Dari contoh-contoh ini bisa disimpulkan bahwa kemajuan teknologi telah dan akan terus mengubah etika kehidupan manusia dan masyarakat. Hal itu seringkali menimbulkan konflik bagi insan yang percaya pada Allah, yang pada akhirnya harus meneruskan pilihan.

Dalam menghadapi krisis yang timbul seperti krisis sosial dan mental ini, masyarakat seringkali mengambil keputusan-keputusan yang bertentangan dan memberontak terhadap ukuran kebenaran atau etika yang diberika Allah melalui Firman-Nya, yang akhirnya membawa manusia pada krisis identitas.

Setia dan taat pada Firman Allah: Suatu kunci pertahanan

Untuk menjawab tantangan ini, kaum rohaniwan telah juga mencoba mengajarkan teologia yang aktual. Namun tidak sedikit dari mereka yang dalam menyampaikan ajaran-ajarannya akhirnya mengutamakan pendekatan terhadap kemajuan itu sendiri daripada otomatis firman Allah. Akibatnya mereka ‘melahirkan’ teologia sukses, komromistis dan teologia penyesuaian.

Kenyataan-kenyataan di atas menimbulkan pertanyaan: bagaimana seorang beriman dapat tetap berprofesi, terbuka terhadap kemajuan tetapi tetap memiliki identitas sebagai saksi Allah? Kebingungan terhadap masalah ini seringkali menimbulkan konflik dan situasi yang dilematis.

Dilema ataupun konflik tidak perlu terjadi bila seseorang setia dan taat pada Kristusdan firmanNya Sejarah Alkitab menunjukkan kenyataan-kenyataan ini. Daniel misalnya, sebagai seorang intelektual, imannya tidak pernah goyah ketika ia diperhadapkan pada pendidikan dan kebudayaan Babel yang kafir. Dia tahu apa yang harus diperbuat dan diputuskan sebagai seorang percaya dalam situasi perubahan-perubahan yang sering seringkali membawanya pada situasi yang dilematis. Sampai akhirnya Nebukadnezar percaya pada Allah.

Musa misalnya. Ia ditempa dan dididik dayang dalam budaya dan kerajaan Mesir. Namun ia tidak pernah kehilangan identitas sebagai umat Allah karena sedari kecil telah ditanamkan iman yang benar dalam dirinya.

Rasul Paulus, intelektual pasca Kristus, juga tetap gigih menjadi penginjil dan pembela Kristus. Meski dipenjarakan, menderita dan ditinggalkan teman-teman sekerjanya, karena keyakinannya akan kebenaran firman Allah.

Melihat contoh-contoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa kunci agar seseorang mampu mempertahankan identitas dirinya adalah sikap ketergantungan dan kesetiaannya terhadap firman Allah.

Seseorang yang lahir, hidup dan dididik dalam era yang terus mengalami perubahan-perubahan akibat kemajuan teknologi seharusnya memiliki sikap yang sama, bila dia percaya pada Kristus dan otoritas firman-Nya. Ketidakraguan akan kesementaraan hidup di dunia keyakinan akan adanya hidup setelah mati serta jaminan keselamatan melalui karya Kristus, dan pemeliharan-Nya yang tiada putus merupakan dasar mengapa seharusnya setiap umat Kristus tidak perlu mengalami krisis identitas ataupun situasi yang dilematis dalam era teknologi ini.

Kekristenan tidak pernah menutup diri terhadap kemajuan teknologi atau ilmu pengetahuan karena hal ini merupakan sebagian dari tanggung jawabnya terhadap Allah. Namum apapun peran seorang Kristen dalam kemajuan teknologi, baik sebagai pencipta, penemu, pembuat ataupun pemakai produk teknologi, dia harus sadar bahwa hal tersebut tidak lepas dari tanggung jawabnya sebagai saksi Kristus. Bila setiap orang Kristen memegang prinsip ini, maka penciptaan dan pemakaian teknologi akan terhindar dari sifat yang destruktif atau bertentangan dengan kedaulatan Allah.

Agar gereja tetap bisa menjadi saksi Kristus, perlu pemikiran”pemikiran teologis yang relevan terhadap kemajuan teknologi, namun tetap di bawah otoritas firman-Nya. Untuk itu pemikiran-pemikiran yang Alkitabiah dari para intelektual Kristen di berbagai disiplin ilmu sangat diperlukan. Dunia, teknologi dan segala produk teknologi akan punah, tetapi firman Tuhan adalah kekal.**

 

 

*Dituliskan oleh W. Stanley  Heath doktor dari Ecole Centrale Paris yang menjabat sebasai Staf Ahli LEMHIT dan dosen Fa. Teknik Sipil Instiiut Teknologi Surabaya (ITS)Mantan Wakil ketua Badan Pensintis Cabang (BPC) Perkantas Jawa Timur (1980-1984) dan sekarang Seksi Pendidikan DPD Persekutuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Jawa Timur dan Dosen Agama di Universitas Petra.

Daftar Pustaka

  1. Alkitab.
  2. Vidal-Naquet Pierre directeur, Le Grand Livre de L’Histoire du Monde, France Loisir, 1986, hal.216.
  3. Alfin Toffler dan Heidi TofIler, Rusia Tetap Menjadi Bom ll/aktu, Harian Kompas Edisi 25 Januari 1994.
  4. Kompas, Superkondulaor Diburu untuk Mengubah Dunia, Harian Kompas edisi 26 Jan. 1994.
  5. Paul R. Ehrlirch dan Anne H. Ehrlich, Berakhirnya Masa Kelimpah Miwahan, Sinar Harapan dan Yayasan Obor Indonesia, hal. 20.
  6. Indarto, Kekristenan dan lptelg Jurnal Pelita Zaman, Volume 7,no.2 tahun 1992, hal,204.
  7. Schaeffer, Francis A, The Great Evangelical Disasleq Crossway Books, Westchester, Illiomis 1984, hal. 19.
  8. Schaeffer, Francis A. How Should Lle Then live Crossway Books, Westcester, Illionis 1976, p. 132.
  9. Schaeffer, Francis A., Ibid, hal. 132-133.

 **Majalah DIA, Edisi 3/1994

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini