Yulius Tandyanto:
Duapuluh

Duapuluh tahun telah berlalu. Dan masih perlukah kita setia merayakannya? Kepada ia, sang momen, yang telah dibaptis sebagai tonggak untuk membuka era baru NKRI: Reformasi.

Kebebasan, toleransi, dan solidaritas. Tiga anak kandung yang lahir dari rahim tua nan otoriter. Dan yang dibuahi oleh idealisme-idealisme darah muda. Dan juga yang selalu diperjuangkan secara serius oleh sebagian besar generasi yang lahir pada tahun 1970-an dan sebelumnya.

Bersama tiga saudara ideologis itulah kita merawat demokrasi. Kita boleh mengutarakan segala pemikiran kita dengan lebih leluasa—bahkan mungkin sampai kebablasan. Dan kita pun memakluminya. Di sana-sini tumbuh berbagai partai politik yang mendaku mewakili aspirasi-aspirasi kita untuk kebaikan bersama. Di sana-sini juga muncul bermacam-macam media massa yang membingkai satu peristiwa yang sama tetapi dengan narasi yang sangat berbeda.

Di situ pula kita belajar menghargai perbedaan secara konkret. Kita belajar menyematkan kaki kita pada sepatu orang lain—dengan ukuran, bentuk, warna, dan mungkin bau yang berbeda. Barangkali kita pun terkaget-kaget dengan begitu lebar dan dalamnya perbedaan yang kita miliki: suku, agama, ras, dan seterusnya, dan seterusnya. Awalnya, kita masih merayakan perbedaan tersebut. Kita mengikat macam-macam perbedaan yang ada dengan rasa solidaritas sebagai satu bangsa.

Pada saat yang bersamaan hal-hal yang “buruk” juga tumbuh. Radikalisme dan terorisme menjadi alternatif pandangan hidup yang tak kalah memukau. Bahkan, ia menawarkan suatu jalan keluar yang lebih pasti—yang kerap dikemas dengan janji-janji surgawi. Baik disadari ataupun tidak, ideologi macam demikian pada akhirnya menyatakan diri sebagai satu-satunya ideologi yang paling sahih dan bersifat mutlak. Ia menjadi otoriter.

Barangkali itulah paradoks tragis demokrasi. Sebagaimana gandum tumbuh bersama ilalang, demikian pula kebebasan, toleransi, dan solidaritas juga tumbuh bersama radikalisme. Kelak radikalisme akan membunuh tiga saudara ideologis yang telah membesarkannya. Dan pada akhirnya, kita mulai menyangsikan—bahkan membenci—perbedaan.

Kini, dua dekade telah menguap—entah dirasa cepat ataupun lambat. Kita pun telah mencecap buah-buah era Reformasi. Ada yang manis, tapi tak sedikit pula yang busuk. Pasalnya, kebebasan, toleransi, dan solidaritas sering kali disalahgunakan.

Kebebasan ditundukkan oleh nafsu. Uang menjadi segala-galanya. Dengan uang, seseorang dapat bertindak sesuka hati, termasuk membeli hukum. Ia tak begitu peduli lagi dengan aturan, yang penting kepentingannya terpenuhi. Barangkali contoh gamblangnya adalah kebiasaan korupsi baik dalam skala kecil ataupun besar.

Demi nafsu, toleransi pun dimanipulasi. Kadang atas nama kebebasan, kadang atas nama mayoritas. Di satu sisi, seseorang merasa berhak gagasan radikalnya ditoleransi. Jika tidak, ia segera menyalahkan pemerintah karena tidak becus merawat demokrasi dan bersikap tidak adil terhadapnya. Di sisi lain, kalangan mayoritas merasa berhak menerapkan tata cara hidupnya kepada semua orang tanpa terlebih dahulu menghiraukan hak-hak dasar kalangan minoritas. Dalam kasus-kasus tersebut, toleransi tak ubahnya sebuah topeng berwajah santun yang menyamarkan kebencian.

Solidaritas pun dilemahkan. Orang-orang tidak lagi solider terhadap kemanusiaan. Mereka lebih memilih setia terhadap kelompok-kelompok kepentingan atau golongan tertentu. Kemanusiaan dipandang abstrak, bahkan sebuah bidah. Bahkan, solidaritas terhadap suatu agama jauh lebih penting, lebih konkret, dan lebih mulia.

Lantas, masih perlukah kita memperingati Reformasi? Barangkali tak ada yang lebih penting selain membicarakannya kembali bersama generasi-generasi digital yang lahir pada periode Reformasi. Bahkan, saat ini kita sungguh memerlukan pertimbangan-pertimbangan etis untuk merumuskan kembali hakikat kebebasan, toleransi, dan solidaritas.

Siapa tahu kita menemukan apa artinya hidup etis atau menjadi saleh di dalam masyarakat yang demokratis, ketika pada hari ini banyak orang memuja kesalehan, (ber)apa pun harganya.

Leave a Reply