Kharen Pestia Mulia:
Auditor dan Bangsaku Indonesia

Selama ini, pembangunan bangsa terfokus pada hal-hal yang dianggap membawa dampak yang baik bagi pembangunan bangsa, baik roda pemerintahan, perekonomian, pariwisata, maupun sektor-sektor lainnya, namun kita lupa mempertahankan fokus kesatuan sehingga bangsa ini terpecah-belah. Padahal, seharusnya perjuangan membangun dimulai dari satu dasar, bahwa tanah air Indonesia tercinta memerlukan orang-orang yang mau bersatu di tengah kekayaan atas perbedaan pandangan, yaitu orang-orang yang mau fokus menangkap dan mengerjakan visi yang Allah titipkan bagi mereka. Jiwa-jiwa muda yang tertidur pulas seakan terlalu asyik dengan dunia mereka sendiri, dengan ambisi pribadi tentang “bagaimana saya bermanfaat bagi diri saya,” bukan “bagaimana saya hadir bagi bangsa.”

Awalnya, saya ada dalam lingkaran ketidakpedulian itu, sampai Tuhan Yesus Kristus memanggil saya dan memberikan sebuah mimpi menggapai makna perubahan bagi kemuliaan-Nya, di tempat dimana Ia akan mengutus saya. Tahun 2010 bukanlah tahun yang mudah bagi saya. Tertekan adalah satu kata yang jelas menggambarkan hidup saya ketika apa yang saya minta tidak Tuhan berikan saat itu. Universitas Indonesia merupakan impian pertama saya setelah meninggalkan dunia putih abu-abu, namun nyatanya Tuhan menempatkan saya di salah satu universitas swasta yang bukan menjadi pilihan saya pada awalnya. Jangankan pilihan, terpikir saja tidak pernah. Tuhan mengijinkan semester pertama saya kacau, padahal setelah akhirnya lulus dan melihat ke belakang-tidak ada satupun kegagalan yang saya alami. Namun entah mengapa, ketika menjalani jurusan akuntansi di awal mengikuti perkuliahan, yang saya rasakan adalah keadaan jatuh terpelosok ke dalam sumur yang begitu dalam dan unsur keterlanjuran itu mendorong saya secepat mungkin untuk keluar dari sana.

Akan tetapi sekali lagi Tuhan menghancurkan paradigma tersebut dan memperbaharui hati juga pemikiran yang penuh dengan kata “terlanjur” menjadi deretan harapan akan perubahan yang Dia mau saya mulai dari diri saya sendiri: sebuah kerinduan untuk melihat hidup saya berguna bagi bangsa lewat kehadiran saya di kampus. Singkat cerita, Yesus membawa saya dalam pertumbuhan rohani, dimana pengenalan dan rasa cinta akan Dia sebagai pemilik bangsa ini mengalir, seiring waktu-waktu saya menjadi pelayan dalam dunia mahasiswa sampai tiga setengah tahun kemudian saya lulus sebagai seorang sarjana akuntansi.

Tuhan memakai wadah Persekutuan Kampus di bawah bimbingan Perkantas sebagai media bagi saya mengalami pertumbuhan yang nyata dan pengalaman-pengalaman yang mendalam akan Kristus yang hidup dalam hati saya. Hal ini membawa saya memiliki satu visi besar, bahwa di mana pun Tuhan menempatkan saya selanjutnya, Dia akan memakai saya bagi hormat dan kemuliaan Nama-Nya, menghadirkan Kerajaan-Nya.

Sebuah panggilan memberikan hidup seutuhnya bagi pekerjaan Allah adalah pergumulan akhir saya di dunia kampus, dan sejujurnya saya hanya melihatnya sebatas satu kerinduan, karena saat itu saya adalah Sie Kelompok Kecil dalam kepengurusan. Kami adalah sekelompok orang yang senantiasa menekuk lututnya, memonitoring, dan menangisi setiap KK yang sedang berjalan di kampus, baik yang dalam kondisi sehat ataupun tidak sehat. Setidaknya, pergumulan ini saya doakan, namun secara realistis menyadari bahwa mungkin saja panggilan ini ada karena saat ini saya ada dalam komunitas yang mendorong untuk berpikir seperti itu, karena hati yang saya miliki ketika menjadi pengurus sedang Tuhan arahkan untuk fokus menjadi gembala bagi para Pemimpin Kelompok Kecil di kampus. Fokus pergumulan saya, yakni pekerjaan Allah di kampus bahkan di Indonesia lewat keberadaan universitas sebagai instansi pendidikan harus diteruskan. Idealisme Persekutuan Mahasiswa Kristen akan keberagaman latar belakang gereja namun tetap mempersatukan umat Allah dalam dunia kampus membantu saya berespon benar atas setiap pengajaran akan Kristus dan kebenaran Injil yang saya terima. Syukur kepada Allah karena paradigma “kecelakaan” dalam kacamata saya diubahkanNya.

Tahun 2014, apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam pikiran saya Tuhan berikan sebagai sebuah kepercayaan untuk dikerjakan. Salah satu dari empat kantor akuntan publik ternama dunia yang ada di Indonesia memanggil saya untuk bergabung sebagai salah satu auditor muda di tempat tersebut. Pergumulan sebagai Hamba Tuhan sepenuh waktu saat itu sempat memudar. Kesibukan membuat saya hampir saja lupa bahwa di setiap jalan kehidupan pasti ada setiap kehendak Allah tersimpan di dalamnya. Selama setengah tahun saya bergumul, apakah yang Tuhan Yesus mau saya buat dalam dunia auditor yang super sibuk ini? Apa isi hati-Nya bagi pekerjaan yang membuat saya harus tidur kurang dari dua jam di masa-masa sibuk, bahkan mengharuskan saya menjadi guru sekolah minggu non-aktif di gereja?

Syukur kepada Allah karena akhirnya Tuhan memberikan kepekaan untuk menjadi tiang doa bagi profesi ini. Kerinduan-Nya yang dititipkan kepada saya adalah dalam profesi auditor, harus ada persekutuan doa khusus, dimana setiap auditor yang tahu fokus dan kapasitas pekerjaan mereka, memiliki satu komunitas doa yang mendukung satu dengan yang lain. Profesi yang tidak hanya sibuk bergulat dengan angka, namun ada orang-orang yang mau berjuang berlutut bagi sesamanya, bagi kliennya, bagi setiap pribadi yang berprofesi sebagai auditor mau berjuang untuk jujur, berintegritas, dan tidak kompromi dengan hal-hal kecil.

Bulan Februari di tahun 2015 merupakan titik puncak dimana saya mulai bergumul. “Apakah benar Tuhan, visi yang Engkau titipkan padaku ini dapat kukerjakan ketika aku bekerja di lingkungan sesibuk kantorku?” Bulan ini memberikan banyak perenungan dan kesadaran rohani kepada saya lagi bahwa saya sudah terlalu lama tertidur. Kenapa? Karena jelas saya menyadari bahwa lingkungan tempat saya bekerja pun tidak mendukung iman saya bertumbuh. Namun saya berusaha bertahan dengan satu alasan bahwa di tempat saya bekerja saat ini penghasilan yang diperoleh lebih dari cukup bahkan saya bisa memberi banyak buat Tuhan dan hasil akhirnya saya merasakan yang tersisa dalam diri saya adalah kesombongan karena materi. “Saya sudah bisa memberi buat Tuhan toh?” Dan hal ini semakin membuat saya tidak lagi memiliki damai dan sukacita yang berdampak pada kehidupan doa dan pengenalan saya akan Pribadi Kristus. Pada akhirnya, saya menemukan diri saya mendukakan Allah.

Hosea 6:6 berbunyi, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Ketika menyiapkan bahan untuk adik-adik kelompok kecil saya di angkatan 2013, ayat ini meruntuhkan “menara Babel” yang sudah terlalu tinggi dalam kehidupan saya setahun belakangan ini, sehingga ayat inilah yang pada akhirnya menguatkan saya untuk mengakhiri pekerjaan di kantor dimana Tuhan sedang tempatkan saat ini. Tentu saja tidak mudah memutuskan untuk pergi begitu saja, baik halangan dari pihak eksternal yang belum menyetujui pengajuan pengunduran diri saya, dan pastinya secara pribadi pun saya takut keputusan resign ini hanya karena emosi sesaat, mengingat bulan ini merupakan titik jenuh saya lantaran dari awal bekerja saya selalu dialokasikan ke lapangan tanpa adanya jeda istirahat barang sejenak. Padahal, jelas saya merindukan ada perubahan pada setiap orang-orang yang berprofesi sebagai auditor, baik yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal. Perubahan dimana mereka mengenal Kristus yang memulai profesi auditor itu sendiri.

Proses pergumulan selama tiga bulan pada akhirnya menguatkan saya untuk mengajukan pengunduran diri dengan penguatan yang sama ketika saya menyadari kehidupan rohani saya mandek, yakni ayat yang dikutip pada bagian sebelumnya. Saat ini, saya sedang bergumul tetap dengan profesi yang sama yakni auditor, namun menyadari bahwa kantor konsultan bukan tempat memulai yang baik bagi pencapaian visi ini. Namun saya bersyukur, bahwa Allah masih menjawab doa saya, bahwa rekan-rekan sekerja di konsultan diberikan-Nya kerinduan yang sama seperti saya.

Saat ini, saya sedang dalam proses rekrutmen di salah satu lembaga pelayanan (nonprofit) yang berfokus pada misi bagi anak-anak kaum marjinal di pelosok nusantara. Satu visi yang Tuhan titipkan tentu tidak saya kubur begitu saja lantaran pekerjaan di kantor konsultan yang super sibuk membuat saya merasakan sulit mencapai visi ini di tengah buruan waktu tanggal-tanggal kritis laporan audit harus terbit. Lembaga pelayanan dapat membantu saya mewujudkan mimpi saya memulai profesi internal auditor dengan berdoa dan membawa Injil ke mana pun Tuhan membawa saya nantinya. Di sisi lain, apabila Tuhan tidak mengijinkan saya ada di lembaga ini atau badan nonprofit lainnya, melainkan di perusahaan sekuler pun, saya percaya bahwa Tuhan belum selesai dengan profesi auditor yang Dia percayakan untuk saya jalankan sebagai pelayanan sepenuh waktu bagi saya saat ini. Atau mungkin, kelak pada waktu-Nya Dia akan meneguhkan saya untuk membantu teman-teman auditor lain yang mungkin masih bertahan dengan pandangan teori memberi banyak karena penghasilan yang besar, namun di sisi lain menyadari bahwa hati mereka jauh daripada pengenalan akan Tuhan.

Sejujurnya, saya tidak tahu mimpi yang mana yang lebih dahulu akan Tuhan bukakan. Namun satu hal yang saya percaya, bahwa mereka yang menyadari keberadaannya sebagai anak-anak Allah dan menyerahkan sepenuhnya kehidupan ini bagi Kristus, dalam profesi apapun itu, akan menemukan tangan-Nya yang tidak kelihatan memegangnya, baik hari ini, esok, bahkan sampai kepada masa depannya, untuk melihat bahwa Tuhan memilih kita lewat profesi masing-masing untuk menjadi berkat bagi bangsa kita, bangsa Indonesia.

_____________________
*Penulis adalah alumnus FE Untar
**Tulisan ini merupakan salah satu dari tiga tulisan pemenang Lomba Penulisan dalam rangka HUT ke-44 Perkantas

Leave a Reply

2 thoughts on “Auditor dan Bangsaku Indonesia”