Ruth Yuni T. Imanti,:
Berpengaruh atau Memengaruhi

Pernahkah seseorang berkata kepada Anda, “Saya melakukan ini karena saya ingat kata-kata Anda waktu itu, yang menginspirasi saya”?

John Maxwell, di dalam bukunya yang menulis tentang teori kepemimpinan mengatakan, bahwa inti dari ciri kepemimpinan adalah adanya “pengaruh” pada diri seseorang. Itu berarti bahwa seseorang yang memiliki karakter pemimpin pasti memiliki pengikut, karena ia terjaring oleh pengaruh yang dipancarkannya.

Sekarang ini, ada fenomena follower pada media sosial seperti Twitter. Berdasarkan pengamatan awam, saya melihat bahwa reaksi yang muncul di media tentang fenomena sosial ini sangat beragam. Bagi sang pemilik akun, banyaknya follower dapat dijadikan sebagai ukuran popularitas. Namun, saya berpendapat lain. Follower tidak selalu bermakna pengikut yang loyal dari orang yang ia ikuti. Bisa saja ada motivasi lain di balik kesediaannya menjadi follower. Tak jarang follower tersebut hanya memenuhi rasa ingin tahunya pada sosok yang diikuti.

Yang dimaksudkan oleh Maxwell tentang pengikut karena dipengaruhi oleh pemimpinnya tentu bukan semata-mata mengukur popularitas. Pengikut yang dimaksudnya mengindikasikan adanya kekuatan yang mampu mendorong orang lain berpartisipasi terhadap suatu gagasan atau pemikiran. Secara sederhana, pengikut terinspirasi sesuatu yang diekspresikan oleh seseorang yang dianggap berpengaruh. Berdasarkan pemahaman inilah saya menggaris bawahi, bahwa ciri utama kepemimpinan seseorang adalah karena kemampuannya memberi inspirasi yang membangkitkan kegairahan bagi orang lain untuk mencapai nilai tertentu. Popularitas tidak selalu menjadi ukuran pengaruh seseorang, karena banyak orang yang populer tapi tidak dapat menginspirasi kehidupan yang lebih baik.

Kata “pengaruh” itu sendiri tidak selalu bermakna positif. Pengaruh sangat terkait dengan energi yang dipancarkan oleh ekspresi seseorang. Ketika seseorang marah atau sedih, ada energi juga yang terpancar pada dirinya dan mempengaruhi sekitarnya. Biasanya pengaruhnya akan bersifat negatif, di mana orang akan tertekan, ikut sedih, ikut marah, atau reaksi emosional destruktif lainnya. Namun ada pula orang yang di tengah situasi tersebut tetap bisa tersenyum seolah tidak terpengaruh oleh adanya energi negatif di sekitarnya. Tetapi secara jujur, orang ini sebenarnya juga terpengaruh, karena sebagian dari energi positif yang ada pada dirinya terkurangi oleh aksi negatif dari sekitarnya. Terkait dengan hal ini, maka saya membatasi makna “pengaruh” hanya pada pengaruh positif yang dapat dipancarkan oleh diri seseorang.

Efesus 2:10 mengingatkan kepada orang Kristen, bahwa ia diciptakan Allah untuk melakukan pekerjaan baik. Itu sebabnya Allah menciptkan manusia segambar dengan peta dan teladan Allah, yang diberi mandat untuk mengolah (to conserve) dunia ini. Hanya manusia yang memikirkan bagaimana ia ingin diingat selama ia hidup, yang akan menjalani hidup ini dengan sikap hati-hati. Hanya orang-orang yang mengasihi Allah yang memikirkan cara hidupnya agar Allah tidak menyesal menciptakannya. Bagaimana orang mengenal saya dan Anda selama masih hidup, menjadi sesuatu yang penting untuk diupayakan. Sangat penting bagi saya orang mengingat saya sebagai seseorang yang bijak dalam mengelola hidup, dan bukannya orang fasik. Orang akan menjadi bersyukur karena mengenal saya dan bukannya menyesal. Sikap respek orang lain tentang hidup saya, rasa syukur dan bahkan terinspirasi oleh hidup saya, pasti menjadi kerinduan Anda juga. Di dalam Kristus, orang Kristen berlomba untuk mendapatkan tempat yang terbaik dalam menjalankan peran sebagai garam dan terang bagi dunia ini. Itu artinya, saya dan Anda sedang berjuang untuk memiliki pengaruh, agar dapat mencapai tujuan kita diciptakan, sebagaimana yang dirindukan Allah.

Menjadi garam dan terang, bagi orang Kristen bukanlah pilihan. Jika orang kristen sudah menjadi tawar, maka akan diinjak-injak orang. Artinya, hidupnya hanya kesia-siaan, alias tak berguna. Tentu tidak satupun yang menginginkan hidupnya dianggap sia-sia atau tak berguna. Kebanggaan hidup adalah makna yang mampu diciptakan, dan itulah kebahagiaan manusia ketika kita mati. Harta dan gelar tak dapat dibawa, tetapi makna, akan tercatat di dalam kitab kehidupan.

Dunia ini tengah berada pada proses pembusukan. Kegelisahan semua orang di muka bumi ini tentang banyaknya fenomena kejahatan, kerusakan alam, ketidaknyamanan hidup bersama, kelelahan berbuat baik, semua itu indikator dari perubahan yang mengarah kepada kehancuran. Surga digambarkan di Perjanjian Lama sebagai suatu tempat di mana singa dan domba dapat makan bersama dalam satu palungan. Gambaran itu mau mengekspresikan kedamaian dan ketenteraman, di mana setiap makhluk hidup berada dalam ekosistem yang tidak saling mengancam. Manusia dan manusia lainnya bukan menjadi musuh yang dapat memusnahkan atau mengancam keberadaan sesamanya. Manakala setiap makhluk di bumi ini menjadi ancaman antara satu dengan lainnya, maka pembusukan itu tengah terjadi. Tuhan memberi mandat budaya kepada orang percaya, agar pembusukan itu dicegah, sehingga tercapailah damai sejahtera atas segala makhluk. Perintah Tuhan Yesus pada Markus 16:15 untuk memberitakan injil kepada segala makhluk mengisyaratkan, bahwa penginjilan bukan hanya berurusan dengan manusia semata. Manusia yang dijadikan pusat penginjilan harus bisa memberikan pengaruh penginjilan itu pada lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, penginjilan itu adalah bagian dari penghentian proses pembusukan dunia. Itu sebabnya, Tuhan mengatakan pada murid-Nya bahwa setiap orang percaya adalah garam dan terang dunia. Garam menekankan dampak positif, sedangkan terang menekankan unsur energi yang berpengaruh. Dengan demikian orang Kristen seharusnya memiliki energi yang berdampak positif. Jika tidak, maka ia tidak akan dianggap berguna atau sia-sia.

Tidak perlu memiliki posisi tertentu untuk memberi pengaruh. Allah sudah memberikan kuasa kepada setiap orang Kristen, yang membuat energi yang terpancar pada dirinya dapat powerful. Tetapi mentalitas orang Kristen kadang kala mengerdilkan kuasa yang Allah dalam dirinya. Ketidakpercayaan diri, kemalasan, kekuatiran, ketidakpedulian, adalah sikap-sikap yang membuat energi pada diri orang Kristen menjadi terpendam. Dengan memendamnya, ia tidak lagi memiliki kualitas keunggulan yang dapat memaknai lingkungannya. Ini adalah bentuk kegagalan bertumbuh dalam kematangan iman dan mental, yang membuat orang Kristen akhirnya hanya menjadi cemoohan. Gambaran akan hal ini terjadi dalam kehidupan bangsa Israel yang dijumpai dalam kitab Keluaran disebut sebagai bangsa tegar tengkuk. Ketegaran mereka untuk tidak mengandalkan keberadaan dan kuasa Allah, lalu berpaling pada allah lain, menjadi cemoohan bagi bangsa lain. Orang Kristen wajib mengawasi perilaku dan ajarannya, yaitu dengan terus-menerus berintrospeksi diri, agar tetap menjaga kualitas pengaruh yang dapat dipancarkan kepada orang lain. Apakah gaya hidup kita tidak merugikan diri sendiri dan orang lain? Sudahkah kehadiran kita memberi suka cita bagi orang lain? Sudahkah kata-kata kita tidak membunuh karakter orang lain? Ukuran itulah yang dapat dijadikan parameter sederhana untuk mengeveluasi diri. Kualitas sikap, perilaku, kata-kata, pemikiran dan karya yang dihasilkan, merupakan alat yang memberi pengaruh besar bagi lingkungan sekitar.

Masa-masa menjadi mahasiswa adalah saat membangun idealisme, baik secara spiritual, mental, sosial dan politik. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk menjadi mahasiswa, oleh sebab itu Allah menaruh harapan bahwa idealisme yang dimiliki para mahasiswa dapat memperkuat kualitas pengaruh yang ada pada dirinya bagi bangsa dan negara. Tetapi tentu harus dipahami, bahwa tidak ada satupun manusia yang dapat mengubah dunia, karena peperangan di dunia ini bukan melawan darah dan daging (Efesus 6: 10-12). Memulai perubahan harus dimulai dari diri sendiri, dilakukan bersama-sama dengan Alah dan sesama. Kerendahan dan kelembutan hati harus menjadi karakter utama, karena hanya dengan karakter inilah dunia dapat dikuasai (Matius 5:5). Dengan kerendahan dan kelembutan hati, orang Kristen dapat menghargai sesama Kristen yang juga memiliki energi yang dikaruniakan Allah untuk mempengaruhi dunia. Setiap orang yang dapat menghargai karunia sesamanya, akan mampu bekerja secara sistematis memberi pengaruh yang lebih besar. Jangan pernah bermimpi untuk dapat mengubah dunia ini seorang diri. Kristus saja memakai 12 murid dan 70 lainnya untuk menjalankan misi di dunia. Doa sang katak yang dituliskan oleh Antony de Mello mengatakan bahwa dengan mengubah diri, maka seseorang memulai langkah besar untuk mengubah dunia. Oleh sebab itu, untuk mengubah bangsa dan negara, orang Kristen harus terus-menerus menjadi manusia pembelajar, baik secara pribadi maupun dalam komunitasnya.

Bagaimana mulai membangun pengaruh? Setiap pribadi memiliki ketergantungan yang kuat terhadap keluarga. Keluarga yang sadar akan pentingnya membangun manusia-manusia berpengaruh (positif), maka mereka akan membangun keluarga yang terbuka terhadap proses pembelajaran. Keluarga adalah batu ujian pertama yang dapat membangun mental yang kuat. Tidak sedikit hanya karena masalah keluarga, orang Kristen jadi meragukan Allah dan meninggalkan persekutuan. Kemampuan seseorang memahami pembentukan Allah melalui keluarga dengan karakteristik apapun adalah hikmat utama, sebagaimana dikatakan Amsal bahwa “permulaan hikmat adalah Takut akan Allah.” Dan, orang tua yang senantiasa menanamkan nilai takut akan Allah akan menghasilkan anggota keluarga yang berpengaruh tanpa bersusah payah mempengaruhi orang di sekitarnya.

Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. (Amsal 22:1)

———–

* penulis adalah Ruth Yuni T. Imanti, konsultan HR,  melayani sebagai majelis jemaat GPIB Petra Bogor
** Diterbikan dalam majalah Dia edisi II tahun 2013

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini