Darmawan Sembiring:
Iman Kristiani & Iptek Kedokteran Dalam Menyongsong Tahun 2000-an

Pendahuluan

Sejarah perkembangan lptek kedokteran tak dapat dipisahkan dari perkembangan seolah kedokteran dan rumah sakit. Sekolah kedokteran dan rumah sakit yang diorganisir baik, pertama kali dilakukan di Salerno, abad IX. Lembaga ini adalah milik dan tempat gereja berkarya pada zamannya. Calon dokter dan perawat di Salerno diajar untuk selalu menolong orang miskin secara gratis. Mereka menyapa penderita-penderita yang datang dengan “Tuhan” berdasarkan Matius 25:36 … ketika Aku sakit kamu yang melawat Aku …” Mereka mendapat kehormatan bila berkesempatan merawat dan melayani orang miskin, dianggap seperti melayani Tuhannya. Konsep ini telah menjadi konsep gereja berabad-abad dalam partisipasi pelayanan masyarakat. Masih cocokkah pola pelayanan seperti itu dalam perkembangan Iptek tahun 2000? Inilah yang senantiasa menjadi masalah dan pergumulan orang Kristen.

Gereja dan rumah sakit misi sejak semula sudah terlibat langsung dalam pelayanan dan penerapan kedokteran modem di Indonesia. Karena itulah gereja dan rumah sakit Kristen harus rela manjawab tantangan perkembangan Iptek Kedokteran ke depan. Kita tidak boleh abstain, konsekuensi iman kistiani harus memberikan respon rela melayani dan menghadapi zaman baru ini. Pertanyaan “untuk apa semua ‘kemajuan rekayasa kedokteran yang kita punyai sekarang ini?”; adalah pertanyaan yang selalu relevan.

Sedangkan strategi World Health Organization (WHO) dalarn menyongsong milenium baru ialah: Health for all by the year of 2000. Sementara, Departemen Kesehatan kita mengantisipasi strategi itu dalam Sistem Kesehatan Nasional yang dituangkan dalam rencana jangka pendek dan panjang yang terperinci dan sistematis.

Pada saat yang bersamaan kita memasuki era globalisasi, informatika dan perkembangan rekayasa kedokteran yang pesat. Penetrasi kemajuan Iptek kedokteran ke negeri ini sedang berjalan dan tak dapat dibendung, bahkan kita mengalami percepatan-percepatan. Penerapan teknologi tinggi kedokteran itu pasti mengalami benturan-benturan dalam masyarakat.

Tantangan yang Kita Hadapi?

Ilmu kedokteran modern, dewasa ini mempunyai suatu ‘kuasa’ yang mempengaruhi manusia sebagai individu maupun sistem-sistem dalam masyarakat. Kekuasaan itu terletak pada rumah sakit, penemuan alat-alat baru yang menakjubkan, obat-obat manjur, dokter-dokter terampil dan berpengetahuan tinggi serta kemajuan dalam riset rekayasa biologi, genetika. Masyarakat modern menjadikan ‘mujizat’ kemajuan iptek kedokteran menjadi suatu kultur. Karena itu tidak jarang kita mendengar dan membaca di media massa tentang pujian dan sanjungan pada segala kecanggihan kedokteran. Tidak dapat disangkal bahwa teknologi tinggi kedokteran mempunyai banyak manfaat, tetapi juga padat modal sehingga biaya oprasionalnya mahal dan tidak terjangkau masyarakat.

Falsafah yang melatarbelakangi ilmu kedokteran modern ialah memerangi kematian dan menciptakan apa yang mereka sebutkan kualitas tinggi dari kehidupan. Memang dengan kekuasaan ilmu kedokteran kematian itu menjadi sesuatu kegagalan total. Sikap peperangan pada kematian adalah cerminan bahwa demikian takutnya manusia modern akan kematian tubuh ini. tidaklah heran mengapa di rumah sakit-rumah sakit modern dipasang fasilitas perawatan intensif berupa mesin-mesin pernafasan dan pacu jantung dengan teknologi sekedar untuk memperpanjang “kehidupan”.

Setiap insan kristiani percaya bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia itu berharga di mata pencipta-Nya dan kehidupan manusia itu kudus di mata Allah. Walaupun manusia memberontak kepada Allah secara terus menerus, tetapi Allah menyatakan kasih-Nya melalui karya penyelamatan Yesus Kristus di kayu salib.

Prinsip bahwa kehidupan manusia yang berharga dapat diinjak-injak oleh kesombongan kemajuan Iptek, membuat nilai lama bergeser. Kemajuan ilmu kebidanan dan penyakit kandungan menyebabkan kita “aman” dalam melakukan tindakan abortus. Keadaan ini kemudian membawa sikap dan nilai baru, bahwa janin bukan manusia seutuhnya. Itulah sebabnya ada ribuan janis diisap dari dalam rahim dengan alat vacum yang canggih dan dibuang ke tempat sampah. Riset-riset sedang berlangsung dewasa ini untuk menciptakan pil abortus yang aman yang kelak dapat di dapat di warung-warung, setelah diminum seseorang dapat melakukan abortus sendiri dengan sangat aman seperti pergi ke kamar kecil.

Kemajuan dalam diagnosa kehamilan dengan amniosentesis yaitu dengan mengambil sempel air ketuban kemudian dianalisis. Metode pemeriksaan ini dapat mendeteksi apakah anak yang akan lahir akan cacat atau normal. Belakangan ini berkembang lagi deteksi gen sebelum inplantasi sehingga kelainan dapat dideteksi pada saat yang sangat dini. Penerapan ilmu ini ialah legalisasi abortus janin cacat dengan dalih memperbaiki kualitas hidup manusia dan pemeliharaan anak manusia yang cacar tidak ekonomis. Teknik oprasi janin di dalam rahim ibu berkembang dengan maksud mengoreksi cacat janin.

Rekayasa genetik berkembang pesat, eknik rekombinasi DNA, menipulasi genetika, neurobiologi dan cloning. Cloning yaitu teknik membuat fotocopi manusia dengan transplantasi inti sel somati pembawa sifat pada indung telur yang telah dibuang intinya. Kemajuan ini berimpikasi  dapat diciptakannya ras manusia yang super genius atau karakteristik lain yang dikehendaki. Teknik yang lebih gila lagi yaitu riset chimerism yaitu fusi pembawa sifat manusia dan binatang, maka terbentuklah suatu mahkluk baru. Semua ini terdengar seperti dongeng, tetapi ini akan menjadi kenyataan karena teknologi berkuasa. Terjadilah proses dehumanisasi yang nyata. Nyatalah bahwa kemajuan Iptek kedokteran yang tinggi tanpa dasar iman akan menjadi sia-sia bahkan bencana.

Perkembangan transplantasi organ berkembang pesat, beberapa rumah sakit di Indonesia telah menjadi pusat transplantasi ginjal. Sekarang ini sudah dimulai transplantasi hati, paru, pankreas, dan organ-organ lain. Masalah dalam transplantasi ialah kurangnya donor dan akhirnya terjadilah jual beli organ manusia dan pencarian donor yang ilegal. Kita mendengar adanya iklan mencari donor ginjal dan juga iklan menjajakan satu dari ginjalnya demi uang.

Di pihak lain, penentuan saat kematian menjadi sangat penting dan kritis bagi donor kadaver. Saat kematian ialah tidak adanya gelombang elektris dari otak dalam rekaman elektroensedalogram menjadi lurus. Kematian otak ini dapat saja dengan jantung dan paru yang masih hidup. Beberapa ahli setuju untuk langsung saja mengambil organ-organ yang dapat ditransplantasikan pada penderita yang telah mati otak.

Biaya tinggi pada perawatan intensif dan cuci darah serta perawatan di rumah sakit menyebabkan pelayanan hanya bagi sekelompok penderita. Alat diagnosa dan test laboratorium yang mahal membuat perkembangan ilmu kedokteran menjadi benda asing bagi masyarakat miskin. Orang miskin yang mengidap penyakit ginjal khronis tidak mungkin membiayai dialisa atau transpalntasi ginjal.

Perubahan yang kita jalani memang sangat cepat, otak kita tak dapat merekam semua perubahan itu. Perkembangan Iptek mau tidak mau mengadakan revolusi dalam eksistensi manusai. Teknologi sebenarnya adalah hasil dari kreativitas yang memampukan manusia menguasai alam. Tetapi malangnya manusia sudah begitu tergantung pada teknologi itu, sehingga hidupnya menjadi tak berarti tanpa teknologi. Manusia ingin membebaskan diri dari teknologi, tetapi akhirnya menjadi budak teknologi.

Biaya riset yang dihabiskan untuk teknologi tinggi kedokteran beribu kali lipat dari usaha kesehatan primer, yakni air bersih, gizi, perumahan dan pemberantasan penyakit menular. Orang miskin yang dirawat dirumah sakit Kristen pun sekarang seperti penumpang taksi argo yang makin lama dirawat dan diperiksa akan bertambah hutangnya. Karna itu tak perlu heran bila banyak penderita yang pulang paksa. Begitu banyak masalah lain yang tak dapat dibahas satu persatu dalam tulisan ini. Apa yang dapat dilakukan umat percaya?

Sumbangsi Gereja

Memang tidak dapat disangkal. Ada banyak manfaat yang nyata dari perkembangan Iptek kedokteran bagi kesejahteraan manusia. Oleh karena itu orang percaya dalam gereja harus menjadi garam dan terang dalam benturan-benturan itu, tanpa larut dalam roh zaman ini.

Orang Samaria yang baik hati yang menolong orang yang menderita adalah suatu kebenaran yang merupakan kedudukan gereja dan rumah sakit Kristen. Secara alegoris sering dilukiskan penginapan itu sebagai rumah sakit, keledai sebagai ambulans, anggur sebagai obat-obatan dan uang sebagai usaha perawatan yang berkelanjutan. Orang Samaria itu ke luar ke jalanan mencari si sakit. Pendekatan seperti inilah yang diperlukan gereja dan rumah sakit Kristen.

Ada banyak silang pendapat tentang hal di atas. Namun, apapun argunen yang diberikan gereja haruslah berani membayar harga yang mahal seperti yang telah dilakukan Tuhan Yesus sendiri dalam menebus dosa manusia. Karena itulah, gereja dengan terang Alkitab menjadi penapis terhadap akan semua kemajuan Iptek kedokteran yang menurunkan martabat dan nilai kekudusan yang menurunkan martabat dan nilai kekudusan hidup manusia.

Dalam menilai Iptek kedokteran dan perkembangannya, gereja harus menilai apakah Iptek yang sudah dipunyai gereja dan dipakai untuk mewujudkan keselamatan dunia yang merupakan kerinduan gereja? Iptek tidak boleh membentuk sistem nilai baru di dalam gereja yang akhirnya mengikat gereja untuk berkompromi. Gereja bukan anti teknologi, tetapi justru mecari donor sukarela yang memberikan ginjalnya karena kasihnya pada sesama yang didorong oleh anugerah pengorbanan Kristus. Gereja juga harus berani berkata vokal bahwa ginjal tidak dapat diperjual belikan!

Kita harus menyangkal kuasa yang menjadikan Iptek suatu ketergantungan dan merupakan ilah baru. Tuhan Yesus berkata, “Di luar Aku satu pun tidak dapat ku perbuat.” Berbuat untuk Tuhan dalam perkembangan Iptek kedokteran haruslah di dalam Tuhan. Bukankah takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan?

 

*Dituliskan oleh Darmawan Sembiring, dokter spesialis Bedah pada Rumah Sakit Missi Bethesda Serukam Kalimantan Barat. Menikah dengan Debora, dan dikaruniakan seorang putera.

 

 

Leave a Reply