Ayu Aditiarani S., S. Th.:
Cerdas Rohani di Tengah Pandemi

SITUASI pandemi yang menghantui seluruh dunia berdampak dalam segala sisi kehidupan, termasuk dalam hal kerohanian atau keagamaan. Banyak yang kehilangan anggota keluarganya, bahkan tidak sedikit pula yang menjadi sebatang kara akibat wabah yang merenggut kedua orang tua. Keputusasaan, ketakutan, dan kekuatiran mudah menghampiri semua orang di masa-masa, dimana seolah-olah pemeliharaan Ilahi tak lagi diyakini.

Banyak orang terfokus pada sektor ekonomi akibat berbagai pembatasan yang mengakibatkan banyak perusahaan gulung tikar hingga menyebabkan banyak pengangguran karena terkena PHK, namun melupakan sektor kerohanian yang justru sangat mempengaruhi ketahanan mental seseorang untuk tetap kuat menghadapi situasi pandemi sekarang ini. Padahal, sebagaimana dilaporkan oleh Antara, data Kementerian kesehatan menyebutkan kasus gangguan mental dan depresi di Indonesia mengalami peningkatan hingga 6,5 persen (sekitar 12 juta jiwa pada kelompok usia produktif [15-50 tahun]) selama pandemi COVID-19 berlangsung.[1]

Dalam pandangan penulis, segala bentuk gangguan mental tersebut dapat diantisipasi dengan cara meningkatkan kecerdasan rohani. Kecerdasan rohani harus dimiliki setiap orang, dan bahkan di kalangan rohaniawan, karena mereka diharapkan dapat mendampingi menolong orang-orang dan dirinya sendiri untuk tetap kuat menjalani kehidupan di kala pandemi.

Memahami Kemahakuasaan Tuhan

Ada dua hal yang perlu dilakukan untuk memiliki kecerdasan rohani, yakni memahami Kemahakuasaan Tuhan dan hidup bergaul dengan Dia. Untuk dapat memahami Kemahakuasaan-Nya, diperlukan hikmat yang hanya datang dariNya. Amsal 2:6 menyatakan, “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” Pernyataan ini konsisten dan selaras dengan Amsal 1:7, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Hikmat diperlukan untuk mendapatkan pengetahuan, dan pengetahuan yang ingin didapatkan adalah pengetahuan akan Kemahakuasaan Tuhan, sedangkan permulaan pengetahuan adalah takut akan Tuhan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa takut akan Tuhan adalah dasar untuk memahami kemahakuasaan Tuhan.

Seseorang yang tidak memiliki rasa takut akan Tuhan tidak akan dapat memahami Kemahakuasaan Tuhan. Selain menjadi seorang ateis yang terang-terangan menolak konsep dan keberadaan Tuhan, seorang beragama dapat pula (secara tidak langsung) tidak memiliki rasa takut akan Tuhan. Ada kasus-kasus, dimana pelaku penimbunan masker hingga korupsi bantuan sosial justru adalah orang-orang yang rajin beribadah, seolah-olah Tuhan hanya hidup dan berkuasa di dalam rumah-rumah ibadah saja.

Meskipun secara umum setiap orang mengetahui, bahwa Kemahakuasaan Tuhan dapat diartikan sebagai Tuhan yang berkuasa melakukan segala yang dikehendaki-Nya, namun orang yang takut akan Tuhan akan lebih memahami kemahakuasaan Tuhan sampai kepada tujuan yang Tuhan maksudkan ketika Tuhan melakukan sesuatu. Inilah kecerdasan rohani tahap pertama: senantiasa berusaha untuk mengetahui tujuan dan maksud Tuhan dalam segala hal.

Hidup bergaul dengan Tuhan

Langkah berikutnya untuk memiliki kecerdasan rohani adalah hidup bergaul dengan Tuhan. Kecerdasan rohani tidak cukup didapatkan hanya dengan membaca buku-buku tentang kerohanian seperti cara yang dilakukan dalam meningkatkan kecerdasan seseorang pada umumnya, melainkan juga berfokus kepada Tuhan yang adalah sumber pengetahuan itu sendiri. Hidup bergaul dengan Tuhan berarti memusatkan kehidupan kepada Tuhan. Satu tokoh Alkitab yang bisa kita teladani adalah Daud bin Isai.

Daud adalah seorang yang hidup bergaul dengan Tuhan. Dalam setiap sisi kehidupannya, baik suka maupun duka, Daud tetap berfokus kepada Tuhan. Ketika tabut Perjanjian Tuhan dipindahkan ke kota Daud, ia tak henti-hentinya memuji Tuhan, melompat-lompat, menari bagi Tuhan (1 Tawarikh 15:29). Dalam sukacita maupun dalam setiap himpitan kesukaran, Daud tetap memuji Tuhan dan bermazmur bagi Tuhan. Kitab Mazmur adalah suatu bukti akan kehidupan Daud yang senantiasa bergaul dengan Tuhan. Kecerdasan rohani yang dimiliki oleh Daud membuat Daud selalu lolos dalam setiap kesukaran, menang dalam setiap peperangan, dan bangkit dalam kejatuhan.

Hidup bergaul dengan Tuhan dapat dilakukan dengan meningkatkan intensitas hubungan dengan Tuhan. Jika biasanya kita membaca Alkitab hanya seperlunya saja, maka perlu kita tingkatkan frekuensinya dengan menyediakan waktu secara khusus untuk membaca Alkitab, misalnya selama tiga puluh menit atau sepuluh pasal setiap hari. Membaca buku-buku rohani juga diperlukan untuk menambah pengetahuan dan mendapatkan inspirasi. Kita juga perlu meningkatkan waktu “berduaan” bersama Tuhan. Sediakanlah waktu khusus untuk berdoa kepada Tuhan setiap hari, selain berdoa setiap saat dalam hati. Kita juga dapat mulai belajar untuk berpuasa agar dapat memfokuskan hati dan pikiran kepada Tuhan, serta bersyukur setiap waktu kepada Tuhan dengan puji-pujian.

Menjadi cerdas rohani di tengah pandemi harus diupayakan secara maksimal. Supaya ketika badai itu datang, segala ketakutan dan kekuatiran dapat diatasi, bahkan mengetahui jalan keluar yang Tuhan sediakan. Dengan berusaha memahami Kemahakuasaan Tuhan dan hidup bergaul dengan Dia, kecerdasan rohani akan menjadi bekal untuk menghadapi segala macam badai kehidupan dan memperoleh kemenangan yang dari Tuhan.


[1] https://www.antaranews.com/berita/2462425/generasi-pandemi-hadapi-ancaman-kesehatan-mental

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *