Yulius Tandyanto:
Saudara

Mungkinkah majikan bersaudara dengan buruhnya? Mungkinkah penjahat bersaudara dengan polisi? Mungkinkah komunisme bersaudara dengan kapitalisme? Mungkinkah sang fajar pagi bersaudara dengan sang gelap malam? Atau, mungkinkah Anda bersaudara dengan saya? Ah, Anda pun dapat meneruskan daftar kesangsian ini dengan cara menyandingkan dua hal yang tampak kontradiktif disertai kata penghubung yang menjadi judul tulisan ini: saudara.

Tampaknya lema “saudara” ini istimewa. Mengapa? Karena ia dapat menjembatani, bahkan merekatkan, dua hal yang berbeda. Bukankah, misalnya, si Ipin dan si Upin adalah dua pribadi yang berbeda? Tapi, mereka toh direkatkan oleh “darah” ayah dan ibunya. Dengan begitu, si Ipin mempunyai status relasi yang khas dengan si Upin. Dan umumnya, status persaudaraan sedarah lebih kuat dibandingkan status-status relasi lainnya, seperti relasi pekerjaan atau persahabatan. Mungkin ibarat Anda yang saat ini larut dalam urusan pekerjaan atau asyik kongko dengan sahabat-sahabat, toh ada sebuah ruangan dalam batin yang tak dapat dilenyapkan dari ingatan. Dalam kesunyian, ia akan mengingatkan status Anda sebagai seorang kakak atau adik.

Kendati demikian, tak selamanya hubungan darah merupakan perekat persaudaraan yang kokoh. Malahan, pertalian darah bisa jadi tak ada artinya sama sekali ketika dihadapkan pada suatu persaudaraan iman. Di Raqqa, Ali Saqr al-Qasem (20) berani menembakkan timah panas ke kepala Leena al-Qasem (45), ibundanya sendiri, di hadapan banyak orang. Ali rela melepaskan pertalian darah demi suatu persaudaraan baru: kekhalifahan versi ISIS. Hubungan darah tidak lagi menjadi satu-satunya mata uang yang menjadikan si Ipin dan si Upin sebagai saudara. Tapi, iman, ideologi, atau kepentingan tertentu dapat menjadikan Anda dan saya sebagai saudara yang lebih kuat dari apa pun di bawah kolong langit ini.

Hikayat mungkin tak akan pernah lelah menceritakan kisah pertumpahan darah antarsaudara kepada telinga-telinga yang pendek ingatan. Dalam tradisi Yunani, kisah Polyneikes yang memberontak terhadap Eteokles, saudaranya sendiri, demi memperebutkan takhta kerajaan Thebes menjadi benih pengalaman tragis Antigone. Polyneikes boleh jadi seorang pengkhianat. Tapi, ia tetaplah seorang kakak bagi Antigone. Maka, selaiknyalah Polyneikes dimakamkan secara terhormat. Sayang, politik kerajaan tidaklah sesederhana pikiran Antigone. Status pengkhianat lebih penting daripada status saudara kandung Polyneikes. Dan siapa pun yang menaruh hormat pada pengkhianat adalah juga seorang pengkhianat, termasuk Antigone.

Dalam tradisi Semitik, kisah Kain dan Habel juga mempertontonkan sebuah drama berdarah untuk pertama kalinya. Persaudaraan kakak-beradik yang intim dibuyarkan oleh suatu hubungan lain yang lebih kuat: persaudaraan dengan dosa. Tampaknya, dosa sudah sejak lama mengintip kisah anak-anak manusia dari relung-relung yang tersembunyi. Dan lagi, ia tahu betul bagaimana cara merayu Kain. Alhasil, Kain tak lagi peduli akan Habel. Dan selanjutnya, drama berdarah di suatu padang pun tak dapat lagi terelakkan. Sejak saat itu, tragedi pembunuhan saudara kandung telah direntas. Sejak saat itu, anak-anak manusia mengenal jenis persaudaraan bukan sedarah.

Dan sejak saat itu, persaudaraan menjadi banal. Persaudaraan dapat direkatkan oleh uang, nasionalisme, agama, atau apa saja sejauh Anda dan saya sungguh-sungguh memercayainya. Barangkali Anda dan saya pun adalah saudara dalam sebuah tradisi tua bernama: iman Kristen. Lagi pula banyak orang percaya bahwa setiap tradisi iman memiliki jalan keselamatannya masing-masing: ia memisahkan sekaligus menyatukan. Iman memisahkan siapa pun yang paling intim dengan Anda seandainya ia memiliki iman yang berbeda. Dan, iman menyatukan siapa pun yang paling anonim dengan Anda jika ia memiliki iman yang sama.

Tapi, sungguhkah demikian? Jangan-jangan dosa telah merayu Anda dan saya dengan jubah paling rohaninya, sehingga kita menyutradarai sebuah tragedi baru. Barangkali kita pongah: kita terlalu cepat satu langkah untuk menobatkan diri sebagai hakim atas sesama, tetapi terlambat ribuan tahun untuk sungguh-sungguh mengetahui apa artinya menjadi hakim. Bukankah siapa yang disebut saudara adalah ia yang sedang berada di dekat Anda dan saya saat ini sebagaimana Paulus mengisahkan Onesimus yang berada di dekatnya ketika surat Filemon ditulis?

Saudara adalah ia: kai en sarki kai en kuriw (di dalam daging dan di dalam Tuhan—red).

Tinggalkan Balasan

2 pemikiran di “Saudara”

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini