Andreas Joy Harefa:
Yesusku, Yang Kuteladani

Seorang Kristen datang kepada si Kristen,

“Saya perlu uang.”

“Untuk apa?”
“Untuk membeli obat.”

“Engkau seharusnya menjaga kesehatan supaya tidak sakit. Kesehatan sangat penting.”

“Saya perlu uang, bukan nasehat.”

 

Anak menantuku, Simon Petrus, sudah mengikut Yesus beberapa waktu. Namun bagiku, tak terlalu jelas apa yang mereka kerjakan sehari-hari. Menurut berita yang sempet kudengar, Yesus itu suka mengajar di rumah-rumah ibadat. Cuma itu yang aku tahu. Tak kurang. Tak lebih.

Suatu kali, setelah mengajar di Kapernaum, mereka singgah ke rumahku. Waktu itu aku sedang demam berat. Jadi bukan salahku jika tak dapat bertindak sebagai nyonya rumah yang baik. Aku berbaring dan sulit bangkit. Andai Yesus datang memberi kotbah, aku pasti teler dibuatnya. Yang aku perlukan obat flu, dan berani bertaruh Yesus tidak pernah membawa obat-obatan semacam itu. Ia bukan tukang obat, bukan?

Dalam keadaan setengah teler, aku melihat Yesus berdiri di samping pembaringanku, lengkap dengan wajah yang cerah, ramah dan berwibawa. Ia kemudian “mengusir” penyakitku dan tiba-tiba aku dapat bangkit dan menjalankan tugasku sebagai nyonya rumah, melayani Dia dan rombonganNya. Kami berbincang-bincang sejenak.

Tak lama setelah itu, Ia kembali melanjutkan “kebiasaanNya” mengajar di rumah-rumah ibadat sekitar Yudea. Dalam kitab yang dibakukan kemudian, pengajaranNya itu disebut sebagai pemberitaan Injil.

Sungguh menarik apa yang dilakukan Yesus. Kalau ku baca Perjanjian Baru yang telah disusun lengkap saat ini (pada zamanku Perjanjian Baru belum ada), selama kurang lebih tiga tahun sebelum penyalibanNya, Ia telah melakukan dua puluh tiga kali penyembuhan orang sakit, fisik maupun mental. Selain itu, Ia juga pernah “mengatur”, “memerintah” atau “menjinakkan” kekuatan-kekuatan alam tak kurang dari sembilan kali. Bahkan pernah membangkitkan orang mati.

Dalam pengajaranNya, Ia amat suka menggunakan perumpamaan. Alkitab mencatat tak kurang dari 39 perumpamaan. Tujuh perumpamaan dicatat bersama Matius, Markus dan Lukas. Satu perumpamaan dicatat Markus. Tujuh belas perumpamaan hanya dicatat bersama oleh Lukas dan empat perumpamaan dicatat bersama oleh Matius dan Lukas. Heran juga mengapa “Oom” Yohanes tidak mencatat satupun. Mengapa aku menyebutkan hal-hal itu? Mengapa aku tak hanya menuturkan pengalaman pribadiku?

Aku ingin mengingatkan betapa holistiknya pelayanan Yesus itu. Dan betapa kontekstualnya pilihan-pilihan yang dilakukanNya. Ia tidak pernah berhenti pada diskusi soal memberikan “ikan” atau “pancing”. Ia juga tidak melecehkan tubuh jasmani dan mengagung-agungkan soal jiwa semata. Ia tahu kapan harus berkata-kata (mengajar) dan kapan harus bertindak (menyembuhkan, memberi makan, dan lain-lain) sesuai dengan pengajaranNya. Ia tak pernah membedakan social gospel  dengan Injil asosial (kalau ada). Ia bicara soal Taurat, tapi juga menegaskan sikapNya terhadap soal sosial politik, ekonomi, budaya, dan pertahanan keamanan. Ia tidak sok heroik untuk mati konyol. Bukankah kadang Ia menghindar ketika situasi membahayakan keselamatanNya? Ia juga tak lari dari salib pada “saatNya” (kairos).

Dalam pengamatanku dari alam “sana”, jika kekristenan dewasa ini diperhadapkan dengan kehidupan Yesus, betapa jauh berbeda. Ibarat langit dan bumi. Padahal, makin banyak orang mengaku percaya kepadaNya, menjadi murid-muridNya dan tercatat sebagai anggota gereja, bahkan aktivis siswa, mahasiswa, karyawan, dan seterusnya. Yang menyebut diri injili ternyata buta lingkungan dan cenderung asosial. Yang menyebut diri reformed ternyata birokratis dan tidak adaptif. Yang satu kehilangan roh, yang lain kebanjiran roh. Tapi semua merasa dan mangaku masih tetap Injili-Reformed atau Reformed-Injili. Semua menyalahkan yang lain, semua membenarkan diri.

Yang rajin berdoa, membaca Alkitab dan persekutuan, merasa diri eksklusif dan tak perlu mendalami soal politik, ekonomi dan seterusnya. Yang rajin mendalami teori-teori sosial dan bicara keras soal tanggung jawab Kristen dalam pembangunan serta ikut kampanye hak-hak asasi manusia, lupa dan melalaikan Ibadah Pagi, Kebaktian Minggu dan Persekutuan Doa Wilayah.

Sungguh, aku kurang pasti “yesus” mana yang seebenarnya mereka teladani. Mungkin mereka memiliki “yesus-yesus” yang lain. yesus Amerika, yesus Asia-Cina, yesus Jawa, yesus Batak, yesus Manado, dan yesus lainnya. Atau yesus yang kaya dan selalu sukses, atau yesus yang kere seperti pengemis. Semua orang  lalu merasa  berhak mengkampanyekan “yesus-yesus” menurut pengalaman subyektif mereka dan dijadikan doktrin aktual yang disusun begitu logis-sistematis-ilmiah.

Sungguh aku tak mampu memahami tanda-tanda zaman ini. Yang ku tahu masih saja seperti yang dulu, bahwa hanya satu Yesus yang diceritakan Injil. Yesus yang menganggap tubuh manusia, makan dan minum adalah hal-hal penting yang selalu diperhatikan (berarti Ia sangat concern soal penentuan upah minimum buruh-buruh Pulo Gadung-Tangerang) dan peka terhadap masalah sosial, politik, penyembuhan orang sakit dan mujizat yang dilakukanNya menegaskan sikap peduli terhadap lingkungan, tetapi juga  yang sangat  ketat dalam hidup jiwa-rohani (sehingga Ia sering menghilang pagi-pagi benar untuk berdoa, meneduhkan diri bersama Allah). Dan itulah Yesusku, yang aku teladani mati-matian. Sekarang aku sudah mati beneran.

 

Andreas Joy Harefa

Anggota Badan Pengurus Cabang (BPC) Perkantas Yogyakarta dan Yayasan Gloria Yogyakarta

bekerja di Jakarta sebagai Training Consultant 

Leave a Reply