Dany Christopher:
Ibadah Dari Ruang Pribadi ke Ruang Publik

 

Waktu teduh pribadi dan kebaktian berjemaat adalah dua elemen dalam ibadah kristiani yang pertama pun memiliki keterkaitan yang erat satu dengan yang lainnya. Walaupun penting, toh ada kecenderungan untuk mengecilkan pentingnya entah ibadah personal, ibadah komunal, atau bahkan kedua-duanya. Juga ada kecenderungan untuk mengabaikan keterkaitan antara ibadah personal dan komunal.

Tujuan penulisan artikel ini ada dua. Pertama adalah untuk menunjukkan pentingnya ibadah personal dan komunal. Kedua adalah untuk menunjukkan pentingnya keterkaitan antara ibadah personal dan komunal.

  1. lbadah dalam Ruang Pribadi

“Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi la mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.” (Luk 5: l 5- l 6)

lbadah dalam ruang pribadi berarti mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi untuk bersekutu dengan Tuhan. lnilah yang Kristus lakukan. Bahkan ini adalah kebiasaan dari Kristus (NlV But Jesus often withdrew to lonely places and prayed; bdk. Luk 6:12; 9: 1-8, 28; 11 : l). la tidak hanyut dalam aktivisme semata.

Tidak demikian halnya dengan kita. Kita adalah produk jaman yang mengutamakan kesibukan, aktivisme, dan kebisingan. Kita harus sibuk. Kita terbiasa sibuk. Kita tidak bisa kalau tidak sibuk. Jika tidak ada kesibukan maka kita akan berusaha menyibukkan diri dengan sesuatu: Membaca koran, menonton film, berita atau infotaiment, sms, fesbuk, email, atau sekedar menelepon. Kita tidak nyaman kalau tidak ada kesibukan. Aneh rasanya jika tiba-tiba semuanya tidak ada. Tidak ada suara televisi, CD, radio; tidak ada bahan bacaan; tidak bisa kontak dengan orang lain melalui handphone sama sekali. Dunia membuat kita tahu akan segala sesuatu kecuali diri kita sendiri.

Kita takut menyendiri karena pada saat itulah, mau tidak mau, hanya tinggal diri kita sendiri berhadapan dengan Tuhan. Seperti yang dikatakan oleh Dietrich Bonhoeffer:

Sendirian engkau berdiri dihadapan Tuhan ketika la memanggilmu; sendirian engkau harus menjawab panggilan itu; sendirian engkau harus bergumul dan berdoa; sendirian engkau akan mati dan memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan. Engkau tidak bisa lari dari dirimu sendiri

Pengabaian persekutuan pribadi dengan Tuhan bisa merupakan cara kita melarikan diri. Melarikan diri dari hadapan Tuhan. Melarikan diri dari kebenaran menyakitkan bahwa kita hanyalah ciptaan; bahwa kita adalah manusia berdosa; bahwa kita tidak sanggup mengontrol hidup kita dan masa depan kita.

lbadah pada hakekatnya adalah menundukkan seluruh jiwa raga kita dihadapan Tuhan. Mengakui Tuhan sebagai Tuhan dan menyembah Tuhan sebagai Tuhan. Tanpa semua itu, ibadah kita hanyalah ritual kosong. Doa pribadi, perenungan Alkitab, persekutuan pribadi dengan Tuhan, semua itu adalah bentuk penundukkan dan penyerahan diri kepada Sang pemegang hidup. Abaikan semua itu, secara tidak sadar kita menolak tunduk kepada Tuhan. Kita menolak beribadah kepada Tuhan.

Ibadah dalam ruang pribadi, penting, sebab masing-masing kita dipanggil secara pribadi oleh Tuhan. Dihadapan Tuhan kita secara pribadi harus mengakui Dia sebagai Tuhan kita sebagai ciptaan. Di hadapan Tuhan kita secara pribadi harus menyerahkan diri.

Bagi umat kristiani, permulaan hari sepatutnya tidak terbenani dan tertekan oleh perhatian dan kecemasan yang berlebihan pada pekerjaan hari tersebut. Di ambang pintu hari yang baru berdiri Tuhan pencipta hari tersebut. Kita meneduhkan diri dipermulaan hari karena sepatutnya Allah yang empunya perkataan pertama. Kita meneduhkan  diri sebelum tidur karena perkataan terakhir juga adalah milik Allah. (Bonhoeffer)

  1. Ibadah dalam Ruang Publik

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. (lbrani l0:25)

lbadah dalam ruang publik merujuk pada kebaktian jemaat ataupun persekutuan di antara umat kristiani. Allah menghendaki ibadah dalam ruang publik karena Allah memanggil kita dalam satu komunitas baru. Orang Kristen tidak dipanggil sendiri-sendiri, tetapi dipanggil ke dalam saru umat, satu komunitas.

Sekali lagi seperti yang dikatakan Bonhoeffer:

Engkau telah dipanggil kedalam sebuah komunitas, panggilan tersebut bukan hanya untuk anda sendiri; di dalam komunitas yang terpanggil itulah engkau memikul salib, bergumul dan berdoa. Engkau tidak sendirian, bahkan dalam kematian, dan pada Zaman Akhir engkau hanya satu anggota dari jemaat Kristus yang besar. Jika engkau menghina persekutuan dari saudara seiman, engkau menolak panggilan Yesus Kristus.

Kecenderu ngan mengabaikan ibadah komunal mungkin disebabkan oleh dua hal. Yang pertama adalah perasaan mampu bertumbuh sendiri tanpa sebuah komunitas. Di zaman modern ini tampaknya seseorang bisa bertumbuh sendiri. Banyak buku-buku rohani tersedia. Internet penuh dengan informasi pertumbuhan rohani. Bahkan sebuah komunitas maya pun bisa terbentuk. Televisi menawarkan ibadah dan khotbah tanpa harus kita keluar dari rumah. Semua ini tentunya baik. Tapi ada batasannya. Buku tidak bisa mendoakan kita, tapi komunitas Kristen yang bisa. Internet tidak bisa menemani kita melewati pergumulan yang berkat, tapi saudara seiman yang bisa. Televisi tidak bisa mengasihi kita tapi jemaat yang bisa. Demikian pula sebaliknya, kepada siapa kita bisa mengekspresikan kasih, perhatian, kebaikan, kalau bukan kepada komunitas umat? Seseorang yang hanya mau bertumbuh sendiri dan beribadah kepada Tuhan sendiri pada akhirnya akan mati. Kita tidak dipanggil hanya sendirian, kita dipanggil ke dalam sebuah komunitas. Tepatlah nasehat penulis surat lbrani kepada umat percaya untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah komunal. Karena dalam ibadah komunal-lah tiap umat percaya saling mendukung dan menguatkan. Bara api yang terasing sendiri tidak akan bertahan lama.

Yang kedua adalah pengutamaan asas manfaat: apakah ibadah tersebut berguna bagi saya atau menyenangkan saya? Benar sebuah ibadah pasti ada manfaatnya bagi kita. Tapi jika hal itu yang paling diutamakan sebenarnya kita telah menghilangkan arti ibadah. Ibadah kita bukan lagi ibadah yang sesungguhnya. .

Jika inti dari ibadah adalah penyembahan, maka usaha membuat ibadah menjadi berguna justru akan menghancurkannya, karena ini berarti memperkenalkan sebuah tujuan yang tersembunyi untuk menyembah Tuhan. Tujuan atau agenda yang tersembunyi berarti sebuah manipulasi, berusaha mengontrol relasi yang ada sehingga memutarbalik hubungan antara sang Pencipta dan ciptaannya. Dalam pembalikkan ini, Sang Allah yang Hidup…telah direduksi menjadi  Sang penyedia semata, yang tidak memiliki karakteristik lain kecuali mengiyakan kepentingan kita dan membantu memenuhi kebutuhan kita (Leander Keck)

Ibadah yang sesungguhnya berpusat pada Allah. Kita menyembah Tuhan karena Dia adalah Tuhan dan tidak ada yang lain seperti Dia, sebagaimana yang tertulis dalam Alkitab: “Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?” (Kel I 5: I I ; bdk Maz 35: l0; 7 l: I 9; 86:8; Yer I 0:6).

  1. Dari Ruang Pribadike Ruang Publik

lbadah personal penting karena masing-masing kita dipanggil secara pribadi oleh Tuhan sang pencipta dan penebus kita. lbadah komunal juga penting karena kita dipanggil ke dalam satu komunitas umat percaya. Yang sering jadi masalah adalah pengabaian hubungan antara ibadah personal dengan ibadah komunal. Vitalitas ibadah komunal sangat bergantung pada kualitas ibadah personal: doa-doa pribadi, perenungan Alkitab dan bentuk persekutuan pribadi lainnya.  Penyembahan dalam ibadah komunal kering karena penyembahan dalam ibadah personal terabaikan. Doa-doa dalam ibadah komunal kering karena doa-doa dalam ibadah personal dikecilkan. Firman dalam ibadah komunal kering karena Firman dalam ibadah personal tidak dirindukan. Kualitas seorang Kristen tidak dilihat dari aktivitas rohaninya di ruang publik, tapi ditentukan oleh aktivitas rohaninya di ruang pribadi. Seorang Kristen tidak akan melebihi kualitas ibadah personalnya. Bisa jadi kita tidak pernah merasa puas dengan ibadah komunal justru karena kita tidak pernah sungguh-sungguh beribadah secara personal.

Sebaliknya ibadah personal pun bergantung pada ibadah komunal dalam hal bimbingan, pertumbuhan. Melalui ibadah komunal, ibadah personal kita akan terarah, terasah dan terpelihara. Ibadah komunal menyadarkan kita bahwa kita tidak sendirian dalam pergumulan kita, dalam perjuangan kita, dalam iman kita, kasih kita, dan pengharapan kita. Kita bisa bertahan dan bertumbuh karena ada doa-doa yang tidak pernah kita dengar yang dipanjatkan untuk kita oleh komunitas umat percaya. Kita bisa bertahan dan bertumbuh karena ada nasehat, dukungan nyata, dan pengorbanan dari komunitas umat percaya. lbadah personal terpelihara karena adanya ibadah komunal. Ketiadaan ibadah komunal akan membuat kita salah arah, tinggi hati, dan berpusat pada diri sendiri.

Allah memanggil kita masing-masing secara pribadi untuk bersekutu dengan-Nya. Allah juga memanggil kita ke dalam komunitas umat percaya yang menyembah Dia. Karena itu, ibadah personal maupun komunal adalah esensi dari panggilan Tuhan. lbadah adalah anugerah. lbadah adalah sebuah hak istimewa. Tidak ada yang bisa bersekutu dengan Allah tanpa Dia memberi kesempatan tersebut.

 

 

—— Dituliskan oleh Dany Christopher

—– Dimuat pada Majalah DIA Edisi No.3/Tahun ke XXIII/2009

 

Leave a Reply