Samuel Tumanggor:
Menjadi Penunjang Bangsa

Semoga anak-anak lelaki kita seperti tanam-tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana! … Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya! (Mazmur 144:12,15)

</em>

B

ukan cuma pemerintah atau orang-orang bijak, Alkitab pun mengidealkan kaum muda sebagai tulang punggung bangsa. Jika tidak begitu, doa pemazmur di atas bagi anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan bangsanya tidak akan ditutup dengan kata-kata, “Berbahagialah bangsa yang demikan keadaannya!”

Bahagia, ya, bahagia. Melalui Daud, Allah sedang mengungkapkan kepada kita bahwa suatu bangsa bahagia jika memiliki anak-anak bangsa yang menunjangnya. Yang lelaki berjasa dan berkhasiat besar bagi bangsa ibarat tanam-tanaman; yang perempuan menyangga dan indah merias bangsa ibarat tiang-tiang penjuru pahatan. Mereka berkiprah di segala bidang—politik, ekonomi, sosial, seni, budaya, hankam, hukum, pertanian, peternakan, kelautan, pendidikan, kesehatan, dll—sehingga roda-roda kehidupan bangsa berputar lancar kepada kemajuan dan kebaikan. Itulah yang dipandang ideal oleh Allah dan itulah pula yang seharusnya dipandang ideal oleh umat Allah.

Sayangnya, banyak organisasi gereja dan lembaga pelayanan lalai mengacukan kaum muda Kristen kepada ideal tersebut. Muda-mudi Kristen sendiri, termasuk yang sudah banyak belajar Alkitab, terlengahkan dari ideal itu. Hari ini, jika remaja/pemuda Kristen diajari hidup saleh, jujur, dan bekerja keras, biasanya tekanannya lebih kepada supaya mereka dikenan Allah. Tetapi di mana ditekankan supaya mereka menggenapi ideal Allah bagi bangsa? Jika mereka berhasil menjadi orang penting, mereka sendiri, akibat penekanan yang didapat selama ini, lekas berpikir soal “menjadi saksi Kristus.” Itu tidak salah. Tetapi di mana pemikiran bahwa menjadi orang penting berarti juga memenuhi ideal Allah bagi bangsa?

Tekanan macam itu menyebabkan banyak remaja/pemuda Kristen hidup tanpa wawasan kebangsaan, tanpa mengarahkan diri untuk menjadi tanam-tanaman dan tiang-tiang penjuru bagi bangsa. Ini tentu saja berpengaruh besar kepada peran umat Kristen serta perwujudan kehendak Allah dalam berbagai bidang kehidupan bangsa. Ketika kaum muda Kristen tidak/kurang mengarahkan diri untuk menjadi penunjang bangsa, umat Kristen berhenti/kurang menyumbang penunjang bangsa. Lebih repot lagi kalau kamu muda umat lain juga kurang mengarahkan diri untuk menunjang bangsa, tetapi lebih banyak berpikir untuk menunjang agamanya. Allah kehilangan agen-agen pewujud kehendak-Nya di kancah bangsa.

Bangsa yang demikian pasti nelangsa. Ia jadi rapuh, reot, dan rentan karena kaum mudanya tidak ambil pusing soal menjadi tulang punggung bangsa. Di dalam dirinya, dan juga di mata Allah (berdasarkan mazmur di atas), bangsa itu sama sekali tidak “bahagia.”

 

Mengapa Lalai?

            Mengapa banyak organisasi gereja, lembaga pelayanan, dan muda-mudi Kristen melalaikan bangsa? Saya bisa pikirkan beberapa jawaban:

A.        Tidak menyadari takdir berbangsa dan maksud Allah bagi bangsa.

Takdir dan maksud Allah ini dinyatakan Rasul Paulus di depan bangsa Yunani: “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing” (Kis. 17:26-27, tekanan oleh saya).

Di sini kita lihat Alkitab menyakan bahwa bangsa—“semua bangsa”—dijadikan, diciptakan, dibentuk, dimunculkan oleh Allah. Dan tujuan Allah membuat manusia berbangsa adalah “supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia,” yaitu supaya mereka mengalami Dia dalam hidup berbangsanya. Masa depan bangsa/berbangsa pun kekal, karena Kitab Suci meramalkan: “Segala bangsa yang Kau jadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu” (Mzm. 86:9).

Jika fakta-fakta gamblang itu tidak kita sadari, salah satunya karena tak pernah ditekankan di gereja atau lembaga pelayanan, tentu saja kita tidak memahami makna penting bangsa di mata Allah bagi perikehidupan manusia. Dan jika kita tidak memahami makna penting bangsa, tentu saja kita tidak akan ambil pusing untuk menjadi tanam-tanaman dan tiang-tiang penjuru bagi bangsa.

 

B.        Tidak memaknai selarasnya kewargaan surga dengan kewargaan bumi

            Meski Paulus berkata, “Kewargaan kita [umat Allah] adalah di dalam sorga” (Fil. 3:20), ia pun berkata, “Ingatkanlah mereka [umat Allah] supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan baik” (Tit. 3:1). Dengan begitu Alkitab menandaskan pemaknaan yang berimbang dan selaras terhadap kewargaan surga dan kewargaan bumi (Indonesia).

Jika kita menganggap kewargaan surga penting tetapi kewargaan bumi tidak/kurang penting, jelas kita akan penuh gairah untuk ber-PA, PD, PI tetapi loyo untuk “melakukan setiap pekerjaan yang baik” bagi kemajuan bangsa. Jika kita menganggap kewargaan surga lebih unggu daripada, bukannya selaras dengan, kewargaan bumi, jelas kita akan bersorak-sorai menonton perkembangan Gereja tetapi datar-datar saja menyaksikan keluruhan bangsa. Mungkin keluruhan bangsa malah membuat kita ingin lebih cepat pulang ke “tanah air surgawi,” bukannya ingin menjajalkan pengaruh “garam” dan “terang” terhadap busuk dan suram yang melanda tanah tumpah darah.

Itu menyedihkan. Itu pada hakikatnya menyangkali doa kita sendiri, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”

 

C.        Mengira remaja/pemuda “lahir baru” otomatis jadi “pembaharu” bangsa

            Dalam surat-suratnya, Paulus menandaskan soal “bertumbuh” (Ef.4:15) dan “mengerjakan keselamatan” (Fil. 2:12). Artinya, kita tak boleh mengira bahwa orang (remaja/pemuda) yang diselamatkan Kristus otomatis memahami seluruh ideal Allah bagi hidupnya, termasuk ideal tentang menjadi tulang punggung bangsa. Ia perlu bertumbuh dalam hal perangai dan pengertian sehingga dapat menunjang bangsa sebagai salah satu wujud pengelolaan (“mengerjakan”) keselamatannya.

Jika organisasi gereja dan lembaga pelayanan menghindari perkiraan salah itu dan mulai serius mengajarkan ideal Allah tentang tulang punggung bangsa, tidakkah kita akan melihat kebangkitan muda-mudi Kristen sebagai para penunjang bangsa?

 

Penekanan Baru

            Bercermin kepada semua itu, saya kira kita tidak dapat lagi melalaikan bangsa. Ideal Allah dan keadaan zaman menuntut kita, karena saat ini pun selaksa dilema menyeret bangsa kita menjauhi bahagia. Ada pembusukan dan penyuraman di berbagai kehidupan kita!

Di titik ini organisasi gereja dan lembaga pelayanan harus insaf dan mulai mengacukan kaum muda Kristen kepada ideal Allah tentang tulang punggung bangsa. Muda-mudi Kristen sendiri harus mulai mengarahkan diri kepada ideal itu. Penekanan baru harus kita buat demi bangkitnya kawula muda yang:

 

A.        Cinta dan bangga kepada bangsa

            Seperti Daud bin Isai, raja Israel. Kita ingat bagaimana Daud muda menyongsong raksasa Goliat karena hendak “menghindarkan cemooh dari Israel”—dari bangsanya (I Sam. 17:26). Cinta dan kebanggaan menggugahnya untuk berjuang memupus cela atas bangsa.

Bukankah cap-cap buruk tentang Indonesia pun serupa Goliat-Goliat yang mencemooh bangsa kia? “Bangsa terkorup ke-2 di Asia dan ke-5 di dunia,” “bangsa yang malas dan manja,” “hasil bumi banyak tapi miskin, datang minta sedekah di Malaysia,” dsb.—ketika semua ini mendenging di telinga, tergugahkah kita oleh cinta dan kebanggaan? Demi Tuhan dan demi bangsa, kita juga wajib menghindarkan cemooh dari Indonesia lewat setiap bidang panggilan kita dan menurut kapasitas iman kita.

 

B.        Menemukan dan mengerjakan bagian yang ditentukan Allah dalam menunjang bangsa

            Seperti Yosia bin Amon, raja Yehuda. Ia mulai mencari Allah di usia 16 tahun dan mulai membersihkan bangsanya dari kecemaran dosa di usia 20 tahun (2 Taw. 34:1-3). Masih muda sekali! Daud, bapak leluhurnya, pasti girang karena dia.

Tetapi kiprahnya bukan secara “rohani” saja. Kepada Yoyakim, putera Yosia yang fasik, Allah pernah berfirman, “[Ayahmu] melakukan keadilan dan kebenaran, serta mengadili perkara orang sengsara dan orang miskin dengan adil. Bukankah itu namanya mengenal Aku?” (Yer. 22:15-16). Yosia telah memahami bagiannya dalam menunjang bangsa dan melaksanakannya dengan sekuat tenaga.

Hari ini ketidakbenaran yang menjangkiti bangsa Indonesia di segala sektor menantang kaum muda tampil menjadi para pembaharu. Sebagaimana Yosia, tidakkah kita akan mencari Allah sejak belia dan mengetahui bagian kita dalam menunjang bangsa? Segala bekal rohani, segala hikmat dan kapasitas dari surga, perlu kita corongkan untuk memajukan dan membersihkan bangsa dengan “melakukan keadilan dan kebenaran.” Menurut Alkitab, itu namanya mengenal Allah.

 

C.        Mengupayakan kesejahteraan bangsa

            Seperti Johannes Leimena, negarawan asal Ambon. Ia belajar giat hingga menjadi dokter, lalu negarawan, yang cakap. Waktu menjabat Menteri Kesehatan, dipikirkannya cara supaya rakyat Indonesia bisa mendapat pelayanan kesehatan yang mudah dan murah. Dari sinilah lahir balai-balai kesehatan masyarakat—Puskesmas!—di seantero Indonesia.

Kita pun dapat, dengan pertolongan Tuhan, mengunjuk sumbangsih mulia sesuai dengan bidang gelutan masing-masing. Kita dapat menuntut ilmu segigih-gigihnya; merancang gedung yang kuat dan indah; menggubah lagu cinta yang luhur; mengembangkan benih unggulan; dll. Apa pun bidang yang dijatahkan Allah, kita harus menggarap dan menyasarkannya kepada kesejahteraan bangsa.

 

D.        Rela berkorbang bagi bangsa

            Seperti Robert Wolter Monginsidi, pahlawan asal Minahasa. Ia mencintai Allah dan Indonesia sampai akhir hayatnya, di ujung laras senapan regu tembak Belanda. “Berkorban untuk tanah air,” tulisnya, “mendekati pengenalan kepad Tuhan Yang Maha Esa.” Ia rupanya sangat menjiwai sabda Kristus sendiri: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).

Dalam mencinta, dalam berkiprah, dalam berupaya, dalam mengejar ideal selalu ada pengorbanan—peluh, waktu, air mata, harta benda, bahkan darah. Kita yang mencium aroma ideal Allah, tidak akan menahan semua itu dari bangsa. Sebaliknya, seperti Monginsidi, kita akan tunjukkan bahwa kaum mudah pengikut Kristus amat mudah menghayati syair agung ini: “Bagimu negeri jiwa raga kami.”

Kemudaan dan kebahagiaan! Ideal Allah memang tepat, bangsa bahagia apabila anak-anaknya menunjangnya. Jiwa-jiwa mudah, seperti empat yang di atas, memperagakan kepada kita bahwa iman kepada Allah bukan cuma urusan di gereja/persekutuan belaka, melainkan di tengah bangsa pula. Maka bangunlah, hai pemuda pemudi, hai tanam-tanaman dan tiang-tiang penjuru, untuk menjadi penunjang bangsa. Singsingkanlah lengan baju bagi nusa supaya genap sabda Alkitab, “Berbahagialah bangsa yang demikian keadaannya!”

 

—— Dituliskan oleh Samuel Tumanggor Penulis Buku Penyunting Lepas di Lembaga Alkitab Indonesia
—— Diterbitkan pada edisi no.2 tahun ke-XXIV 2010 ‘Memulai sesuatu untuk perubahan masyarakat’

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini