Pdt. Yoel M. Indrasmoro:
Jangan Lepas Tangan!

Suatu hari bertanyalah Tse Kung kepada Konfusius, ”Apakah tanda orang bijak itu?” Konfusius menjawab, ”Dia bertindak sebelum bicara, dan setelah itu bicara seperti apa yang dilakukannya.”

Kenyataan hidup manusia, menurut Rama Sindhunata, malah sebaliknya. Biasanya, banyak orang bicara sebelum bertindak, dan akhirnya malah lupa untuk bertindak. Tak sedikit orang yang dihinggapi penyakit macam begini. Pemimpin negara pun tak luput darinya.

Sejatinya, inilah bahaya yang mengancam para pemimpin: saat mereka lupa melakukan apa yang dikatakannya. Lupa bertindak atau malah sengaja melupakannya. Lebih berbahaya lagi, tatkala tindakan berbanding terbalik dengan perkataan. Satunya kata dan karya merupakan inti kepemimpinan.

Kita tentu masih ingat sekian banyak janji yang terucap pada Pemilu sebelumnya dalam rangka menggalang massa. Namun, apa yang digembar-gemborkan waktu itu, tampak semakin jauh panggang dari api. Hanya ngomong doang.

Pemilu 2014
Dan kini, Pemilu 2014 sudah di ambang pintu. Wajah-wajah para caleg—anehnya juga capres-cawapres—saling berlomba memikat pemilih dengan cara menjejali ruang publik. Masih tampak muka lama—kabarnya hampir 90 persen—tanda macetnya kaderisasi.

Atau, kalau tidak macet, ya karena yang sudah berusia—dan pasti lebih banyak modalnya—merasa diri seperti kelapa: makin tua, makin banyak santannya. Padahal, dengan masih terlalu banyaknya wajah lama, kita tak bisa berharap terlalu banyak di masa depan.

Sebagaimana Pemilu-pemilu sebelumnya, tak sedikit pula parpol yang menggaet selebritas sebagai caleg. Kelihatannya, pengurus parpol berkeyakinan, wajah yang dikenal luas—sering muncul di layar televisi—bisa menjaring suara. Yang digaet pun tersanjung karena dianggap mampu memimpin dan punya jiwa kebangsaan yang tinggi. Mutualisme pun terjadi. Sama-sama untung.

Kekuasaan memang menggiurkan karena terkandung beragam fasilitas di baliknya. Kenyataan banyaknya anggota parlemen yang ”lompat pagar” gamblang memperlihatkan keinginan diri untuk tetap berkuasa. Ujung-ujungnya duit!

Dalam dunia kepemimpinan kita agaknya kurang dikenal ungkapan Perancis, “noblesse oblige” (kewajiban kebangsawanan). Sejatinya, kepemimpinan memang bukan cuma soal kuasa. Setiap pemimpin bertanggung jawab terhadap orang yang dipimpinnya, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, seorang pemimpin dipanggil untuk menjadi berkat, bukan mencari berkat! Krisis kepemimpinan terjadi sewaktu pemimpin lebih suka mencari—bahkan memeras—berkat dari yang dipimpin.

Memperbarui Wajah Bangsa
Mencari pemimpin semacam itu memang tak mudah. Pengalaman 15 tahun reformasi memperlihatkan hanya segelintir politikus yang layak disebut negarawan—yang senantiasa mengusahakan kemaslahatan bersama. Tak heran, jika banyak orang makin apatis dan memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya (golput) sebagai tanda protes.

Golput memang hak setiap individu. Namun, pada hemat saya, keterlibatan dalam Pemilu akan memberikan kita alasan kuat memprotes anggota legislatif terpilih saat mereka bertindak kurang patut. Keikutsertaan dalam Pemilu memberikan kita hak, juga kewajiban tentunya, untuk mengkritik para politikus yang menyimpang.

Lagi pula, Pemilu bisa menjadi isu strategis dalam memperbarui wajah bangsa. Perubahan wajah bangsa—mengutip Cicero, ”ikan (baca: negara) membusuk mulai dari kepala”—dimulai dari pemimpinnya.

Pemilu bisa kita jadikan sarana memperbarui wajah bangsa. Pada kenyataannya, di tangan para pemimpin formallah wajah bangsa dipertaruhkan. Merekalah—para anggota legislatiflah—yang akan menghitamputihkan wajah bangsa. Sejarah memperlihatkan, ketika kita tidak memilih yang terbaik dari antara para caleg yang ada, maka yang buruk pun akan mudah melenggang ke Senayan.

Tak ada jalan lain bagi kita kecuali menggunakan hak pilih secara bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam pengertian tidak asal pilih. Namun, sungguh-sungguh mampu memilih pribadi yang tepat—apa pun agamanya, apa pun sukunya, apa pun golongannya—menjadi pemimpin yang dapat memperbarui wajah bangsa.

Intinya adalah, jangan lepas tangan. Bagaimanapun, dalam pemerintahan demokrasi modern, perubahan hanya mungkin terjadi melalui parlemen. Sebab parlemenlah yang membuat undang-undang. Membiarkan para pemimpin buruk menguasai parlemen, hanya akan lebih memperburuk wajah bangsa di masa depan.

Golput memang hak setiap individu. Namun, pada hemat saya, keterlibatan dalam Pemilu akan memberikan kita alasan kuat memprotes anggota legislatif terpilih saat mereka bertindak kurang patut. Keikutsertaan dalam Pemilu memberikan kita hak, juga kewajiban tentunya, untuk mengkritik para politikus yang menyimpang.

Kriteria
Di atas semuanya itu, setiap pemilih perlu menyiapkan tak hanya nalar, juga hati, dalam memilih. Tak hanya para caleg yang perlu bersiap diri. Setiap pemilih pun dipanggil untuk berbenah.

Dan salah satu kriteria kita dalam memilih adalah dengan kembali memerhatikan percakapan antara Tse Kung dan Konfusius tadi. Pilihlah orang yang memang telah memperlihatkan karya nyatanya dalam masyarakat. Pada titik ini mengetahui jejak rekam para calon pemimpin bangsa menjadi sangat signifikan—penting dan bermakna.

Jangan pilih politikus kambuhan yang hanya ramai memperlihatkan aksinya setahun menjelang Pemilu! Politikus kambuhan semacam ini pastilah tidak bermental sepi ing pamrih, rame ing gawe. Kalau pun rame ing gawe, ya menjelang Pemilu. Dan jika mereka terpilih, bisa dipastikan bahwa lagu lama akan kembali terdengar—hanya terlihat bekerja saat menjelang Pemilu.

Atau, kembali memerhatikan percakapan Tse Kung dan Konfusius tadi, janganlah memilih pemimpin yang kelihatannya hanya obral janji. Bisa jadi mereka berdalih bahwa periode sebelumnya terlalu pendek untuk menggenapi janji-janji yang dibuat selama kampanye, sehingga perlu dipilih lagi untuk menuntaskan semua janji itu. Tetapi, yakinlah bahwa waktu lima tahun sudah cukup untuk menuntaskan sebuah janji.

Akhirnya, selamat bersiap diri. Dan—sekali lagi—jangan lepas tangan!

————–
*Penulis adalah Direktur PT. Suluh Cendikia (Literatur Nasional)

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini