Philip Ayus:
Teman Perjalanan Misterius

“Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang
untuk membebaskan bangsa Israel.”
(Luk. 24:21a)

 

Kota Yerusalem baru saja dihebohkan oleh peristiwa ketidakadilan yang sangat menyiksa akal sehat. Yesus, Guru dan Penyembuh dari Nazaret itu, menanggung hukuman keji, yang tidak seharusnya Ia dapatkan. Tak terhitung jumlah mukjizat dan kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Tak ternilai pula pengajaran-pengajaran yang disampaikanNya kepada umat—semuanya mengembalikan esensi hukum Taurat dan kitab para nabi, yang telah banyak diselewengkan oleh para pemuka agama Yahudi.

Sejak dibaptiskan oleh sepupu-Nya yang kemudian mati di tangan Herodes itu, popularitas Yesus terus meningkat, bahkan melampaui para imam dan ahli kitab suci. Tak heran, Dia tergolong sosok Rabbi yang egaliter, yang tak susah ditemui—baik secara publik, maupun seperti yang dilakukan Nikodemus, secara pribadi. Bukan hanya dengan kalangan elit, Yesus juga (lebih banyak!) bergaul dengan kalangan bawah, bahkan yang sering dijauhi masyarakat karena dianggap pendosa dan penjahat.

Semua orang dengan akal sehat pasti akan segera dapat mengambil kesimpulan, bahwa Yesus adalah sosok pemimpin yang ideal. Kualitas pribadi dan karakter-Nya teruji. Ia tahu kapan harus tegas, dan kapan harus menunjukkan belas kasihan. Ia membongkar struktur-struktur sosial yang seringkali memberatkan umat, mulai dari aturan-aturan hari Sabat, hingga persembahan untuk Bait Allah yang syarat-syaratnya terlampau berat. Setelah lebih dari tiga tahun mengamati kiprah Sang Guru dan Tabib itu, umat bahkan sudah mengharapkan Dia sebagai Mesias, Juruselamat bagi orang Yahudi, sebagaimana dinubuatkan oleh para nabi. “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” begitu teriak mereka sambil menyambut Yesus yang memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai. Semua orang bukan hanya mengharapkan Yesus sebagai pemimpin rohani, melainkan lebih dari pada itu, sebagai pemimpin politik seperti raja Daud, yang akan membawa Israel ke dalam era kejayaan masa lampau. Para murid bahkan sudah sejak lama memperebutkan posisi terhormat kelak ketika Guru mereka itu memerintah sebagai Raja Israel!

Namun, semua euforia itu sirna dalam sekejap mata. Sosok yang mereka gadang-gadang sebagai pemimpin bangsa itu tiba-tiba meregang nyawa di Golgota. Dan, kisahnya tak berhenti di situ saja. Pada hari ketiga setelah penguburan-Nya, tersiar kabar, bahwa jasad-Nya tak ada lagi di dalam goa dimana Ia dikuburkan dengan terburu-buru karena Sabat hampir tiba. Yang lebih mengejutkan lagi, kabar itu menyebutkan, bahwa jasad Sang Rabbi raib karena Ia bangkit kembali—bukan karena dicuri! Jika benar demikian, apakah maknanya bagi para murid, dan apakah yang terjadi kemudian? Akankah Sang Guru kembali membuat penampakan publik dan mengajar kembali? Ataukah Ia benar-benar Mesias, dan akan membentuk pasukan untuk menundukkan kekaisaran Romawi?

Terlalu banyak informasi yang harus dicerna oleh para murid selama tiga hari ke belakang. Rentetan peristiwa sejak ditangkapnya Sang Guru di Getsemani terlalu menguras emosi. Mereka terpaksa lari dan bersembunyi, melakukan social distancing. Status mereka berubah 180 derajat, dari murid-murid Sang Guru dan Pembuat mukjizat, menjadi murid-murid seorang penjahat. Pada hari pertama setelah Sabat, seharusnya semua berjalan sebagaimana seharusnya—para wanita mengurapi jenazah Yesus, para murid datang ke kubur untuk meratapi kepergian-Nya, lalu semua kembali berjalan seperti biasa. Yesus dari Nazaret akan dikenang sebagai Guru, Nabi, Penyembuh, dan Pembuat mukjizat yang hebat, yang diperlakukan secara tidak adil dan mati disalibkan sebagai seorang penjahat. Namun, lagi-lagi terjadi hal yang tidak biasa. “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit,” begitu sekutip kabar dari malaikat kepada para wanita yang hendak mengurapi jasad-Nya. Dan benar, kubur itu memang kosong!

Beragam informasi itulah yang sedang menjadi buah bibir penduduk Yerusalem, termasuk Kleopas dan temannya ketika dalam perjalanan mereka menuju kampung Emaus. Di dalam perjalanan itulah, Kleopas dan temannya mendapatkan “Teman” seperjalanan yang misterius. Ia misterius, karena seolah-olah tidak tahu-menahu tentang “trending topic” teratas di seluruh Yerusalem dan sekitarnya, dan makin misterius, karena tiba-tiba memarahi mereka karena hanya mengetahui beragam informasi, namun tidak mengetahui, apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka gagal menarik benang merah dari setiap peristiwa dalam kaitannya dengan isi kitab suci. Hati mereka berkobar dan meluap-luap ketika Sang Teman Perjalanan memaparkan berbagai nubuatan para nabi yang tertulis di dalam kitab suci, namun mereka masih belum dapat mengenaliNya, karena ada sesuatu yang menghalangi mata mereka.

Baru setelah mereka tiba ke Emaus dan setelah Sang Tamu mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kedua murid itu dapat mengenali Guru mereka, yang segera hilang dari pandangan mereka. Mereka pun heboh sendiri. Guru mereka benar-benar bangkit seperti nubuatan kitab-kitab suci. Pengharapan akan kegemilangan Yesus sebagai Mesias yang akan memimpin Israel keluar dari perbudakan pun bersemi kembali, tetapi kali ini, mereka tak memahami Mesias seperti sebelumnya lagi. Guru mereka ternyata bukan cuma Juruselamat bagi satu bangsa Israel, melainkan bagi seluruh umat manusia, dan bukan sekadar Juruselamat secara ekonomi atau politik, melainkan Ia membebaskan setiap orang percaya dari belenggu dosa.

Ketika itu terjadi, hati kita pasti akan berkobar-kobar, dan kita akan menjalani kehidupan dengan penuh semangat kembali, dan kita takkan membiarkanNya pergi, karena kita ingin belajar daripadaNya, lagi dan lagi.


Perjalanan ke (dan makan malam di) Emaus merupakan kisah kita semua. Ada masa-masa, dimana peristiwa yang tak kita antisipasi terjadi dan memengaruhi jalan hidup banyak orang, termasuk kita. Pandemi Covid-19 adalah peristiwa semacam itu. Sebagaimana banyak peristiwa besar yang membuat gempar, wabah ini pun diikuti dengan banjir informasi yang simpang-siur. Saking seringnya terjadi banjir informasi di kala terjadi wabah, sampai-sampai ada istilah khusus yang diberikan, yakni “infodemi”. Benak kita dipenuhi berbagai informasi yang membuat adrenalin naik dan turun dengan cepat seperti rollercoaster. Saluran-saluran komunikasi yang kita miliki dibombardir dengan konten-konten beragam jenis, mulai dari panduan kesehatan, renungan, humor, kabar burung tentang khasiat hasil tanaman tertentu dalam menghalau virus korona, hingga teori konspirasi yang dilontarkan figur-figur publik. Belum lagi jika—sama seperti para murid—ada yang kehilangan pekerjaan karena perusahaan mengambil langkah aman dan mengurangi jumlah karyawan, atau memiliki usaha sendiri dan terpaksa harus tutup sementara. Sama seperti Kleopas dan temannya, kita juga sedang mencerna apa yang terjadi sembari menjalani hidup kita. Dan, sama seperti mereka, kita juga memiliki Teman Seperjalanan Misterius, yang akan menolong kita memahami apa yang terjadi dari sudut pandang Ilahi. Ketika itu terjadi, hati kita pasti akan berkobar-kobar, dan kita akan menjalani kehidupan dengan penuh semangat kembali, dan kita takkan membiarkanNya pergi, karena kita ingin belajar daripadaNya, lagi dan lagi.

Perjalanan menuju Emaus adalah perjalanan iman, sama seperti perjalanan hidup setiap orang percaya. Bedanya, Teman Seperjalanan Misterius itu kini tinggal di dalam hati kita, yakni Roh-Nya sendiri. Roh itulah yang akan menolong kita memahami apa yang terjadi dengan kacamata Ilahi. Roh Suci-Nya akan menolong mengarahkan pandangan kita kepada Allah yang menyejarah, kepada Sang Ilahi yang tak pernah meninggalkan umat-Nya, melainkan terus berkarya memintal helai demi helai benang sejarah, hingga suatu hari kelak menghasilkan mahakarya yang terjalin begitu indah. Pertanyaannya adalah, apakah kita mau menerima tegoran dari Dia dan mendengarkan firman-Nya? Relakah kita ketika mendapati, bahwa ternyata Tuhan yang kita andalkan itu seolah tampak lunglai tak berdaya, sehingga jangankan menjadi pembebas kita dari segala kesulitan, membebaskan Diri-Nya sendiri pun tak bisa? Maukah kita menerima kenyataan, ketika pembebasan yang ditawarkanNya ternyata tak menjamin lepasnya kita dari penderitaan selama hidup di dunia? Ataukah kita menutup telinga ketika Dia berbicara, kemudian memilih berjalan dengan pemikiran dan pemahaman sendiri?

Berikan tanggapan