Iwan Wibowo:
Menaklukkan Mamon

Si Mamon itu memang amat digdaya. Pesonanya menaklukkan siapa saja; tua-muda, pria-wanita, agama apa saja, semua ras manusia! Ia kaya pengaruh, ia limpah kuasa. Begitu tipis bedanya, entah kita sangat membutuhkannya atau sangat menyembahnya. Tak heran Allah mencemburuinya, serius meminta jawab kita: “Pilih AKU atau dia?!” Tapi hal paling berbahaya tentang si Mamon ini adalah: tak ada kata puas memilikinya. Ia membuat orang tak sudi berbagi rata. Ia membuat orang nekat mengambil resiko kehilangan segalanya dengan mencurinya, merampoknya, mengkorupsinya. Maka wajar jika kita pesimis bisa mengalahkannya. Memang tak ada yang bisa, tak ada caranya!

Tapi, benarkah demikian, kawan? Tidak! Karena saat kuliah aku punya cara dan pernah bisa mengalahkan kuasanya. Berempat kami, kebetulan sekelas, satu rumah kost, sama-sama kristen. Uang bulanan dari orang tua tergolong kecil, namun kami kerap saling mentraktir. Stok mie instan di kamarku seolah milik mereka juga, dan bila milikku habis, aku mencarinya ke kamar mereka. Salah satu dari kami kerap dikirimi paket makanan oleh orang tuanya, bersama-sama kami menghabiskannya. Jika ada diktat kuliah yang mahal, kami iuran, cukup beli satu saja untuk digunakan bersama.

Dengan pemilik kost terbangun hubungan yang sama. Di jumpa pertama mereka tegas: “Tidak boleh ada salib-gambar kristen- lagu kristen di kamar!” Seiring waktu semua berubah. Kami biasakan tak hanya membersihkan kamar, tapi juga ruang tamu dan halaman rumah. Ketika anak mereka diopname, bergiliran kami menjaganya. Selama rumah direnovasi, kami jadi tukang, membantu sebisanya. Apa yang terjadi? Alkitab kami tergeletak di luar kamar atau lagu kristen terdengar nyaring dari kamar tak jadi masalah. Wesel dari orang tua tak kunjung tiba, bayar kost telat sedikit, telat lama, tak pernah ditagih. Bahkan satu dua kali uang kos kami mereka kembalikan!

Apa penjelasannya? Bukan, itu bukan hubungan timbal balik biasa. Itu terjadi karena lambat laun tumbuh kasih diantara kami semua, lambat laun kami bisa menganggap satu sama lain sebagai keluarga. Dalam keluarga, hubungan timbal balik terjadi bukan karena kepentingan atau kewajiban. Itu terjadi begitu saja, secara alami belaka. Saling berbagi, menganggap sesuatu sebagai milik bersama itu menjadi naluri, menjadi pola pikir dan gaya hidup bersama! Dalam kondisi dan situasi seperti inilah sesungguhnya kami telah menaklukkan si Mamon. Ya, karena dalam relasi kasih di antara kami dan antara kami dengan pemilik kost itu uang menjadi hal yang tak terlalu utama, sehingga bisa dibilang si Mamon kehilangan relevansinya, kehilangan kuasanya!

Belakangan ini, baru kusadari bahwa cara kami menaklukkan si Mamon itu sudah ditunjukkan oleh kitab suci. Itu adalah sesuatu yang Yesus maksudkan ketika menantang seorang muda kaya menjual seluruh hartanya, membagi-bagikannya kepada orang miskin, dan mengikut Yesus (Markus 10:17-27). Itu juga poin yang Yesus tekankan saat menjawab pertanyaan para murid: “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau (apa yang kami dapat?)” (Markus 10:28-31). Itu juga gaya hidup gereja mula-mula di mana jemaat berbagi segala sesuatu karena merasa apa yang mereka miliki adalah milik bersama (Kis 2:44-45). Ini terkait dengan sistem ekonomi Allah, dengan natur ekonomi dalam kerajaan Allah.

Seperti ini runtutannya: kelahiran baru kita (harusnya) berdampak pada cara pandang kita terhadap sesama, membuat kita memandang orang lain sebagai saudara dari keluarga yang sama. Dalam sebuah keluarga, akan merupakan sebuah skandal bila sang kakak berlimpah harta sementara adiknya miskin papa. Sebuah aib yang dikutuk bersama bila sang adik berhasrat menguasai sebanyak mungkin harta keluarga, karena otomatis itu memperkecil porsi yang menjadi hak kakaknya.

Dalam keluarga baru Allah yang menembus batas biologis bahkan batas bangsa-bangsa ini, distribusi-ulang kepemilikan (saling berbagi) menjadi gaya hidup semua anggotanya. Yang ditumbuhkan di dalamnya adalah sikap inter-dependent, saling bergantung, saling mengandalkan, bukan sikap independent yang egois dan individualis. Dalam konteks hidup bersama dalam dimensi ekonomi Allah seperti ini mamon tetap memiliki fungsinya, tapi ia tak akan menjadi si Mamon yang digdaya, dan tak mudah kita jatuh menyembahnya, melainkan mamon sebatas menjadi pelayan kita. Indah bukan? Dan tak terasa mustahil lagi, bukan?

Kebangkitan Kristus menjadi garansi, bahwa si Mamon bisa kita buat miskin pengaruhnya, bisa kita buat sekarat kuasanya. Dengan kasih kita pada sesama anak bangsa, dengan natur berbagi yang Roh Kudus berdayakan dalam dan melalui hidup kita, kita bisa kalahkan si Mamon. Apalagi, di tengah keluarga besar bangsa kita yang sampai hari ini pembagian kue kesejahteraan hasil pembangunan belum dinikmati semua kalang secara merata. Ayo mahasiswa, ayo alumni, kita bergerak bersama, menjadi solusi menular atas parahnya budaya korup bangsa!

Salam Optimisme Perubahan Indonesia!

 

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (Kis 2:44-45)

 

——————–

*Dituliskan oleh Iwan Wibowo staf Literatur Perkantas

**Diterbikan dalam Majalah Dia, Edisi II tahun 2012

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini