Thomas N. Pattiradiawane:
See U in ICU

Itu kiriman SMS dari teman saya,saat janjian besuk teman kami yang sedang dirawat di ICU (Unit Perawatan lntensif) sebuah rumah sakit.

Apa yang saudara pikirkan waktu saudara terpaksa berbaring di ICU dengan pipa (yang pasti bukan pipa pralon) dan saluran plastik menghubungkan bagian-bagian badan saudara dengan dunia luar? Hidung saudara dihubungkan dengan zat asam, lengan saudara dengan kantung darah transfusi, makanan di masukkan melalui hidung dan pembuluh darah, dan dikeluarkan memalui pipa pula (tapi nggak mengalir sampai jauh). Bisa terjadi dada dan perut saudara dihubungkan dengan peralatan. Dan saudara menatap cairan menetes dengan teratur dan setia dari botol infus, lalu masuk ke dalam urat di tangan saudara yang sudah mengenal banyak tusukan (ya bisa jadi sekebal pengguna narkoba), seolah-olah tetes-tetes itulah yang menyambung nyawa saudara. Mesin menunjukkan data vital saudara, denyut nadi, tekanan darah dan melukiskan degup jantung saudara disertai dengan bunyi. Kadang-kadang mesin berulah, misalnya berhenti bersuit atau karva di layar berubah (maaf, ada gangguan teknis), dan saudara menghimbau perawat menanyakan apa gerangan mesin itu sakit. Biasanya, keluarga yang menjaga lebih cerewet untuk bertanya atau komplain. Syukur kalau misalnya kemudian normal kembali.

Kata teman saya, kalau manusia dalam keadaan darurat; di tepi hidup, sebenarnya bukan dirinya lagi. Dia ajab memusatkan perhatiannya pada prioritas hidupnya. Apa yang menjadi tujuan hidupnya. Kalau ia tidak sadar, mungkin, ia tidak berpikir apa-apa (ya iya lah…). Kalau ia sadar sedikit, ia akan berpikir tentang dirinya, yang dekat dengan dirinya atau tentang keadaan sekarang. Kalau ia sadar. Ia dapat menerawangkan pikirannya ke berbagai hal; ke masa depan dan mereka-reka apa yang dilakukannya kelak, atau ke masa pasca sembuh. Tentu ia dapat berpikir pula tentang soal-soal kecil, bumbu-bumbu kehidupan, hal-hal yang berkesan tentang penjenguknya. Kebetulan-kebetulan yang terjadi dalam kehidupan dan sebagainya. Atau, kalau sadar mau game over ia akan bercurhat rencana akbarnya; menentukan tempat pemakaman; siapa yang memberi kata sambutan, sampai urusan berapa hari harus dirayakan kematiannya itu.

Teman saya yang lain, seorang dokter, sering menjadi saksi dalam perjalanan manusia (pasiennya) antara hidup dan mati; hanya sesaat, tetapi sangat penting. Tidak jarang pagi-pagi rekan dokter bertanya kepada yang lain yang jaga malam sebelumnya, “Dok, berapa orang saudara bunuh semalam?” Kita jangan terkelut atau kaget, karena itu adalah bahasanya dokter; jargon profesional, yang bagi orang-orang yang tiap hari melihat kelahiran, kematian, dan pembedahan, itu mah sudah biasa.

Kembali lagi, kalau melihat peristiwa sekitar kematian, kita tahu beraneka cara manusia menjelang matinya. Ada yang tenang, sudah puas dengan hidupnya, merasa sudah cukup bekerja dan sekarang rela mati. Ada yang gelisah bukan hanya karena keluarga yang ditinggal atau pekerlaan belum selesai, tetapi mungkin karena kimia darahnya membuat ia gelisah. Ada yang saleh dan beriman, berdoa dan meminta didoakan, serta minta dilayani Perjamuan Kudus, karena menganggap inilah perjamuan terakhir, ala murid-murid menjelang Yesus disalibkan. Ada pula yang tidak berpikir tentang mati, karena ia tidak merasa nyeri dan pikirannya waras. Ada lagi yang karena nyeri yang amat sangat dan harapan hidupnya sangat menipis serta tidak mampu membiayai pengobatan, meminta euthanasia, dikasihani dengan membunuhnya (menghentikan pengobatan atau memberi obat bius dalam dosis tinggi). Sebenarnya, kematian itu bukan sebuah dukacita, tapi keberuntungan, begitu saya diajarkan sewaktu Sekolah Minggu.

Di ruang ICU itu (dan juga di ruang ICU sewaktu mertua saya sakit), saya berpikir berat sekali tanggung jawab seorang dokter. Perlu suatu seni, kiat, dan keberanian tersendiri untuk mengantar seorang pasien dari dunia fana ke dunia baka; bagaimana seorang dokter memberi tahu keluarga pasiennya dengan bijaksana bahwa sang pasien harapan hidupnya tinggal sekian persen. Hmm.. lagi-lagi, biasanya keluarga akan cerewet dan bertanya:,,Berapa persen dok? 20?10?l ?0,9?0,1 ?0,01 ?’. Dan pertanyaan itu akan dilayangkan saat dokter keluar dari ruangan.

Tapi di ICU itu saya berpikir lagi.

Menurut saya, menjadi pasien adalah pekerjaan berat. Penyakit adalah guru yang waras, yang membuat muridnya (pasien) menjadi arif dengan ajaran dan tuluan hidupnya. Penyakit memang membawa hikmah tersendiri bagi pasien, dan luga kita yang hadir. ICU telah menempa semangat, menerima sahabat-sahabat yang sudah lebih l0 bahkan 30 tahun tidak berjumpa, dijenguk oleh orang-orang yang lebih tua dan kita hormati, keluarga dekat dan jauh (biasanya bermalam dan tidur beralaskan tikar, tidak mandi, kuat begadang) mantan kekasih atau mantan bos, handai taulan, bunga dan kartu yang menyuntik harapan, dan wartawan (kalau dia seleb kampus atau pelabat). Di ICU, teman dan kenalan-kenalan bertanya apa kita punya pengalaman sakit atau pernah dirawat di rumah sakit atau ICU. Positifnya. kita akan merenung kembali akan kesehatan kita dan syukur-syukur melakukan aksi kongkrit, tindakan preventif, supaya tidak sakit seperti sang pasien. Bisa diet, berhenti merokok, banyak jalan kaki, makan sayur-sayuran, dan rajin ke PMK atau ke gereja, mengunjungi landa dan yatim piatu. Pokoknya membenahi hubungan dengan Tuhan yang menciptakan kita. Kalau boleh saya menasihatkan sesuatu kepada mereka yang sedang atau akan masuk lCU, kerahkanlah semangat hidup saudara dan jangan mudah menyerah. Chairil Anwar saja ingin hidup seribu tahun lagi. Serahkan diri saudara ke tangan Tuhan, dan serahkan pengobatan ke tangan para dokter; dan mental serahkan pada keluarga dan handai taulan, tetapi hasrat hidup harus datang dari diri saudara sendiri. Mau?

 

—- Dituliskan oleh Thomas N. Pattiradiawane

— Majalah Dia Edisi 1/ Tahun XXIII/2008

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini