Ayu Aditiarani S., S.Th.:
Memilih Bagian yang Terbaik

Kita hidup dengan berbagai pilihan yang harus diambil, mulai dari studi (sekolah mana yang akan dipilih dalam menuntut ilmu, jurusan yang dipilih, dsb.), pekerjaan, sampai pilihan akan pasangan hidup. Semua pilihan tersedia di hadapan kita, tinggal bagaimana kita menentukan agar dapat memilih bagian yang terbaik di antara yang baik. Kisah Maria dan Marta sering dijadikan sebagai contoh, dimana Tuhan Yesus memuji pilihan Maria sebagai bagian terbaik yang tidak akan diambil dari padanya (Luk. 10:42). Untuk dapat menentukan mana bagian yang terbaik, ada dua prinsip pokok yang harus kita ketahui, yakni mencari kehendak Tuhan dan mengerjakannya dengan iman yang teguh.

Mencari kehendak Tuhan, bukan kehendak kita

“Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Efesus 5:17).

Tanpa sadar, kita cenderung memaksakan kehendak kita kepada Tuhan dan menjadikan kehendak tersebut seolah-olah sebagai kehendak-Nya. Itulah kebodohan kita, dan inilah mengapa banyak orang percaya terjebak di dalamnya. Mencari kehendak Tuhan berarti “… memikirkan perkara yang di atas di mana Kristus ada, dan bukan perkara yang di bumi (Kolose 3:1,2)”.

Tuhan Yesus memberikan teladan bagi kita ketika berdoa di Getsemani. Sebagai manusia, Ia berharap, bahwa Ia tak harus “meminum cawan” yang ditetapkan bagiNya, tetapi di akhir doa-Nya kepada Bapa, Tuhan Yesus berkata, “… janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki (Matius 26:39)”.

Untuk dapat memilih bagian yang terbaik, kita harus memikirkan terlebih dahulu, apakah bagian tersebut dapat mewakili perkara dimana Kristus ada? Atau dengan kata lain, apakah bagian tersebut akan menyenangkan hati-Nya? Apakah bagian tersebut berada dalam kebenaran-Nya? Apakah bagian tersebut dapat memuliakan nama-Nya?

Mengerjakan kehendak-Nya dengan iman yang teguh
Tidak sedikit anak Tuhan yang hanya mencari tahu kehendak Bapa, tetapi setelah memperoleh jawaban, tidak mau atau enggan melaksanakannya dengan berbagai alasan. Ini bukanlah sikap yang berkenan kepadaNya. Setelah mengerti kehendak Tuhan, kita harus mengerjakannya disertai dengan iman yang teguh. Iman yang teguh berarti iman yang tidak mudah goyah, bahkan ketika berada dalam kondisi yang sangat sulit sekalipun. Salah satu teladan besar di Perjanjian Lama mengenai iman yang teguh adalah Abraham.

Abraham, yang disebut sebagai bapa orang beriman, mengerjakan apapun yang dikehendaki Tuhan dengan iman yang teguh tanpa protes atau menyatakan keberatannya kepada Tuhan. Abraham taat ketika Tuhan memintanya untuk pergi ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, dan ia pergi tanpa mengetahui letak negeri yang ia tuju. Ketika Tuhan memintanya untuk mempersembahkan Ishak, Abraham pun mengerjakannya dengan taat. Baik meninggalkan “zona nyaman”-nya, yaitu rumah ayahnya dan kampung halamannya, maupun memberikan apa yang paling berharga dalam hidupnya, yakni Ishak, putranya, dilakukan Abraham di dalam iman. Tindakan ketaatannya menunjukkan keteguhan imannya (lih. Ibrani 11:8, 17).

Mengerjakan kehendak Tuhan dengan iman yang teguh memang bukan perkara mudah. Akan selalu ada tantangan di depan. Namun, sama seperti Tuhan menyertai Abraham, demikian pula Dia akan menyertai kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah taat dan setia, serta menyerahkan segala kekuatiran kita kepadaNya. Langkah pertama selalu tidak mudah, namun percayalah, begitu kita berani melangkah, disitulah kita akan mengalami penyertaan dan penghiburan Allah.

Mencari tahu kehendak-Nya dengan sungguh-sungguh dan mengerjakan kehendak-Nya itu dengan iman yang teguh. Dua prinsip tersebut merupakan dasar yang harus kita pahami dan kerjakan agar dapat memilih bagian yang terbaik. Tuhan Yesus memberkati.

_______

Penulis adalah alumnus STT Baptis Indonesia

Leave a Reply