Reza Tehusalawany:
Pemimpin yang Transformatif: Mimpi atau Realitas?

Rasanya sulit membicarakan pemimpin yang trasnformatif dengan melihat apa yang terjadi pada bangsa ini. Sulit menemukan figurnya, yang ada mungkin malah masalah. Lihatlah sikap pemimpin-pemimpin menghadapi masalah bangsa. Kasus korupsi sulit terungkap, karena kasus yang muncul tidak pernah dituntaskan. Sulit mendapatkan keadilan di negara ini, karena keadilan berpihak pada yang berduit dan berkuasa. Dan banyak lagi. Namun, Alkitab memiliki rumusan dan teladan untuk adanya kepemimpinan yang transformatif.

Melihat Teladan Nehemia

Apa yang terjadi pada Nehemia ketika beliau mendengar cerita tentang orang-orang Yahudi yang terluput dan tentang Yerusalem? Nehemia menangis dan berkabung selama beberapa hari (Neh 1:4). Saat ini rasa-rasanya sulit untuk mendapatkan pemimpin seperti Nehemia yang ketika mendengarkan berita duka tentang negerinya lalu mengangis dan berdoa. Mengapa demikian? Nehemia adalah orang yang mengetahui dan melakukan Firman Tuhan. Nehemia tahu bahwa apa yang dialami bangsanya itu akibat ketidaktaatan kepada Tuhan. Sehingga tidak mungkin menghindar dari penghukuman Tuhan jika bangsa itu tidak bertobat. Itu sebabnya Nehemia menaikkan syafaat kepada Tuhan yang berisi pengakuan dosa atas apa yang telah diperbuat bangsanya (Neh 1:5-7). Nehemia menangis dan berdoa atas dasar yang benar.

Kemudian lihat yang dilakukan Nehemia? Dia tidak hanya menangis, berdoa, berpuasa. Tapi Nehemia bertindak! Pergumulan Nehemia yang dalam itu rupanya berdampak pada penampilan Nehemia di hadapan raja Artahsasta. Pada masa itu ketika seseorang berada dihadapan raja, lalu bermuka muram, maka hukumannya adalah mati. Maka apa yang terjadi pada Nehemia ketika terlihat sedih di hadapan raja adalah anugerah Tuhan. Raja malah bertanya perihal kesedihan yang dialaminya itu. Lalu terjadilah percakapan diantara mereka (Neh 2). Di situlah Nehemia mengajukan sebuah proposal untuk pembangunan tembok Yerusalem kepada raja (Neh 2:5). Sungguh suatu keberanian tingkat tinggi untuk ‘beradu tawar’ dengan raja. Kemudian kita tahu apa keputusan raja, yaitu mengijinkan Nehemia meninggalkan pekerjaannya di istana untuk mengerjakan apa yang diajukan dalam proposalnya itu. Ajaib! Seorang raja penjajah mengijinkan terjadinya pembangunan tembok kota, yang notabene merupakan simbol kota Yerusalem, di ibukota dari bangsa yang dijajahnya.

Jika dipikir, apakah yang terjadi pada Nehemia hanya karena dia menaikkan doa singkat pada Allah? (Neh 2:4) Apakah seperti seseorang yang tiba-tiba mendapatkan ilham atas apa yang harus dilakukannya? Tidak! Nehemia sungguh berdoa dan bergumul atas masalah Yerusalem itu, sekitar 3-4 bulan, dihitung sejak Nehemia mendengar berita pertama kali hingga kejadian di ruang raja itu. Bagaimana Nehemia bergumul? Apakah proposal yang Nehemia sampaikan pada raja itu muncul tiba-tiba? Sekali lagi: tidak! Dalam berdoa dan berpuasa itu, Nehemia tentunya menggumulkan setiap ide yang dia pikirkan dan membawa itu dalam doa, terus begitu, hingga itu menjadi sebuah rencana yang matang: “tidak ditolah raja” (Neh 2:8). Brilian!

Dari situ proyek pembangunan tembok Yerusalem mulai berjalan, walau ada tantangan dari dalam dan luar, hingga tembok Yerusalem berdiri pada tanggal dua puluh lima bulan Elul, dalam waktu lima puluh dua hari (Neh 6:15). Fantastis!

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini