Yulius Tandyanto:
Toleransi

Boleh jadi istilah toleransi itu ambigu sekaligus absolut. Ambigu, karena jauh di lubuk hati kita yang paling dalam, kita kerap merasa gamang, mendua, ambivalen dengan batas-batas toleransi itu sendiri. Absolut, karena toleransilah yang memungkinkan Anda dan saya dapat hidup bersama-sama dengan segenap perbedaan serta konsekuensi-konsekuensi pilihan hidup kita masing-masing.

Apalagi, ketika kita bicara toleransi dalam ranah agama (pengalaman religius), toleransi seolah-olah diharapkan menjadi semacam roh yang menengahi perdebatan sengit—bahkan kekerasan yang sering dilabelkan pada agama. Dalam keadaan tersebut, suka tidak suka, kita perlu jujur seraya berani mengakui bahwa sejarah mengenai agama sudah selalu ditandai dengan pertumpahan darah. Jadi, sewajarnyalah kita tak perlu kaget atau marah apabila intoleransi dan kekerasan disematkan pada jubah agama.

Toh, dari kenyataan yang ada tersebut, kita tidak dapat serta-merta berujar bahwa itulah kodrat agama: intoleransi dan kekerasan.

pada hakikatnya suatu agama sudah selalu terbatas untuk menampung kehidupan dalam kemeruahannya.

Sebaliknya, kita perlu kembali menggali pengalaman religius dari kehidupan seada-adanya yang pada dasarnya penuh misteri. Pada momen itulah agama berfungsi bak wadah terbatas yang menampung berbagai refleksi religius. Dan refleksi-refleksi religius tersebut bersumber dari beragam pengalaman hidup yang senantiasa melimpah, tetapi juga yang sekaligus mudah menguap-lenyap begitu saja. Karena itu, pada hakikatnya suatu agama sudah selalu terbatas untuk menampung kehidupan dalam kemeruahannya.

Konsekuensinya, impian tentang sebuah agama yang paling benar sesungguhnya perlu kita pikirkan ulang—bahkan mungkin perlu kita tanggalkan.

Pasalnya, jika kita senantiasa bersikukuh pada klaim kebenaran ultima sebuah agama di atas agama-agama lainnya, Anda dan saya hanya akan mendaur ulang siklus kekerasan. Dengan memutlakkan dogma-dogma sebuah agama, kita berupaya “menguatkan dinding-dinding si wadah penampung” untuk mencaplok kehidupan itu sendiri. Dengan kata lain, agama berupaya menyegel sesuatu yang tidak pernah tuntas untuk dicakupnya. Syahdan, kekerasan dalam agama pun dimulai: ketika agama menawan sumber kehidupan itu sendiri.

Sekurang-kurangnya, itulah kegelisahan Paul Ricœur (1913-2005), seorang filsuf yang juga menghayati pengalaman religiusnya dalam tradisi kekristenan. Tentu saja penolakan Ricœur terhadap keunggulan sebuah agama di atas agama-agama lain menghadirkan jalan lain yang tidak akan pernah mudah dihayati: perspektivisme. Kesalahpahaman dan tuduhan relativisme selalu membayangi absennya klaim kebenaran mutlak dan universal—dalam hal ini kebenaran mutlak sebuah agama.

Namun, Ricœur justru mengajak siapa pun untuk jujur terhadap suara-suara bimbang yang sering kali mengetuk relung batin terdalam kita. Ibarat suasana persidangan, batin Anda mengadili diri Anda sendiri, “Sungguh yakinkah engkau akan ajaran agamamu sendiri?”

Pertanyaan sang batin seolah menegaskan bahwa Anda dan saya sudah selalu tersituasikan dalam suatu tradisi religius tertentu. Bukankah Anda maupun saya tidak dapat memilih untuk dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Islam, Kristen, Hinduisme, Buddhisme, agama-agama lain, atau ateis sekalipun?

Alih-alih membuang agama, ada baiknya kita justru menelusuri jejak-jejak tradisi religius yang sudah membesarkan kita. Bahkan, dalam arti tertentu, perbedaan agama dapat diibaratkan seperti perbedaan bahasa. Maka, untuk memahami tradisi agama yang berbeda-beda, kita perlu “menerjemahkannya” sebagaimana kita belajar memahami bahasa dan kebudayaan orang lain yang berbeda dengan lidah kita sendiri.

Dalam proses belajar tersebut, toleransi dapat dilihat sebagai tahap-tahap kemajuan untuk saling memahami perbedaan. Pada tahap pertama, toleransi bersifat eksklusif. Seseorang dapat berkata, “Aku tidak setuju dengan imanmu, tetapi aku tidak dapat menghalangi fakta atas keberadaan imanmu.” Pada tahap ini toleransi berarti ketidakmampuan suatu agama untuk menghalangi kehadiran iman yang berbeda dengan dirinya.

Selanjutnya, pada tahap yang kedua, toleransi bersifat inklusif. “Aku yakin bahwa imankulah yang paling benar. Namun, dalam segala kemurahan hati, aku juga mengakui hakmu untuk meyakini apa yang kuanggap salah,” kira-kira begitulah pengakuan imannya. Pada tahap ini terdapat penghormatan serta pengakuan terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan—meskipun keyakinan tersebut dianggap salah. Toleransi inklusif mempertentangkan kebenaran suatu agama dengan keadilan universal.

Toleransi yang majemuk merupakan perkembangan tahap ketiga. Pada tahap ini seseorang mungkin berkata, “Mungkin iman orang lain juga memiliki sebagian kebenaran dan aku memang tidak mengetahuinya.” Toleransi tahap ini berpijak dari kesadaran bahwa kita sudah selalu melihat dari sudut pandang tertentu yang terbatas. Dan orang lain—beserta keyakinan religiusnya—memandang kehidupan dari sudut pandang yang boleh jadi sama sekali berbeda dengan kita. Dalam tahap ini, seseorang mengalami pertentangan batin mengenai kebenaran di dalam agamanya sendiri.

Dalam toleransi yang lebih berkembang, seseorang dapat berkata, “Dalam penghayatan imanku yang paling dalam, aku sadar akan ‘sesuatu’ yang tak dapat kumengerti. Namun, ‘sesuatu’ itu menjadi sumber inspirasi yang melampaui segala kapasitas pemahaman agamaku juga dalam agama-agama yang lain.” Pada tahap ini toleransi berada di puncak tertingginya yang tidak lain merupakan tubir jurang tak berdasar. Sedikit saja Anda terpeleset, toleransi pun bergeser menjadi skeptisisme: bukankah pada akhirnya semua iman itu sama saja dan sia-sia?

Namun, persis di bibir jurang itulah kehidupan justru hadir. Kesulitan terbesarnya adalah bagaimana Anda tetap meyakini iman Anda yang telah berakar seperti bahasa ibu Anda sendiri, tetapi sekaligus juga terbuka pada berbagai pengakuan iman lain yang terdengar asing—sebagaimana bahasa asing?

Siapa pun tidak pernah mudah berada dalam posisi seperti itu.

Mungkin, sama halnya ketika Anda merasa “tidak mudah” untuk membaca dan mencerna tulisan ini. Label-label seperti “sekuler”, “liberal”, “sesat” menjadi tak terhindarkan. Ya, semoga saja suguhan tahapan-tahapan toleransi di atas dapat sedikit membantu Anda untuk mengunyah perbedaan gagasan-gagasan yang kita miliki sehingga ada di antara kita yang dapat saling belajar.

Siapa tahu Anda dan saya adalah orang-orang yang lebih memilih berada dalam kondisi untuk senantiasa dapat mempertanyakan banyak hal—meski tidak selalu mendapat jawabannya—ketimbang berada dalam kondisi yang harus selalu menutup mata, telinga, dan mulut di depan suatu jawaban (religius) yang telah diterima begitu saja dan tidak dapat diganggu gugat lagi ….

Leave a Reply