Thomas Nelson P:
Self Control

Di siang hari bolong ini, aku sedang  menunggu bis. Hiruk pikuk kota Jakarta tentu tidak mengenalku. Jakarta sedang sibuk. Warganya tengah mengunyah. Mereka terus menyingsingkan lengan baju. Ada yang menghibur diri atau mengeluh. Diantara mereka, ada juga yang sedang negosiasi, berkhotbah atau cuma melamun, memikirkan masa depan yang lebih baik!

Panas dan pengap udara Jakarta merasuk tubuhku. Untuk hidup di kota besar seperti Jakarta ini, memang kita harus kuat fisik dan mental. Kalau tidak, kita cepat kehilangan kontrol bahkan bisa sakit saraf. Di samping itu,kalau tidak punya mobil pribadi, harus sabar menunggu, seperti halnya aku yang sudah setengah jam berdiri di halte.

Kulayangkan mataku pada jejeran koranyang diletakkan meja penjual koran dan majalah. Satu persatu kutatap cover majalah dan judul berita koran. Menarik, salah satu judul berita harian Pos Kota, 6 Mei 1994, di halaman pertama:

Pendeta bunuh diri tinggalkansurat“Lebih baik susul isteri kesurga”

Langsung kurogoh kantongku. Tiga pecahan uang seratusan pun beralih tangan. Bersamaan dengan itu, bis datang!

“Ekh, Tom! Mau ke mana atau dari mana nih?” suara seseorang dari dalam bis, seakan-akan menyambut aku masuk.

“Hai! Kamu, Git. Kukira siapa?” sahutku.

“Enggak, tadi aku mengantar undangan buat pembicara PMK pekan depan. Sekarang aku mau ke kampus” jelasku

“Kalau gitu tujuan kita sama dong. Hari ini,aku ada dua mata kuliah. Psikologi Massa dan Sistim Hukum Indonesia. Kamu sendiri,Tom?”

“Kebetulan, cuma satu. Metode PenelitianSosial! Tapi, aku juga mau ketemu si Maya,untuk membahas rencana rapat retret PMK.

“Ekh, koq, kamu beli Pos Kota, Tom! Mau beli mobil bekas ya?”

“Enggak akh. Aku bukan nyari iklan mobil bekas, tapi aku tertarik dengan isi berita pendeta yang bunuh diri,” ujarku sambil menyodorkan Pos Kota.

Sambil bergelantungan, Gito menyimak isi berita itu. “Akh, aku nggak percaya! Ini sih pasti berita buatan wartawan. Direkayasa!”kata Gito.

“Ya, lepas dari percaya tidaknya kamu, aku cuma lagi mikir dan melihat kejadian akhir-akhir ini, Git. Koq, tingkah laku sementara anggota masyarakat begitu nekad. Betapa gampangnya orang mengeluh kepada kaleng Baygon atau pada seutas tali. Hmm… gampang gitu orang mempunyai niat, buat menghilangkan nyawa sesamanya,” jelasku.

“ly ya…, boleh dikata setiap hari kita membaca atau menyimak peristiwa pembunuhan. Entah karena soal sepele; karena saling beradu pandanglah, atau karena uang beberapa ribu bahkan beberapa ratus rupiah. Karena rasa malu, kecewa, atau karena hubungan cinta yang tidak disetujui” Gito menimpali.

“Menurut kamu Cit, apa sih yang menyebabkan orang bertingkah begitu agresif atau nekad?” tanyaku “Banyak faktor, Tom! adalah frustrasi. Menurutku, manusia bisa menjadi agresif dan bertindak di luar dugaan, manakala ia sedang frustrasi. Makin tinggi tingkat frustrasinya makin besar kemungkinan ia melancarkan tindakan agresif’ ujar Gito yang gemar baca tulisannya Agatha Christie.

“Apa yang menyebabkan lahirnya frustrasi?” tanyaku lagi

“Frustrasi itu lahir manakala keinginan seseorang sama sekali tidak bisa diwujudkan atau bisa diwujudkan, namun tidak sepadan dengan dengan yang diharapkan semula” Gito menjelaskan.

“Kongkritnya?”

“Misalnya. Laki-laki yang hendak menggagahi seorang wanita, menjadi amat frustrasi kalau dalam usahanya, memperoleh perlawanan dari korban. Frustrasinya kian hebat, karena ia sadar kalau usahanya gagal, dirinya bisa celaka. Timbullah tindakan agresif secara spontan” jelas Gito.

“Oh, mungkin itu yang menyebabkan seorang mahasiswi IPB tewas beberapa waktu lalu di tempat kost-nya,” kataku.

“Persis!”

“Git! Lalu gimana dong dengan kasus pendeta yang bunuh diri itu?”

“Seperti yang ditulis wartawan Pos Kota, ia kan kecewa dengan jemaat yang menghambur-hamburkan uang gereja. Setiap pendeta pasti dong, menghendaki semua anggota jemaatnya itu hidup dengan baik dan bermoral. Tetapi, begitu melihat perilaku jemaatnya menyimpang dia kecewa. Sehingga ia frustrasi. Maksudnya keinginannya tidak terwujud” Iirih Gito menjelaskan

“Tapi terkadang aku nggak habis pikir, Tom. Kenapa sih harus sampai dibunuh, malah dengan cara yang begitu tak manusiawi. Atau kenapa sih orang begitu rapuh, sehingga cepat mengambil keputusan untuk bunuh diri”

“Susah juga Git! Menurutku, ada banyak hal yang tidak bisa kita jamah tentang semua ini. Selain frustrasi, mungkin saja karena ketidakpercayaan kepada hukum dan keadilan yang diatur dan ditegakkan oleh negara. Bisa saja karena masalah sosial ekonomi dan kecemburuan sosial. Atau karena masalah kejiwaan. Tapi bisa juga karena pengaruh teknologi, kurang takwa atau kurang menekuni agama”

“Hmm…. seperti kasus tewasnya mahasiswi IPB itu loh. Katanya sih, sebelum melakukan aksinya tersangka sempat menyaksikan film berbau seks dan kekerasan Gigolo in The Murder. Nah apakah kita terus mengambil kesimpulan, karena pengaruh film tersebutlah yang menganiaya dan membangkitkan niat untuk membunuh korban?” tanya Gito

“lya terlalu banyak faktor-faktor di luar yang ditayangkan film atau televisi yang menyebabkan terjadinya penyimpangan,” sahutku.

“Ekh, Tom! Kenapa sih kamu begitu antusias bicara soal bunuh diri atau soal pembunuhan. Itu khan terjadi pada orang lain, bukan menyangkut kita. Untuk apa sih kita memikirkan masalah di seputar kita, sementara ada banyak masalah kita sendiri yang belum bisa ditanganirl

“Jangan gitu dong, Git. Siapa tahu, suatu saat kita terlibat dalam kasus pembunuhan!”

“Maksudmu, kita bisa dan tega menghilangkan nyawa diri sendiri atau orang lain?” tanya Gito kaget

“Hoo’oh! Ya, siapa tahu, saat kita dalam keadaan kepepet atau terpojok. Kita khan nggak tahu apa yang bakal terjadi dengan masa depan kita”

“Tidak mungkin! Kekristenan yang kita anut mampu untuk menangkal semua itu. Hati nurani kita tidak mungkin berbuat sebodoh itu” kata Gito mantap

“Kamu jangan terlalu cepat memberikan jaminan dong. Pendeta saja bisa melakukan aksi bunuh diri. Apa kurangnya coba? Setiap hari pasti dia berkutat dengan firman Tuhan, apakah itu jaminan untuk menangkal segala kejenuhan atau keperpojokkan hidupnya?” tanyaku.

“Tunggu dulu, Tom. Coba kita telusuri. Apapun yang mendorong seseorang berbuat nekad dan sadis, satu hal kiranya bisa kita sepakati pada waktu bertindak demikian, ia telah kehilangan ” self-control“nya”

“Maksudmu?”

“Seorang pendeta yang mengeluh tentang jemaatnya tidak perlu menaruh harapan kepada sereguk racun, kalau pada detik itu ia masih memiliki akal-sehatnya. Atau, misalnya seorang mahasiswa yang dibenci orangtuanya, dia tidak harus mengambil jalan bunuh diri untuk menyelesaikan permasalahan andaikata saat itu ia masih mampu mengendalikan dirinya”

“Tapi kan self control seseorang dengan lain orang tidak sama Git. Ada orang yang dalam situasi bagaimana pun tetap mampu menuntun tingkah-laku dirinya dengan akal sehat. Sebaliknya ada orang hanya karena berhadapan dengan masalah yang menurut anggapan umum masih bisa dipecahkan, begitu impulsif menyelesaikannya dengan nekad”

“Hmmm…hu aaaah” Gito mulai kegerahan

“Git… kalau gitu seperti kamu sekarang ini barangkali yaa…

Di siang panas terik ini dan kamu kegerahan…. coba kalau kamu tidak punya pengendalian diri, mungkin udah teriak atau menggerutu. Bahkan bisa-bisa buka baju alias telanjang dada, di dalam bis kota”

“Ekh, Tom! Menurut kamu gimana ya … supaya orang punya daya kendali diri yang baik?”

“Wah, ini susahnya. Itu subjektif sih. Tapi menurut pendapatku, selama orang yang bersangkutan belum pernah bertemu dengan ke- Mahakuasa-an Allah, maka orientasi hidupnya hanya seputar diri sendiri. Ia menganggap hidup ini miliknya. Nah, gawat khan tuh. Ia lupa kepada Pemberi kehidupan yang memberikan hal yang sama bagi orang lain. Dia tidak menyadari masalah yang ia alami itu belum seberapa dibandingkan Allah pemberi hidup yang besar dan matrakuasa itu. Pokoknya, selama ia belum mengenal Allah, tak mungkin punya pengendalian diri yang baik”

“lya ya… Tom. Ekh, kadang-kadang aku sebelum tidur malam gitu.. suka merenung … memikirkan kejadian seharian dikaitkan dengan diriku sendiri….Siapa aku? Sebelum aku bertemu Kristus, kayaknya aku nggak punya kepribadian dan identitas, sulit untuk berinteraksi dengan orang lain, bahkan nggak tahu apa tujuan hidup ini?”

“Eh, Git! Ngomomg-ngomong menurut kamu, hidup ini makin sulit, atau kita yang bikin sulit?”

“Entahlah. Dibilang enggak, mungkin karena kita hidup berkecukupan. Tapi bagaimana dengan orang lain? Dibilang sulit, ya… memang sulit. Coba saja, naik bis aja musti sikut-sikutan. Atau tidak usah jauh-jauh, banyak kakakkakak alumni kita, masih banyak yang belum dapat kerjaan. Tapi begini, sekalipun hidup ini sulit, keras dan kompetitif, seperti kata kamu, kita harus ingat pada Pemberi hidup ini. Karena kita tidak punya kuasa atas hidup kita maupun hidup sesama kita. Hanya Tuhanlah yang memiliki kuasa itu. Daripadanyalah kita diberi kuasa untuk hidup dan memanagenya. Sebab, terus terang kita tidak bakalan kuat hidup dengan kekuatan sendiri…..”

“Kampus! Kampus! Siap-siap di pintu” teriak kernet.

“Sekarang, menurut kamu apa dong yang kita sendiri bisa lakukan supaya self control kita baik, Git?”

“Apa yaa? Ya coba deh … mungkin dari hal-hal kecil kita meningkatkan self control. Maksudnya setiap hari kita belajar untuk mengendalikan diri”

“Ayo, Mas! Cepat! Jangan tidur. Sudah bayar cepek, lambat pula!” ujar kemet sambil melotot melepas kami turun

“Nah, tuh Tom. Kita baru saja belajar untuk mengendalikan diri! Coba, kalau kita nggak punya kendali diri, mungkin sudah memaki kernet tadi atau bisa jadi kita ngajak duel dengannya” Kami tiba di kampus. Salah satu ajang untuk belajar mengendalikan diri. **

*Dituliskan oleh Thomas Nelson Penulis Staf Lembaga Informasi dan Komunikasi Kristen (LINK) Jakarta

 

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini