Julio Kristano:
Sego Kucing

Nasi kucing/panduanwisata.com

Makanan “sego kucing” atau “nasi kucing” tentunya bukan nasi yang diberi daging kucing atau nasi untuk kucing, tetapi segenggam nasi bungkus dengan lauk seadanya, seperti kering tempe, teri, cabe dan buncis, kemudian dijual murah sehingga terjangkau untuk kantong rakyat kecil. Di Jogja, nasi kucing banyak ditemui di warung-warung pinggir jalan yang disebut “angkringan.” Warung-warung tersebut biasanya terletak di dekat kampus, dengan ciri penerangan lampu minyak dan gerobak dorong.

Warung-warung itu menjadi tempat ngumpul, ngeteh, nyenack, ngobrol, mbanyol, dagang, nggosip, pacaran, sampai persiapan mau ujian. Bahkan, makan kenyang sambil ngutang juga bisa. Upaya kesederhanaan dengan menjangkau orang kecil adalah jiwa dari sego kucing ini. Yang diungkapkan dari sego kucing adalah kesederhanaan, kesahajaan, kebersamaan, dan apa adanya. Siapa saja bisa makan dan datang, meski cuma makan satu bungkus atau ngeteh satu gelas, tetap disambut dengan keramahan penjual di warung. Nongkrong lima menit ataupun lima jam pun tetap disambut dengan ramah.

Tetapi, nampaknya saat ini nilai-nilai kesederhanaan, kesahajaan, dan kebersamaan itu mengalami pergeseran. Ada banyak kejadian yang mengungkapkan kesederhanaan tetapi sesungguhnya tidak ada nilai kesederhanaan di dalamnya. Salah satu ciri kesederhanaan, yakni adanya sifat tidak merugikan orang lain. Warung angkringan dengan cahaya lampu minyak atau lilin, tidak perlu ada beban listrik. Penjual dengan anglo dan arangnya, tidak perlu gas elpiji atau minyak tanah yang berlebihan, menghemat beban negara.

Saat ini, manusia menjadi serigala bagi sesamanya, tidak lagi memiliki hati nurani. Hidupnya seringkali merugikan orang lain. Contoh dari pemimpin kita saat ini, adalah memikirkan apa yang kurang dari dirinya, bukan memikirkan apa yang belum dimiliki oleh rakyat. Membangun fasilitas super mewah menjadi prioritas untuk dikerjakan daripada membangun rakyat yang saat ini masih banyak mengalami kekurangan gizi, pendidikan rendah, kelaparan, dan masih banyak lagi.

Paulus, seorang rohaniawan besar yang hidup pada abad pertama dan tinggal di daerah Asia Kecil, mengatakan, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” Kalimat ini menjadi sebuah kekuatan bagi dirinya untuk terus berjuang. Ia tidak hidup berlebihan dan tidak pula berkekurangan. Bagi Paulus, ada makanan dan minuman sudah cukup, bahkan mencukupkan diri adalah apabila mencukupkan orang lain juga.

Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang menjalankan prinsip-prinsip hidup tersebut. Tidak mementingkan kepentingan pribadi, kepentingan keluarga, kepentingan kelompok dan kepentingan partai, tetapi meletakkan kepentingan tersebut di bawah kepentingan rakyat dan bangsanya. Hidup berbagi dengan orang lain adalah prinsip dasar dalam hidup.

Namun tampaknya semangat itu tidak ada dalam para pemimpin saat ini. Mereka lebih memikirkan bagaimana mendapatkan sebanyak–banyaknya kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan. Ini terlihat dari berbagai kasus yang terungkap, seperti kasus bank Century, kasus Gayus, kasus Wisma Atlet, dan kasus–kasus korupsi lainnya.

Jiwa dalam sego kucing adalah kesederhanaan, kebersamaan dan kesahajaaan. Perjalanan untuk menyejahterakan bangsa ini masih panjang apabila masing–masing orang di dalam bangsa ini masih memikirkan diri sendiri. Mulailah dari dalam diri kita masing – masing, untuk mencukupkan diri dan mencukupkan orang lain.

_______
*Diterbitkan pada majalah Dia edisi I tahun 2012
**Ditulis oleh Julio Kristano, PC Perkantas DIY, Pengasuh Kelas Integrasi Iman Kristen bagi mahasiswa Strata 1 dan Diskusi Kajian Strategis bagi mahasiswa Pasca Sarjana di Perkantas DIY

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini