Yulius Tandyanto:
Kata

Pada mulanya adalah kata. Dan kata itu tinggal bersama-sama kita. Syahdan, tak satu hal pun dapat diketahui oleh kita tanpa melalui kata.

Barangkali kata hanya berkembang pada ras manusia—makhluk yang dikenal paling intelektual sampai saat ini. Hewan punya bahasanya sendiri, tetapi mereka tidak mampu menciptakan kata. Sebaliknya, hanya manusia yang senang bermain-main dengan kata dan menciptakan kata-kata baru.

Melalui kata kita menamakan segala hal: mulai dari hal-hal yang konkret sampai hal-hal yang abstrak. Yang satu kita namakan sebagai “batu”, yang lainnya sebagai “pohon”, atau yang lainnya lagi sebagai warna “biru”. Bahkan, ada pula orang-orang yang kini berteriak-teriak atas nama “kebenaran”, berjuang demi “kemanusiaan”, atau menjunjung tinggi “keadilan”.

Tapi, sesungguhnya apa itu kata?

Seseorang mungkin saja menjawab bahwa hakikat kata adalah penamaan. Tentu saja penamaan sudah selalu mengandung pula penilaian benar dan salah sesuai kesepakatan bersama. Sebagai contoh kita umumnya sepakat bahwa warna teks yang sedang Anda baca ini adalah warna “kelabu”. Jika ada yang menyebut warna “merah”, “coklat”, atau “grau”, segeralah kita mengernyitkan dahi.

Namun, mengapa kita menamakannya sebagai “kelabu” dan bukannya dengan kata lain seperti “bulake”, “grau”, atau lainnya? Terhadap pertanyaan nyinyir seperti itu, mungkin kita hanya bisa mengangkat bahu kita sendiri seraya berkata, “Entahlah!”

Mungkin salah satu hipotesis terbaik yang dapat diberikan adalah bahwa segala penamaan tersebut adalah kesepakatan bersama yang bersifat nyeleneh. Mengapa? Karena sudah sejak dari generasi-generasi sebelumnya kita diajarkan demikian. Lidah orang Indonesia mengatakan warna teks ini sebagai “kelabu”. Namun, orang Jerman menamakannya sebagai “grau” atau “gris” bagi orang Prancis.

Penamaan adalah upaya khas manusia untuk menamakan suatu hal sesuai dengan kebutuhannya sendiri.

Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada kesesuaian yang memadai antara penamaan dan obyek pada dirinya sendiri. Penamaan adalah upaya khas manusia untuk menamakan suatu hal sesuai dengan kebutuhannya sendiri. Batu di jalan tidak pernah menyatakan dirinya pada kita bahwa ia adalah “batu”. Namun, kita sendirilah yang menamakan secara sepihak bahwa material padat yang berasal dari bumi itu dinamakan sebagai “batu”.

Hipotesis ini sangat menarik apabila kita terapkan juga pada konsep-konsep abstrak yang telah disebutkan di atas. Misalnya, kata “kebenaran”. Barangkali “kebenaran” tidak lain adalah penamaan nyeleneh akan suatu keadaan yang tidak dapat diketahui, tetapi begitu dihasrati, dihayati, dan disepakati oleh kita.

Dalam rumusan bahasa yang lebih provokatif: “kebenaran” boleh jadi adalah suatu ilusi yang telah kita lupakan sebagai ilusi. Dan pelupaan ini telah berlangsung selama ratusan—atau bahkan ribuan—tahun sehingga pada akhirnya ilusi tersebut kita percayai sebagai satu-satunya tolok ukur untuk menilai segala sesuatu.

Tentu saja hipotesis ini tidak serta-merta menolak atau meniadakan kebenaran. Malahan, hipotesis tersebut pertama-tama berangkat dari kegelisahan serta upaya untuk memurnikan kebenaran dari faktor-faktor yang terlalu manusiawi. Bukankah kita acap kali memaksakan “kebenaran” atau “Tuhan” yang sesungguhnya sarat dengan kepentingan diri kita sendiri?

Kembali pada topik utama kita: lantas, apa itu kata?

Kata mungkin tak lebih dari penggambaran akan suatu hal yang kita cerap melalui alat-alat indra kita dan kita nyatakan dalam bentuk suara. Sebagaimana halnya mata Anda membaca teks ini dan menjawab dengan kata “kelabu” untuk menggambarkan atau menjawab pertanyaan, “Apa warna teks yang Anda baca?”

Pada akhirnya adalah kata. Dan sesungguhnya kata tak pernah mengatakan apa pun kepada kita selain ilusi. Lihat saja betapa sukanya kita menipu dengan kata-kata baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Oh, betapa masih jauhnya kita dari kebenaran.

Leave a Reply