Yulius Tandyanto:
Pemula

[M]enjadi seperti anak kecil …
—Mat 18:4

Ivan menghela napasnya. Ia kembali memosisikan kaki kanannya pada pedal sepeda roda duanya. Tak berapa lama kemudian, Ivan mengayuhkan pedalnya. Sepeda pun meluncur perlahan, meski arahnya masih tak beraturan. Sesekali Ivan mengarahkan perhatiannya pada jalanan sementara ia berkonsentrasi penuh demi menjaga keseimbangan laju sepedanya. Air mukanya menegang. Dan … Brak! Kali ini Ivan menabrak pohon.

Barangkali ada dua pilihan yang terpikir oleh Ivan pada saat itu. Pertama, ia berhenti belajar naik sepeda. Toh, sang ayah akan senantiasa mengantar dirinya ke SDN Jatipadang dengan sepeda ontelnya. Namun, impian Ivan untuk bisa naik sepeda seperti ayahnya tentulah kandas. Pilihan kedua tak lain dan tak bukan bila ia mencoba belajar bersepeda lagi dengan satu tekad: bisa bersepeda. Mungkin Ivan akan menabrak pohon dan pagar lagi, mungkin Ivan akan terjatuh dan berdarah, dan mungkin Ivan sendiri tak yakin apakah ia dapat bersepeda atau tidak pada akhirnya.

Lepas dari apapun pilihannya, bolehlah kita sebut Ivan sebagai seorang pemula. Pasalnya, Ivan betul-betul berinteraksi langsung dengan benda yang menarik perhatiannya: sepeda mininya. Ia mengamati, memegang, dan mencoba mengendarainya. Ada rasa senang yang bercampur dengan kebingungannya. Di satu sisi, ia senang bagaimana sepeda dapat melaju—seperti saat dibonceng oleh ayahnya. Di sisi lain, ia tak habis pikir karena sejauh ia mencoba bersepeda, ia selalu terjatuh ataupun menabrak. Boleh jadi di dalam kepolosannya Ivan akan terus mencari cara sampai ia dapat mengendarai sepeda mininya dengan lancar. Tentu dengan catatan bahwa Ivan tidak menyerah.

Pengalaman Ivan tersebut tentu sangat berkesan bagi dirinya. Tapi, mungkin tidak bagi Anda dan saya yang telah melewati masa kanak-kanak dan persepedaan. Bahkan, di antara kita mungkin ada yang ahli dalam atraksi bersepeda: melayang di udara (high air) ataupun gerakan berputar 360 derajat saat melayang di udara (backflip). Dalam benak kita, mereka yang mampu melakukan atraksi tersebut tentulah bukan seorang pemula. Tapi, pada kenyataannya, bisa jadi para pesepeda tersebut merasa dirinya adalah seorang pemula dalam dunia atraksi sepeda ekstrem.

Barangkali perasaan itu sama seperti setiap kita yang merasa diri sebagai seorang pemula di hadapan kehidupan senyata-nyatanya. Setiap kita menggeluti kehidupan dengan keunikan pengalamannya masing-masing. Dan dari setiap pengalaman itu, kita memilah dan memilih pengalaman-pengalaman tertentu untuk diendapkan menjadi kristal-kristal makna. Meski demikian, kristal-kristal makna itu tak pernah tetap. Ia melesap dan melebur di dalam situasi kita yang terkini. “Perasaan akan sesuatu itu bertumbuh,” dalam bahasa Ni Made Purnama Sari—sang penyair muda.

Sensasi pengalaman Purnama saat pertama kali indekos di wilayah Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta, pada tahun 2015 mungkin akan jauh berbeda ketika pada saat ini juga ia kembali mengunjunginya lagi. Tapi, pengalaman Purnama sebagai seorang pemula di Benhil menunjukkan kepolosannya di hadapan kehidupan: ia tak berprentensi menjadi seorang yang menguasai pernak-pernik kehidupan Benhil. Sebaliknya, ia berdialog dengan segala keadaan di Benhil sebagaimana tertuang dalam syair puisinya berjudul “Paskah di Benhil”:

Sambil boncengan naik ojek
Bersama teman aku pintas petang dini
di bendungan hilir

Toko fotokopi langganan tutup
Warung ketupat sayur juga tutup
Jiwa kami bagai kaleng minuman bekas
tandas dilindas hampa
Dipungut pemulung barang loakan

Mengucap haleluya
temanku menyeru sapa tukang parkir
Dibalas lantang juga
dengan bau asam keringat orang miskin
dengan keluh beras mahal, cicilan rumah mahal
dikulum senyum pasrah bersahabat

Mungkin pasien, mungkin bukan
Menunggu angkutan umum
di depan rumah sakit
Tabah seperti pohon
diterjang banjir, dikepung keluh kota
Tabah untuk bertahan tumbuh
dalam hidup yang kikis

Hampir saja ojek menyerempet
seorang tukang rujak keliling!
di seberang sana: makelar batu akik
pedagang asinan, seketika memekik
Awas ingatkan marabahaya
tapi apa tanpa daya

Sampailah di gereja samping sekolah
simpang jalan danau toba
Pada temanku, aku bertanya
Sungguhkah kau mau berhenti di sini?

Barangkali menjadi seorang pemula berarti bersikap polos di hadapan setiap pengalaman hidupnya. Kita diajak kembali untuk mempertanyakan segala sesuatu yang sudah kita anggap biasa. Mungkin saja di balik setiap peristiwa yang kita anggap biasa, sesungguhnya tersembunyi kedalaman-kedalaman tak bertepi. Dan mungkin pada saat itu, muncul satu tanda tanya yang paling polos, yang terlahir dari relung batin yang paling sepi, dan yang sekaligus menyiksa setiap jiwa: sudah benarkah keyakinanku tentang … (entah itu perkara aktual seperti kontroversi Ahok, Awkarin, atau perubahan susunan kabinet Jokowi sampai urusan sorga)?

Rasanya tak ada jawaban yang mudah. Toh, kehidupan juga terus berlanjut tanpa peduli apapun jawaban kita. Tapi, mungkin saja untuk pertama kalinya satu sabda tua akan terdengar merdu bagi telinga para pemula, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini