Paul Hidayat, M.Th,:
Sang Pemimpin

Kalau memaparkan kisah saya dalam kepemimpinan, saya jamin Anda semua merasa kagum, memuji dan terdorong menirunya dalam hal kejelian melihat kebutuhan dan peluang, keberanian mengambil langkah yang menurut orang lain mungkin diartikan tindakan nekad, penyusunan rencana yang matang dengan pelaksanaan yang konsisten, kemampuan berkomunikasi – baik lisan maupun tulisan – dalam melakukan berbagai persuasi dan motivasi dalam kepemimpinan, ketabahan menghadapi berbagai tantangan yang datang dari dalam maupun luar, kekuatan mental menghadapi iri hati atau fitnah dari pihak-pihak tertentu, kemampuan berpikir logis, sistimatis dan membuat riset yang teliti serta tepat, keberhasilan membangun dan mengembangkan pekerjaan Tuhan dari kecil sampai menjadi besar, … sayalah orangnya!

Mari saya ajak Anda melihat beberapa contoh kisah saya. Saya pernah dengan nekat beralih profesi. Bidang itu adalah suatu pekerjaan yang sebenarnya boleh dikatakan telah gagal karena sempat dimulai, namun tidak dapat dirampungkan tuntas para pendirinya. Untunglah, karena faktor keberanian, ketelitian, kecakapan menyusun rencana, akhirnya pekerjaan yang mandeg itu bukan saja diteruskan malah berhasil dikembangkan dengan gemilang. Selain itu, saya rupanya juga memiliki kemampuan menangani berbagai tugas dan tanggungjawab yang membutuhkan banyak keahlian dan karunia berbeda. Berbagai tugas dan tanggungjawab berbeda itu saya pikul sendirian, padahal mungkin perlu lima atau enam orang lain yang memikulnya.

Satu hal lain adalah saya menikmati pekerjaan tersebut. Saya menyukainya karena pekerjaan itu berdampak luas dan menyentuh aspek kehidupan manusia. Zaman sekarang menyebutnya dengan pelayanan holistik. Untuk saya, memang, pekerjaan (baca: pelayanan) harus ditujukan membangun manusia seutuhnya, ya fisik, spiritual, rohaniah dan jasmaniah. Itulah beberapa kesuksesan saya. Anda setuju kan? Rasanya, tidak perlu meneruskan daftar panjang kesuksesan saya dalam pelayanan dan kepemimpinan.

Sang Tokoh

Sebelum saya lanjutkan kisah ini, saya kira tidak baik membiarkan Anda semua penasaran dan bertanya-tanya siapa saya ini. Saya mau memperkenalkan diri. Nama saya: Nehemia bin Hakhalya, saudara dari Hanani. Saya orang Yahudi dan dibesarkan di zaman ketika bangsa kami berada di pembuangan. Saya hidup ketika Raja Arthasasta,. raja bangsa Persia berhasil mengalahkan kerajaan Babilonia. Di bawah Raja Arthasasta, saya diberi kepercayaan penting yang tidak sembarang orang dapat memperolehnya, yaitu menjadi juru minum raja.

Suatu hari, Hanani saudara saya, menceritakan keadaan buruk bangsa Yehuda dan kota. ketika raja mengabutkan permohonan saya itu bukan karena kemampuan negosiasi saya tetapi karena kemurahan Allah semata. Kekuatan dan keberhasilan bisa jadi penyebab kelemahan dan kegagalan yaitu bila kita tidak terus menerus mengalaskan dan mengarahkannya dengan hal-hal pokok dan mendasar. Menjelang akhir atau lebih tepatnya, justru ketika saya merasa bahwa tugas membangun kembali tembok Yerusalem itu telah usai, justru saat itulah Tuhan mengajar bahwa masih ada sesuatu yang paling vital yang belum terjadi, yaitu bahwa umat Tuhan itu perlu kembali kepada firman Allah, dibangunkan dan diputihkan bukan dalam kondisi tembok fisik, tetapi dalam kondisi hati manusianya.

Bukan ldola

Nah, sampai di sini mungkin Anda setuju dengan fakta-fakta yang telah saya paparkan diatas tentang keberhasilan pelayanan dan kepemimpinan saya, bukan? Namun, jika Anda menjadikan diri saya idola, dan membuat sepak terjang saya sebagai patokan bagi teori tentang prinsip kepemimpinan, jangan kaget, sayalah orang pertama yang akan menentangnya! Dalam pekerjaan apapun, apalagi pekerjaan Tuhan, tidak boleh kita mengidolakan manusia. Jikalau saya memiliki hati yang prihatin dan peduli, itu adalah karena Roh Allah membuat roh saya beresonansi sesuai getar hati Allah. Bila saya memiliki semangat yang tinggi dan keberanian yang membuat orang geleng-geleng kepala, itu disebabkan Allah memakai banyak pengalaman pahit saya di masa kecil di tanah pembuangan – tidak menjadi trauma, tetapi sebagai alat berkat-Nya membentuk pribadi saya. Saya boleh bersyukur untuk orangtua yang saleh yang mendidik saya dengan spiritual yang hangat dan segar. Mereka menamai sayaNehemia yang artinya – tidak perlu diperdebatkan apakah “belas kasihan Yahwe” atau Yahwe penghiburanku”. Sebab bila Anda menghubungkan keduanya, bukankah benar bahwa belas kasih Yahwe memang penghiburan yang luar biasa? Di balik berbagai pengalaman masa kecil, dibesarkan dan dididik orangtua sebenarnya terdapat latar belakang yang jauh lebih berarti dan berperan: tangan penjunan ilahi yang kekal dan maha ahli itu. Karena itu Saudara sehebat apapun pengalaman dan latar belakang Anda, blla tidak dikaitkan dan dihubungkan dengan latar belakang kekal, percuma saja. Sebaliknya, sepahit apa pun pengalaman dan latar belakang Anda, bila dihubungkan dengan latar belakang kekal, malah akan terjadi banyak surprise besar dalam hidup dan karya Anda. Karena itu, temukanlah kekuatan Anda, bukan dalam hal-hal yang tampak di luar, tetapi dalam kesuksesan yang dari Tuhan!

*Dituliskan oleh Paul Hidayat, M.Th, diambil dari kotbah Paul Hidayat, M.Th. ketika perayaan HUT Perkantas, 2 Juli 1994.

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini