Dari Redaksi:
Latah Bermedia Sosial

Beberapa waktu terakhir, bermunculan kedai-kedai kopi dengan berbagai pilihan nama yang unik. Kedai-kedai kopi itu, baik milik sendiri atau waralaba, tersebar di hampir semua sudut kota. Tren ini hampir berbarengan pula dengan merebaknya gera-gerai bubble tea yang memiliki pangsa pasarnya sendiri. Di satu sisi, geliat bisnis kedai kopi dan gerai teh tersebut patut dipuji dan didukung sebagai penopang perekonomian.

Namun di sisi lain, semarak kedai kopi dan gerai bubble tea menyiratkan sifat latah, alias ikut-ikutan tanpa pertimbangan yang matang. Mengikuti jejak bisnis yang terbukti sukses dan terjun ke dunia usaha dengan tujuan serta business plan yang matang merupakan dua hal yang berbeda.

Sifat latah inilah yang tampaknya terbawa pula dalam pergaulan di dunia maya, khususnya di media sosial. Di satu sisi, latah di media sosial (termasuk grup WhatsApp komunitas) merupakan penanda hidupnya diskursus publik, sebuah kondisi masyarakat demokratis yang ideal, sebagaimana pula dicita-citakan oleh pemikir dari Jerman, Jürgen Habermas, dengan konsep ruang publiknya. Di media sosial, semua orang diandaikan memiliki posisi yang setara dan bebas menyampaikan pendapatnya mengenai isu-isu kontemporer—pendapat yang bebas pula ditanggapi oleh orang lain.

Bahaya latah bermedia sosial
Tetapi, apabila tidak dilakukan di dalam kesadaran penuh atau perhitungan yang matang, sifat latah yang dipraktikkan di media sosial dapat berubah menjadi bumerang yang menciderai demokrasi itu sendiri. Salah satunya, “latah bermedia sosial” dapat berujung pada mobokrasi daring, dimana bukan akal sehat, melain trending topic lah pemenangnya. Mobokrasi daring hanya akan menghasilkan ketenaran, bukan kebenaran.

Warganet yang latah bermedia sosial akan menjadi seperti “anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” (lih. ). Akibatnya, yang dikejar bukan lagi apa yang benar, melainkan apa yang tenar. Yang ditanggapi bukan lagi apa yang penting, melainkan apa yang lagi trending. Warganet yang latah akan melupakan diskursus-diskursus yang vital demi bisa mengikuti pendapat atau peristiwa yang sedang viral. Nah, warganet seperti inilah yang memang diinginkan oleh petualang-petualang sosial-politik yang tak segan-segan menebar kepalsuan dalam “kelicikan mereka yang menyesatkan.”

Bahaya berikutnya dari kelatahan bermedia sosial ini adalah tergerusnya kemanusiaan si pengguna. Ketika ada yang membuat pernyataan tak bijak, entah di dunia nyata atau di dunia maya, semua latah mencaci-maki, sehingga seolah-olah apa yang dianggap sebagai sebuah kesalahan itu merupakan dosa yang tak terampuni. Dalam kasus-kasus “perundungan daring dan massal” seperti itu, yang seringkali muncul adalah semangat untuk menjatuhkan dan membinasakan, bukan untuk mengoreksi supaya kesalahan serupa tak terulang. Hampir, jika bukan sama sekali, tidak ada kasih.

Kontemplasi, menjaga “mindfulness
Oleh karena itulah, setiap warganet perlu senantiasa memiliki waktu-waktu pribadi untuk berkontemplasi dan melakukan “kalibrasi” mengenai apa yang hendak dilakukan dengan akun media sosialnya. Akan lebih baik apabila waktu-waktu kontemplasi ini dilakukan setiap hari sebelum mulai mengakses media sosial masing-masing. Beberapa hal bisa ditanyakan kepada diri sendiri, misalnya: “Apakah (1-3) isu penting bagi diri, keluarga, masyarakat, atau bangsa, yang perlu saya tanggapi hari ini?” atau “Bagaimana saya bisa membawa manfaat melalui akun media sosial dan di dalam grup-grup WhatsApp saya hari ini?” dan sebagainya.

Pentingnya kontemplasi untuk menjaga “mindfulness” dalam aktivitas bermedia sosial dapat dipelajari dari kisah Yesus, Sang Guru dan pembuat mukjizat tenar dari Nazaret, yang setelah melakukan kontemplasi di pagi hari, mengajak para murid untuk pergi ke kota-kota lain dan mengerjakan apa yang penting, sekalipun di rumah Petrus telah menunggu banyak orang yang menantikan “tanggapan”-Nya atas sakit-penyakit dan penderitaan mereka (lih. ).

Kesadaran, alias mindfulness, adalah kuncinya. Tidak semua isu perlu ditanggapi, dan tidak semua trending topic perlu diikuti. Tentu saja, ini bukan berarti akun-akun media sosial kita lantas harus menjadi sangat serius, tetapi kita sebagai pengguna media sosial perlu menyadari keunikan media sosial, tidak mudah “terombang-ambing” oleh berbagai isu, dan tetap berinteraksi di dalam kasih. Dan, kesadaran semacam ini takkan bisa didapati tanpa sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk berkontemplasi.

Kiranya kita menjadi warganet yang jauh dari sifat latah dalam bermedia sosial, melainkan sebaliknya, menjadi agen-agen perubahan yang membongkar “permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” melalui hikmat dan fokus yang kita peroleh dari waktu-waktu kontemplasi kita.

“sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,”(Ef. 4:14)
” Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.” (Mrk. 1:29-39)

Berikan tanggapan