Budi Harianto:
Ketika Spiritualitas Dipertanyakan

Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya
kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.
(2 Tawarikh 16:9a)

Spiritualitas berbeda dengan spiritisme (pemujaan kepada roh-roh) dan spiritualisme (lawan dari materialisme). Spiritualitas sederhananya berarti kerohanian. Problem utama umat Allah sepanjang sejarah bukanlah karena mereka tidak rohani, melainkan justru karena mereka rohani tetapi tidak sungguh-sungguh. Dengan kata lain, kerohanian atau spiritualitas mereka dipertanyakan oleh Allah sendiri. Dalam Alkitab ada beberapa contoh yang bisa menjadi pelajaran bagi kita, yakni ketika Allah mempertanyakan spiritualitas umat-Nya.

Ibadah yang Dipertanyakan (Yes. 1:10-20)
Umat Allah di zaman Nabi Yesaya biasa mempersembahkan korban berupa kambing, domba atau lembu. Mungkin mereka merasa telah mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga dan mengira Tuhan pasti akan sangat menghargainya, bahkan puas karenanya. Tetapi apa kata Tuhan? Ia berfirman: “Untuk apa korbanmu yang banyak-banyak? Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan. Darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai….Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku.”

Mereka juga rajin beribadah secara teratur di Bait Allah, merasa mengalami hadirat-Nya dan persekutuan yang indah dengan saudara-saudara seiman. Tetapi kata Tuhan: “Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku?”

Selain itu, mereka juga sering mengadakan perayaan-perayaan keagamaan yang menarik, meriah dan dihadiri secara antusias oleh banyak orang. Mungkin mereka merasa Tuhan pun antusias dan turut bersukacita bersama mereka. Tetapi apa kata Tuhan? “Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.”

Tak ketinggalan, mereka juga begitu tekun berdoa, mengira Tuhan mendengar doa-doa mereka dan memberkati mereka. Tetapi Ia berfirman: “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.”

Bagi mereka, ibadah telah menjadi obat bius yang membuat mereka merasa tenang, nyaman, dan antusias, bahkan ketika mereka terus-menerus berdosa. Ibadah tidak lagi menjadi tempat untuk bertemu dengan Allah, bertobat, dan diubahkan, tetapi justru telah menjadi tempat untuk melarikan diri dari Allah yang benar, menciptakan sendiri ilah-ilah dalam pikiran mereka sendiri dan “menyucikan” dosa-dosa mereka tanpa merasa perlu untuk bertobat.

Jika demikian, bagaimana membangun spiritualitas yang benar dalam ibadah? Tuhan sendiri memberi perintah untuk bertobat dalam tingkah laku mereka sehari-hari: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” Perintah tersebut disertai janji: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Juga peringatan: “Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.”

Kesalehan yang Dipertanyakan (Mat. 6:1-18)
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada zaman Tuhan Yesus biasa melakukan kewajiban-kewajiban agama yang hingga sekarang pun menjadi simbol kesalehan, yakni: memberi sedekah, berdoa dan berpuasa. Mereka memberi sedekah dengan mencanangkannya di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya. Apabila berpuasa, muka mereka menjadi muram, mereka mengubah air muka mereka. Tetapi Tuhan mempertanyakan kesalehan mereka karena Ia mengetahui bahwa motivasi mereka adalah supaya dilihat dan dipuji orang. Dengan kesalehan yang demikian, kata Tuhan, sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya atau dengan kata lain, mereka tidak akan mendapat apa-apa dari Bapa di sorga.

Lalu bagaimana membangun spiritualitas yang benar dalam kesalehan kita? Kata Tuhan, kesalehan tersebut seharusnya dilakukan dengan tersembunyi di hadapan Bapa yang ada di tempat tersembunyi dan melihat yang tersembunyi. Di mana tempat yang paling tersembunyi? Tak lain daripada di dalam hati kita. Tuhan tidak bermaksud supaya kita melakukan semuanya dengan sembunyi-sembunyi sehingga kita menjadi orang Kristen underground yang serba rahasia. Maksudnya, sekalipun kesalehan kita dilihat orang, sikap hati kita adalah melakukannya bukan di hadapan mereka supaya dilihat dan puji mereka, melainkan hanya di hadapan Allah yang akan membalasnya kepada kita.

Pelayanan yang Dipertanyakan (Mat. 7:15-23)
Tuhan Yesus sendiri telah menubuatkan bahwa akan terjadi kejutan besar pada akhir zaman. Ada orang-orang yang sehari-hari kata-katanya rohani sekali, yang digambarkan sebagai orang yang berseru: “Tuhan, Tuhan!” Tetapi ternyata mereka tidak masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Bahkan ada banyak orang yang aktif dalam pelayanan dengan berbagai karunia yang luar biasa sehingga dipakai Tuhan untuk bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mujizat. Namun, Tuhan mempertanyakan pelayanan mereka dan menolak dengan terus terang: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Mengapa bisa demikian? Kata Tuhan, karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa.

Karena itu, bagaimana seharusnya kita membangun spiritualitas yang benar dalam pelayanan? Sebagai seorang pelayan, kita harus mau dimuridkan, menjadi orang bersedia diajar untuk melakukan kehendak Tuhan sebagaimana yang dituliskan dalam firman-Nya.

Ketika spiritualitas kita dipertanyakan oleh Allah, itulah saatnya bagi kita untuk segera memperbaiki diri. Tiba saatnya bagi kita untuk menghentikan ibadah tanpa pertobatan, kesalehan tanpa persekutuan pribadi dengan Tuhan, dan pelayanan tanpa pemuridan. Marilah membangun spiritualitas yang benar dengan berhenti berbuat jahat dan belajar berbuat baik dalam kehidupan kita sehari-hari (di keluarga, kampus, tempat kos, tempat kerja, pergaulan, masyarakat), memperbaiki kualitas persekutuan pribadi kita dengan Tuhan, dan bersedia dimuridkan dalam kelompok kecil untuk bersama-sama belajar melakukan kehendak Tuhan.

_______
*Ditulis oleh Budi Harianto, staf pelayanan mahasiswa Perkantas Semarang
**Diterbitkan dalam majalah Dia edisi I tahun 2012

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *