Armand Barus:
Kristologi: Jangan Mengulangi Kesalahan yang Sama

Apa katamu, siapakah Aku ini?, tanya Yesus suatu kali kepada murid-murid-Nya (Matius 16: 15). lni pertanyaan penting. Mengapa penting? Tidak hanya pertanyaan ini direkam injil Matius, lnjil Markus dan lnjil Lukas tetapi terlebih karena inilah inti atau esensi agama Kristen. Menjadi orang Kristen bukan berarti memiliki agama Kristen. Tetapi menjadi pengikut Kristus Yesus. Setiap orang dari segala zaman dan tempat harus meniawab pertanyaan ini. Yesus tidak bertanya apa kata Calvin atau Luther tentang Yesus. Tidak juga apa kata pendetamu tentang Yesus. Yesus bertanya: Apa kata kamu tentang Aku? Kita masing-masing sekarang harus menjawabnya. Ketika murid-murid menjawab pertanyaan penting ini, barulah Yesus memberi tahu rahasia kedatangan-Nya ke dalam dunia. Yesus menyingkapkan tujuan kedatangan-Nya: penderitaan (Matius I 6:21). Setelah mampu memberi jawaban terhadap pertanyaan penting ini barulah Yesus membawa murid-murid kepada pengenalan yang lebih dalam tentang siapa Dia sebenarnya. Yesus menderita agar manusia bebas dari penderitaan dosa. Nah, sekarang jika kita belum mampu menjawab Pertanyaan Yesus yang penting ini, tidak heran jika kita belum menghayati apa sesungguhnya arti dan makna menjadi pengikut Yesus. Tidak hanya murid-murid, orang Kristen dalam zaman-zaman berikutnya berusaha memberi jawab terhadap pertanyaan Yesus ini. Jawaban yang diberikan sering kali tidak memuaskan. Pergumulan menjawab Pertanyaan Yesus ini sering kali bermuara pada jawaban yang mengecewakan jika tidak ingin disebut penyimpangan. Semua ini memperlihatkan bahwa ternyata tidak mudah untuk menjawab pertanyaan Yesus yang kelihatannya sangat sederhana itu.

Sejarah Gereia dan Bidat

Sejarah gereja selama 2000 tahun ini diisi oleh berbagai bidat-bidat. Coba saja lihat buku-buku teks sejarah gereja. Maka segera berbagai analisis munculnya bidat-bidat diulas dan dibahas paniang lebar. Hadirnya berbagai bentuk penyimpangan terhadap ajaran Kristen, segi positifnya, ternyata semakin menolong gereia untuk mengenal dan memahami imannya secara lebih akurat dan benar. Seandainya bidat-bidat yang mengajarkan kesesatan tidak hadir dalam sejarah maka gereja tidak mengenal kebenaran imannya. Secara umum kita melihat bahwa ada benang merah yang menautkan semua  ajaran sesat tersebut. Salah satu persamaan mencolok yang segera kelihatan adalah penyimpangan terhadap pengajaran akan siapa Yesus Kristus. Pengajaran akan Yesus Kristus ini sering diberi nama kristologi. Pusat dan objek iman Kristen adalah diri Yesus Kristus. Gangguan sekecil apa pun terhadap pusat dan objek iman ini segera akan berdampak terjadinya penyimpangan iman Kristen sejati. Siapa Yesus? Jawabnya? Tidak mudah. Agar kita lebih memahami pergumulan menjawab pertanyaan siapaYesus berikut disajikan beberapa jawaban yang kita sebut sebagai jawaban yang tidak memuaskan. Jawaban-jawaban itu, dari sejarah gereja, dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan:

1. Yesus hanyalah manusia biasa.

Suatu kelompok orang Kristen Yahudi memberi jawaban terhadap pertanyaan Yesus dengan pernyataan bahwa Yesus hanyalah manusia biasa. Meski demikian Yesus berbeda dengan manusia lainnya karena Allah memberi-Nya karunia rohani bahkan mengangkat-Nya kemudian menjadi mesias. Kelompok Kristen Yahudi ini tidak percaya akan ke-Allah-an Yesus. Ajaran ini disebut sebagai ebionisme.

Bentuk lain terhadap penolakan akan ke-Allah-an Yesus diungkapkan oleh Arius (256- 336). Arius seorang penatua berasal dari Aleksandria. Arius berpendapat bahwa Yesus adalah mahluk ciptaan, bukan Allah.

2. Yesus bukan manusia, tetapi Allah.

Sekelompok orang Kristen menjawab pertanyaan Yesus dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Maksudnya Yesus adalah Allah dan sebagai Allah maka Yesus tidak mungkin menjadi manusia. Yesus hidup di dunia ini dengan menyamar sebagai manusia atau terlihat seperti manusia. Yesus tidak benar-benar hidup sebagai manusia sejati. Ketika Yesus disalibkan maka Yesus menanggal kan kemanusian- Nya. Ajaran ini disebut doketisrne.

Masalah belum selesai. Jika Yesus adalah benar-benar manusia dan benar-benar Allah, muncul pertanyaan yang lebih sulit lagi. Bagaimana hubungan kemanusiaan dan ke-Allah-an dalam diri Yesus? Terhadap pertanyaan ini muncul dua bentuk jawaban yang tidak memuaskan:

1 . Keduanya benar-benar terpisah

Nestorius yang menjadi uskup di Konstantinopel pada tahun 428 berpendapat bahwa kemanusiaan dan keallahan Yesus terpisah secara tajam. Kedua watak Kristus, manusia dan Allah, dipisahkan. Dua watak berarti dua pribadi, demikian tegas Nestorius.

2. Keduanya Bercampur

Sebaliknya Eutyches (378-454) berpendapat bahwa kedua watak Kristus merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Begitu menyatu sehingga membentuk oknum ketiga yang merupakan campuran manusia dan Allah.

Nah ini suara-suara dari masa lampau. Bagaimana manusia modern menjawab pertanyaan Yesus itu? Bentuk penyimpangan sebelumnya kembali muncul dalam bentuk baru. Bentuk demikian terlihat melalui pemisahan Kristus seperti yang diimani jemaat (Christ of faith) dan Yesus sebagai tokoh sejarah yang direkonstruksi para ahli teologi (historical Jesus). Pemisahan ini berakar kuat dalam pemikiran banyak ahli teologi modern. Para ahli teologi berpendapat bahwa informasi kehidupan Yesus di Palestina sebagai figur selarah tidak dimiliki atau kita tidak punya informasi lengkap. Hanya informasi sejarah parsial dan fragmentaris. Semua informasi lengkap tentang Yesus seperti itu, harus diakui, memang tidak ada. Yang kita miliki adalah informasi tentang Yesus seperti terekam dalam lnjil Matius, lnjil Markus, lnjil Lukas dan lnjil Yohanes. Tetapi para ahli menduga bahwa rekaman Yesus dalam lnjil kanonis sudah mendapat penafsiran teologis dari para penulis Injil. Oleh karena itu untuk menemukan informasi Yesus yang benar-benar murni, maka diusahakan untuk merekonstruksi perkataan dan perbuatan Yesus seperti tertanam dalam lnjil. Para ahli kemudian menyusun metode penafsiran untuk menggali lapisan-lapisan sejarah yang tertanam dalam Injil-injil tersebut. Metode penafsiran itu dikenal sebagai penelitian bentuk (form criticism). Hasilnya adalah gambar Yesus yang beragam tergantung pada penelitinya. Muncul gambar Yesus, misalnya, menurut Dominic Crossan, Yesus menurut Marcus Borg. Pemisahan Kristus iman dan Yesus sejarah pada dasarnya merupakan pemisahan kemanusiaan dan keallahan Yesus. Penelitian Yesus sejarah menghasilkan kristologi yang berpendapat bahwa Yesus hanya manusia agung yang mengajarkan moral dan kebaikan pada manusia. Ke-Allah-an Yesus ditolak. Sebaliknya Kristus iman, dalam bentuk radikal, hanya ciptaan teologis jemaat purba. Yesus adalah manusia yang diangkat menjadi Allah atau diberi sifat ilahi. Pemisahan yang dilakukan para ahli teologi modern, pada hakikatnya, tidak lain merupakan pemisahan tajam antara fakta dan penafsiran, pemisahan sejarah dan teologi. Beberapa ahli berusaha menyelesaikan masalah dikotomi sejarah dan teologi. Namun belum memuaskan. Sampai akhirnya, baru-baru ini, Prof. Richard Bauckham dalam buku setebal 538 halaman yang berjudul Jesus and the Eyewitness: The Gospel os Eyewitness Testimony diterbitkan tahun 2006 mengguncangkan asumsi pemisahan sejarah dan teologi yang mendominasi pemikiran banyak para ahli teologi. Bauckham berpendapat bahwa lnjil pada dasarnya adalah kesakian para saksi-saksi mata yang melihat dan mendengar yesus sebelumnya. Konsep saksi mata yang dikembangkan dan diuraikan Bauckham secara gemilang berhasil menyatukan sejarah dan teologi. Bauckham (5) menulis bahwa konsep kesaksian saksi mata (eyewitness testimony) memberikan: both a reputablehistoriographic category for reading the Gospels as history and also a theological model for understanding the Gospels as the entirely appropriate means of access to the historical reality of Jesus.

Di atas secara ringkas telah ditelusuri jawaban-jawaban yang tidak memuaskan terhadap pertanyaan siapa yesus. Sekarang bagaimana jawaban yang memuaskan? Umat Kristen, Seperti yang ditunjukkan oleh selarah gereja, boleh berbeda pendapat tentang, misalnya, sistem kepemimpinan gerejawi atau pemahaman akan sakramen baptisan dan sakramen perjamuan kudus. Tetapi tentang kristologi umat Kristen tidok boleh berbeda pendapat. Seseorang disebut pengikut Kristus bila ia percaya bahwa Yesus Kristus adalah manusia dan Allah. Yesus bukan manusiayang menjadi Allah sehingga hakikat kemanusiaan-Nya ditelan hakikat ke-Allah-an-Nya. Dan Yesus juga bukan Allah yang menjadi manusia sehingga hakikat ke-Allahan-Nya melebur dalam kemanusiaan-Nya. Yesus bukanlah manusia yang diberi sifat ilahi dan juga bukan Allah yang memiliki sifat manusia. Yesus tidak bersifat ilahi dan juga tidak bersifat manusiawi. Yesus adalah Allah sejati don manusia sejati. Bagaimana hubungan keduanya? Kedua hakikat ini tidak bercampur membentuk oknum ketiga dan juga tidak terpisah menjadi dua oknum berbeda. lstilah tidak bercampur dan tidak terpisah segera membawa kita kepada suatu misteri yang sulit dicerna akal manusia. Tidak ada satu ilustrasi pun yang dapat dengan sempurna menjelaskan misteri ini. Barangkali ulasan dan pemahaman manusia tidak dapat melampaui istilah misteri ketika hendak mengungkapkan arti dan makna ‘tidak bercampur namun tidak tepisah’. Penyangkalan terhadap salah satu dari kedua hakikat kesatuan Kristus akan segera menyeret umat Kristen ke dalam arus pengajaran yang menyesatkan.

Mengapa bisa terjadi?

Penjelasan sosiologis maupun psikologis terhadap gejala munculnya sempalan agama menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Kita tidak akan mendiskusikannya di sini. Sejarah gereja khususnya kristologi seperti yang diuraikan diatas mengajarkan satu hal dengan jelas sekali. Penyimpangan kristologi mengakibatkan kesesatan. Setiap penyimpangan kristologi sekecil apapun akan menyeret manusia ke dalam arus pengajaran yang menyesatkan. Jika pusat dan objek iman direduksi bahkan dikosongkan maka yang terjadi adalah kesesatan. Pengurangan sentralitas kristologi bahkan upaya menghilangkannya biasanya digantikan dengan sentralitas atau pengkultusan individu atau kelompok. Mereka mengatakan, tidak perlu Kristus jika ingin selamat. Melainkan percayalah kepada ajaranku. Keselamatan tidak ada pada Kristus melainkan pada diriku dan dalam kelompokku. Jika ingin selamat segeralah bergabung dengan kelompokku. Hari kiamat dunia ini tidak ditentukan oleh kedatangan Kristus melainkan bergantung ke pada keinginanku. Manusialah yang menentukan hari kiamat dunia ini. Jika ingin selamat dari kiamat dunia yang menakutkan segeralah bergabung dengan kelompokku. Tidak perlu menunggu kedatangan Yesus yang kedua kali. Bahkan yang lebih parah jika pemimpin ajaran sesat tersebut mengklaim diri sebagai kristus. Ciri khas bidat atau ajaran sesat adalah kristologi diganti dengan antropologi. Teologi dan etika berpusat pada manusia bukan pada Kristus. Apakah kesesatan atau bidat dapat terjadi dan muncul di lndonesia? Mungkin saja. Jika umat Kristen tidak mengarahkan mata-Nya kepada Tuhan Yesus akan gampang sekali tersesat. Jika Yesus Kristus tidak menjadi pusat dan objek iman maka kekosongan ini mudah sekali diisi dengan rupa-rupa angin pengajaran yang menyesatkan. Jika Kristus yesus tidak ada dalam hidup jemaat Kristen, maka si penyesat yang berkedok kristus palsu akan segera menyusup masuk ke dalam hidup dan komunitas Kristen.

Kesimpulan

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan dua hal. Pertama, munculnya bidat-bidat mengingatkan kita betapa pentingnya memahami kristologi secara benar. Bidat mengingatkan kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kedua, kristologi menladi ukuran kesesatan suatu ajaran. Ajaran yang menekankan kemanusiaan atau ke-Allah-an Yesus atau memisahkan tajam atau mencampurkan dua watak Kristus adalah ajaran sesat. Jika kita tidak mengenal siapa Yesus, bagaimana kita tahu suatu ajaran itu sesat?

 

—- Dituliskan oleh Armand Barus, Puket I Akademis STT Ciponas

— Majalah Dia Edisi 1/ Tahun XXIII/2008

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini