Palti Hutabarat:
Pilpres, Golput, dan Kampanye Hitam

Sepanjang saya mengikuti perkembangan Pemilu sejak tahun 2004, di mana saya pertama kali punya hak memilih, Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun ini menampilkan kegembiraan politik yang sangat luar biasa. Saya sendiri yang awalnya setia sebagai pemilih pasif pun akhirnya menjadi pemilih aktif.

Loh, apa pula itu pemilih aktif? Ya, saya memilih menjadi pemilih aktif, yang bukan hanya menjadi pengguna hak pilih, tetapi juga menolong orang lain untuk bisa menggunakan hak pilih dan juga mendorong orang lain supaya memilih Calon Presiden (capres) yang tepat.

Hal ini juga terjadi pada banyak orang. Mereka yang awalnya pasif menjadi aktif, dan bahkan ikut terlibat dalam mempromosikan capres yang mereka yakini baik. Bahkan menjelang akhir masa kampanye, sekumpulan artis menyatakan dukungan mereka kepada salah satu Capres di dunia Twitter yang kemudian menjadi trending topic. Politik sekarang memang menjadi sebuah ajang yang menggembirakan dan tidak lagi menakutkan seperti sebelumnya. Namun sayang, tetap saja ada orang-orang yang melakukan praktik politik tidak benar dan penuh dengan fitnah. Praktik seperti ini disebut kampanye hitam.

Apa itu kampanye hitam? Kampanye hitam adalah kampanye yang merusak, menyindir, bahkan sampai memfitnah seseorang atau organisasi tertentu, yang dilakukan untuk menimbulkan persepsi yang tidak etis dan tidak benar. Kampanye hitam dilakukan untuk menyerang lawan politik, sehingga para pemilik suara akhirnya terpengaruh dan menurunkan elektabilitasnya. Kampanye hitam biasanya dilakukan oleh mereka yang berada di posisi tertekan dan tidak populer, sehingga merasa perlu melakukan kampanye hitam demi meningkatkan elektabilitasnya.

Kampanye hitam harus dibedakan dengan kampanye negatif. Kampanye negatif tidak sama dengan kampanye hitam. Jika kampanye hitam penuh dengan fitnah dan berita bohong, maka kampanye negatif merupakan informasi mengenai hal-hal negatif yang harus diwaspadai dari seorang (calon) pemimpin. Hal ini dibutuhkan supaya ketika memilih kita tahu rekam jejaknya dan kita akhirnya tidak memilih yang memiliki banyak hal negatif dalam dirinya.

Hal yang bisa menjadi contoh kampanye hitam adalah kebohongan tentang status seseorang dalam hal keyakinan atau masalah pribadi yang tidak ada kaitannya dengan kepemimpinan. Sedangkan kampanye negatif dicontohkan dengan gaya kepemimpinan atau ketidakmampuan dalam hal memimpin, atau bisa juga prestasi buruk yang dialaminya dalam hal kepemimpinan, tentu saja dengan fakta-fakta yang ada. Singkatnya, kampanye negatif bersifat informatif, sedangkan kampanye hitam bersifat merusak.

Karena saat ini kita sedang memilih seorang pemimpin negara selama 5 tahun, maka kita harus mengetahui dengan benar rekam jejak Capres-Cawapres yang saat ini maju dalam Pilpres. Sebagai seorang pemilih yang baik, sudah sepantasnya kita mengetahui rekam jejak dari pasangan nomor 1, Prabowo Subianto – Hatta Radjasa dan pasangan nomor 2, Joko Widodo – Muhammad Jusuf Kalla. Kita harus tahu hal positif dan negatif dari calon pemimpin, supaya kita tidak salah memilih orang yang akan menentukan arah kebijakan bangsa dan negara selama 5 tahun ke depan.

Karena itu, saya menyarankan untuk berusaha mengenali dengan sungguh-sungguh, siapa pasangan yang akan Anda pilih. Meski satu suara, hak suara anda sangat menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin negeri ini. Karena jutaan suara yang membuat seorang Capres menang dimulai dari satu suara yang bisa jadi adalah suara kita. Jangan tidak memilih atau golput, karena kita sebenarnya diberi kebebasan dalam berpolitik. Tidak seperti masa Orde Baru yang demokrasinya dibatasi dan kebebasan politik tidak penuh diberikan. Apalagi pada Pilpres kali ini kita diberikan pilihan yang mewakili sikap politik dan kebijakan yang bisa mewakili semua aspirasi rakyat. Pasangan nomor 1 mewakili aspirasi dalam sisi satu dan pasangan nomor 2 mewakili aspirasi dalam sisi yang lainnya.

Akhir kata, selamat menikmati kegembiraan politik dan selamat memilih dengan baik dan benar. Selamat memilih pemimpin yang sesuai dengan aspirasi dan suara hati. Pilihlah pemimpin yang bisa memimpin bangsa dan negara ini dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip-prinsip bernegara kita, yaitu UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Tuhan memberkati.

——-
*Palti Hutabarat adalah Staf Mahasiswa Perkantas Riau

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini