Philip Ayus:
Menikmati Karunia Materi, Relasi, dan Rohani

Kita hidup di dunia materi, dimana mayoritas hidup kita bersumber dari bagaimana panca indera menangkap informasi yang kemudian diolah oleh pikiran kita. Mata kita melihat bentuk dan warna, telinga kita mendengar bunyi dan kata, hidung kita menghirup aroma, dan seterusnya.

Oleh karenanya, tak heran bahwa banyak keputusan yang kita ambil dalam kehidupan sehari-hari didasarkan atas penilaian secara materi juga. Di pasar, misalnya, kita memilih daging, buah, dan sayur yang terlihat masih segar. Di keramaian seperti stasiun, halte, bus, atau kereta, kita cenderung menjauh dari orang yang bau badannya kurang sedap. Ketika memilih menu makan siang, kita juga akan memilih makanan yang sesuai dengan lidah kita.

Ada beberapa pengajaran yang memandang dunia materi yang di dalamnya kita hidup ini sebagai dunia yang hina dan rendah, sampai-sampai ada yang memusuhi segala kenikmatannya, karena menganggapnya sebagai dosa, yakni sesuatu yang tidak dikenan oleh Allah. Ada pula yang menjadikan “permusuhan” atas dunia materi sebagai wujud “menyangkal diri” dan “memikul salib.”

Akan tetapi, pemahaman seperti ini bukanlah apa yang diajarkan oleh kitab suci. Alkitab bersaksi, bahwa dunia ini diciptakan oleh Allah sendiri, yang melihat bahwa apa yang telah diciptakanNya itu memiliki kualitas yang “sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Dalam peristiwa perkawinan di Kana, Yohanes mencatat bahwa Tuhan Yesus mengubah air menjadi anggur, yang kemudian dipuji oleh pemimpin pesta sebagai “anggur yang baik” (Yoh. 2:10).

 

Perhentian #1: Bersyukurlah kepada Allah untuk panca indera yang Anda miliki. Ingat-ingat kembali, apakah pengalaman-pengalaman paling mengesankan dari tiap panca indera Anda (pemandangan terindah yang pernah Anda lihat, bau terharum yang pernah Anda cium, masakan ternikmat yang pernah lidah Anda kecap, dsb).

Diciptakan seturut dengan gambar dan rupa Allah Tritunggal, manusia pada naturnya merupakan makhluk sosial. Segala kenikmatan di dalam dunia materi tidak dapat memenuhi kebutuhannya akan relasi. Allah pun melihat bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja dan menjadikan seorang penolong yang sepadan baginya (Kej. 2:18).

Selain kenikmatan yang kita peroleh dari dunia materi, anugerah Allah bagi kita adalah berupa relasi kita dengan sesama manusia. Ada individu yang berupaya memenuhi kebutuhannya akan relasi dengan sesama manusia dengan memelihara hewan peliharaan. Anjing atau kucing dianggap seperti anak sendiri.

Namun demikian, sekalipun anjing atau kucing tersebut seolah-olah mengerti apa yang kita bicarakan, mereka bukanlah makhluk yang sepadan dengan kita. Hewan peliharaan tidak bisa memberikan masukan atau kritikan yang kita butuhkan. “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya,” demikian hikmat dari Amsal 27:17.

Setiap kita memiliki pengalaman yang unik tentang relasi. Terkadang, kita menjauhi seseorang, bukan karena bau badan, melainkan karena hubungan kita dengannya sedang bermasalah. Di kesempatan lain, kita mungkin menjadi pribadi yang dijauhi karena berada dalam situasi konflik yang membuat posisi atau perkataan kita disalahpahami. Dan, tentu saja, kita menjalin relasi yang indah dan intim dengan seseorang atau orang-orang yang menjadi pasangan atau sahabat kita, sehingga kita menjadi “besi yang saling menajamkan.”

 

Perhentian #2: Relasi merupakan anugerah Allah. Bersyukurlah untuk hubungan-hubungan yang Anda miliki dengan orang tua, saudara, teman di kampung, teman sekolah, teman kuliah, rekan kerja, atasan, jemaat di gereja, dan seterusnya.

 

Perhentian #3: Apakah ada di antara relasi-relasi itu yang sedang bermasalah? Berdoalah supaya Roh Kudus menolong Anda untuk meneladani Allah di dalam Kristus yang terlebih dahulu mengawali rekonsiliasi. Rekonsiliasi tidak mungkin terjadi tanpa kerendahan hati. Berdoalah, supaya Roh Kudus menundukkan ego Anda sehingga Anda dimampukan untuk memulai rekonsiliasi.

 

Kita bukan hanya hidup sebagai makhluk materi, tetapi kita juga adalah makhluk rohani. Bisa dikatakan bahwa kita adalah makhluk rohani yang diam di dalam tubuh jasmani. “You don’t have a soul; you are a soul. You have a body,” demikian tulis C.S. Lewis.

Peristiwa turunnya Roh Kudus di Yerusalem merupakan tonggak sejarah gereja yang menegaskan bahwa kita tak hanya bersifat materi, melainkan juga rohani. Kristus memperlengkapi gereja-Nya dengan Roh Kudus yang melimpahkan berbagai karunia supaya jemaat dapat saling membangun (1 Kor. 14:12, 26). Dan terlebih daripada itu, oleh Roh Kudus kita juga menerima pencurahan kasih Allah di dalam hati kita (Rm 5:5).

Karena Roh Kudus telah diam di dalam hati kita (1 Kor. 6:19, Ef. 1:13-14), maka kita menjadi manusia baru yang membuat keputusan-keputusan hidup tidak sekadar menggunakan pertimbangan fisik, melainkan juga oleh pertimbangan-pertimbahan rohani di dalam pimpinan Roh Kudus. Kita tidak menolak kenyamanan, tetapi di sisi lain, kenyamanan secara materi atau fisik bukan lagi menjadi pertimbangan utama.

 

Perhentian #4: Bersyukurlah untuk Roh Kudus yang telah diam di dalam hati Anda. Ingatlah kembali momen dimana Anda merasa bahwa Roh Kudus menolong Anda untuk membuat keputusan-keputusan yang penting di dalam hidup Anda dan bersyukurlah kepadaNya. Ingatlah juga masa-masa dimana Anda pernah “memberontak” dan memilih cara Anda sendiri, mohonlah ampunan-Nya dan berdoalah supaya Roh Kudus menolong Anda menjadi murid yang lebih taat.

 

Perhentian #5: Apakah saat ini Anda sedang bergumul untuk membuat keputusan-keputusan yang akan memengaruhi hidup Anda? Berdoalah dan mintalah Roh Kudus untuk menuntun, menyertai, dan menguatkan, juga menghibur Anda di dalam setiap keputusan hidup yang Anda ambil serta dalam menjalani setiap konsekuensi atau risikonya.

 

Selamat menjalani kehidupan dan menikmati karunia-karunia Ilahi yang bersifat materi, relasi, dan rohani. Tuhan memberkati.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *