Yulius Tandyanto:
Lupa

… ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa

—2 Petrus 1:9

 

 

“Eh, mengapa ada noda hitam di bibirmu?”

“Lho, bukankah aku sudah pernah cerita?”

“Masa …? Aku lupa ….”

 

<p> 

B

arangkali setiap kita pernah mengalami pengalaman yang kurang lebih sama seperti percakapan di atas. Kita lupa bahwa topik percakapan yang sedang didiskusikan ternyata sudah pernah dibahas.

Naga-naganya tiap orang pernah mengalami momen “kelupaan” sekurang-kurangnya sekali dalam seumur hidupnya. Mungkin ada orang yang lupa akan hari lahir ayah atau ibunya karena larut dalam kesibukannya. Mungkin ada pula yang lupa menepati janjinya karena terhisap dalam urusan lain yang lebih menarik. Atau, mungkin pula ada yang tiba-tiba lupa karena menjadi tersangka kasus korupsi. Singkatnya, tiap orang pernah mengalami suatu keadaan tentang peristiwa yang tidak diingatnya atau luput dari perhatiannya, entah itu sengaja atau pun tidak.

Sesungguhnya, kalau ditimbang-timbang, apa yang disebut dengan gejala “lupa” ini? Mungkin sebagian ilmuwan akan menunjukkan bahwa lupa adalah suatu penurunan fungsi organ tubuh yang terjadi secara alamiah: alias pikun. Sebagian ilmuwan yang lain akan memperlihatkan bahwa lupa merupakan sebuah ungkapan batin terhadap berbagai peristiwa hidup yang tidak (ingin) dihayatinya. Meski kedua pendekatan ilmiah tersebut tampak berbeda, tapi setidak-tidaknya mereka menganggap bahwa lupa adalah sebuah akibat atau dampak. Oleh karena itu, perlu dicari penyebabnya: apakah itu penurunan fungsi organ tubuh atau situasi batin yang tertekan.

Namun, bagaimana seandainya keadaan lupa atau kelupaan adalah kondisi yang sudah melekat pada manusia dari “sono”-nya. Singkatnya, lupa adalah fitrah manusia itu sendiri. Konsekuensi canggih nan jelimet dari kondisi tersebut adalah bahwa peradaban manusia yang berkembang hingga saat ini adalah hasil dari berbagai jalinan kelupaan yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Ah, jangan-jangan itu adalah sebuah konsekuensi yang mengada-ada!

Tapi, mungkin juga tidak. Pasalnya, bukankah kita selalu dihadapkan pada banyak pilihan dalam hidup ini? Mulai mau memilih jadi presiden atau jadi petani, mau hidup lurus-lurus saja atau neko-neko, bahkan mau jadi seorang fanatik atau seorang yang biasa-biasa saja. Dan tindakan “memilih” itu sendiri berarti secara aktif mengutamakan secuil aspek tertentu dan secara pasif melupakan segudang aspek lainnya.

Dengan kata lain, memilih sesuatu berarti selalu sudah “melupakan” hal-hal lain yang jauh lebih rumit. Bukankah situasi seperti itu terjadi sepanjang hayat peradaban manusia sampai-sampai kita lupa bahwa kita telah dan sedang melupakan banyak hal. O, suatu kelupaan lipat dua!

Mari kita tengok sekilas, misalnya saja, kisah suram tentang peristiwa pembantaian tahun 1965 di negeri ini. Sebagian besar kita memilih—atau mungkin dipilihkan—sebuah narasi utama bahwa PKI-lah biang kerok di balik kebiadaban tersebut. Dengan pilihan tersebut, kita melupakan narasi-narasi lain yang sebetulnya dapat memberikan gambaran yang lebih utuh tentang peristiwa 1965.

Zaman pun bergulir dan kita begitu yakin bahwa narasi utama yang kita pilih hingga saat ini adalah yang paling sahih atau paling benar. Kita lupa bahwa narasi sejarah yang kita hayati saat ini lahir dari peminggiran narasi-narasi yang lain. Walhasil, peristiwa pengadilan rakyat internasional tentang peristiwa 1965 (IPT 1965) yang digelar di Den Haag baru-baru ini dianggap sebagai angin lalu.

Atau, kita dengarkan sejenak desas-desus seputar tragedi Prancis. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa otak peledakan bom Paris adalah ISIS. Tapi, siapakah ISIS ini? Apa kaitannya dengan (fundamentalisme) Islam? Berbagai analisis dan spekulasi tentangnya menjadi topik yang menghangatkan kongko-kongko kita entah di warung kopi sampai laman-laman media sosial.

Terlepas dari perdebatan bahwa ISIS adalah sang anak durhaka Islam atau bentukan negeri Uak Sam (US), kita dapat menyatakan bahwa ISIS sendiri telah memilih dan menghayati sebuah ideologi tertentu. Sialnya, mereka membaptis ideologinya sebagai kepercayaan yang paling benar dan melupakan keberadaan ideologi-ideologi lainnya. Bahkan, memberangus ideologi-ideologi lainnya adalah tindakan yang tepat menurut keyakinan mereka. ISIS lupa bahwa ideologi mereka lahir dari kelupaan akan berbagai ideologi lainnya.

 

BARANGKALI dua kasus tersebut dapat menjadi kaca pembesar bahwa pada hakikatnya kita sudah selalu melupakan kehidupan. Mungkin benar juga apa yang dinyatakan oleh penulis buku Ada dan Waktu, Martin Heidegger (1889-1976), bahwa kita sudah selalu larut dalam kehidupan yang tidak otentik.

Kita sibuk dengan urusan sehari-hari yang khas manusia dan bersifat rutin: bekerja, urus anak, ngobrol ini-itu, sembahyang, menetapkan tujuan-tujuan hidup, bahkan juga berpikir. Sebaliknya, kita lupa tentang diri kita yang sedang mengada: apa makna bahwa “kita sedang mengada”? Wah, sebuah pertanyaan yang mengada-ada tentang diri kita yang sedang mengada di antara pengada-pengada lainnya!

Kendati demikian, hanya manusialah yang mampu bertanya demikian. Persis pada momen itulah ia menjadi manusia yang otentik. Ia tidak melupakan keberadaan dirinya, meskipun pada saat yang bersamaan ia disergap oleh rasa cemas, gelisah, dan ngeri yang begitu hebat karena ia mampu mempertanyakan dirinya di tepi jurang ketidakpastian.

Namun, momen semacam itu terjadi begitu singkat karena toh tak seorang pun dapat hidup dalam kondisi yang mempertanyakan kehidupan secara terus-menerus. Ah, siapakah yang dapat bertahan dalam sepanjang hidupnya bertanya, “Mengapa aku ada di sini?” Karena itulah, kita membutuhkan ideologi, agama, teologi, filsafat, pemikiran, atau apa pun itu agar kita dapat melanjutkan hidup dengan sedikit lebih tenang.

Mungkin saja salah satu definisi kreatif tentang kebenaran adalah tidak lupa bahwa sejatinya kita sedang melupakan kehidupan. Dalam sudut pandang tertentu, kebenaran (Yun: aletheia) berarti tidak lupa (a-lethe). Karena itu, berbagai ideologi, agama, teologi, filsafat, pemikiran, atau apa pun itu diperlukan dalam “dosis yang tepat” agar kita tidak melupakan (menghayati) kehidupan sebelum kita mengetuk pintu gerbang kematian.

Sebagaimana nasihat Rasul Petrus digemakan kembali pada zaman ini terhadap siapa pun yang mendaku bahwa ia mengetahui, memiliki, dan mewartakan “kebenaran” yang paling benar serta membenci sesamanya, dengarlah sabda: “Janganlah engkau menjadi buta dan picik, karena engkau melupakan kasih karunia itu!”

Toh, bukankah kita lupa kalau kita telah berkanjang dalam barisan para pelupa bahkan semenjak matahari terbit di ufuk timur ….

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini