Yulius Tandyanto:
Kacamata

Barangkali, Anda dan saya memang terlahir rabun. Kita tidak akan pernah melihat segala sesuatu di dunia ini dengan jelas apabila kita tidak menggunakan suatu “kacamata”. Maksud saya, kita sudah selalu memakai kacamata batin—sebut saja demikian—untuk memaknai setiap aktivitas kehidupan kita.

Sebagai analogi, kacamata batin ini banyak sekali jenis dan warnanya. Ada jenis kacamata yang berfokus dekat, berfokus jauh, dan yang berfungsi untuk memperbesar obyeknya. Lalu, ada yang berwarna merah, jingga, kuning, biru, dan berbagai macam warna lainnya.

Konsekuensinya, ketika seseorang menggunakan kacamata berfokus jauh yang berwarna merah, ia hanya mampu melihat hal-hal yang jauh. Dan, ia juga yakin bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya berwarna merah. Begitu pula ketika seseorang yang lain menggunakan kacamata berfokus dekat yang berwarna biru, ia hanya mampu melihat hal-hal yang dekat seraya berkata dengan lantang, “Semua hal di dunia ini berwarna biru.”

Ironisnya, tanpa kacamata batin, kita tidak dapat melihat apa-apa. Semuanya tampak kabur, lamur, buram, samar-samar. Oleh sebab itu, kacamata batin merupakan keniscayaan bagi Anda dan saya untuk memandang—dan memaknai—berbagai hal di dunia ini.

Sumber: newyorker

Mungkin salah satu bentuk kacamata batin yang begitu populer dan berpengaruh cukup besar bagi Anda dan saya sejak karuhun adalah keyakinan religius. Si A dibesarkan dalam kacamata kekristenan, si B dibesarkan dalam kacamata keislaman, atau si C dibesarkan dalam kacamata kepercayaan tradisional. Dan masing-masing keyakinan tersebut memiliki cara pandangnya sendiri tentang apa yang dianggap benar.

Kacamata batin religius ini begitu mendarah-daging sampai-sampai kita dibentuk olehnya entah sadar maupun tidak. Bahkan, ketika kita berdiskusi dengan “akal sehat” dengan orang lain pun, kacamata batin religius sudah selalu mewarnai akal sehat kita. Mungkin, suatu istilah yang pas untuk menggambarkan daya kacamata batin adalah “prasangka diam-diam” (tacit assumption).

Walhasil, perbincangan “akal sehat” sesungguhnya tidak lagi rasional dalam berbagai momen diskusi. Akal sehat hanya digunakan sebagai pembenaran atau rasionalisasi keyakinan religius tiap pihak, entah itu secara tersurat atau tersirat. Tersurat dengan alasan nyata-nyata menegakkan surga di bumi, tersirat dengan bersembunyi di balik wajah NKRI atau Pancasila. Apalagi, iklim “pasca-kebenaran” yang lebih memprioritaskan keyakinan emosional di tengah-tengah membanjirnya informasi kian menyuburkan kepongahan kita.

Dalam situasi tersebut, kritik seorang pionir psikoanalis, Sigmund Freud (1856-1939), sungguhlah layak diperhatikan. Boleh jadi kacamata ateisnya membuat Freud lebih tajam memandang kehidupan orang-orang beragama. Sekurang-kurangnya, Freud memperlihatkan bahwa kehidupan orang beragama ibarat kanak-kanak yang tidak berani menghadapi kenyataan. Kepengecutan seperti itulah yang mewujudkan gambaran ilahi—dengan simbol “ayah”—yang tidak lain adalah keinginan-keinginan terpendam dari si manusianya: penghiburan di tengah-tengah kengerian hidup.

kenyataan bahwa banyak orang menghayati kehidupan religiusnya secara kekanak-kanakan juga tak boleh disangkal

Tentu saja kritik Freud terhadap agama tidak sepenuhnya tepat. Namun, kenyataan bahwa banyak orang menghayati kehidupan religiusnya secara kekanak-kanakan juga tak boleh disangkal. Dalam situasi itulah Tuhan menjadi semacam berhala untuk menjawab segala persoalan hidup. Tuhan seolah-olah disogok untuk memenuhi segala keinginan dan tuntutan kita. Bahkan, dengan dalih yang paling terdengar sangat mulia sekalipun: demi menegakkan kedaulatan dan kemuliaan Tuhan!

Dalam pembacaan yang positif, Freud mengajak Anda dan saya untuk kembali mencurigai kacamata batin religius yang telah begitu berurat-akar dengan hidup kita. Ia menunjukkan setiap keyakinan religius kita pada dasarnya adalah sebuah kacamata di antara kacamata-kacamata lainnya.

Justru menjadi tantangan bagi Anda dan saya untuk mengeksplorasi bahwa agama juga adalah daya kreatif—sekaligus ilahi—yang mampu membentuk kehidupan jauh lebih baik dan indah. Mungkin, di situlah iman digembleng untuk semakin kuat dan matang. Sebagaimana seorang ateis abad ke-19 pernah berujar, “Hasrat akan suatu iman yang kuat bukanlah bukti akan iman yang kuat, malah sebaliknya. Seandainya seseorang memiliki iman yang kuat, ia akan membiarkan dirinya dalam kemewahan skeptisisme yang indah.”

Barangkali, itu sebabnya Anda dan saya perlu senantiasa mencurigai dan membersihkan kacamata batin kita sendiri seraya belajar menggunakan kacamata batin orang lain. Dan barangkali, kelak, Anda dan saya dapat menghayati keagamaan secara lebih dewasa—serta siap sedia untuk selalu disalahpahami, dicap sesat, bahkan dibuang.

Leave a Reply