Joas Adiprasetya:
Membela Rutinitas dan Kehidupan yang “Biasa”

AKHIR-AKHIR INI, banyak sekali orang Kristen yang dengan latahnya berseru, “Luar biasa!” ketika ditanya, “Apa kabar?” Biasanya terhadap orang-orang semacam ini saya bertanya, “Luar biasanya sekarang ini saja atau setiap saat?” Dan lazimnya juga, tanpa pikir panjang, mereka akan menjawab dengan bangga, “Setiap saat!” Dan segera pula saya melanjutkan pertanyaan, “Lho kalau setiap saat ‘Luar biasa!’ jadi biasa juga dong?”

Saya sangat kuatir bahwa spiritualitas-luar-biasa semacam ini tanpa sadar menggoda kita untuk abai terhadap keutuhan hidup manusia yang menghayati kehadiran Allah yang berkarya di dalam seluruh hidup kita … sesehari. Tampaknya, seruan “Luar biasa!” sangat menawan, namun sesungguhnya seruan ini sangat mungkin muncul dari sebuah teologi yang bukan saja buruk, namun juga yang dilandasi sebuah spiritualitas yang berbahaya. Seolah-olah yang “biasa” tidak lagi punya arti; yang “rutin” dianggap tak bernilai.

Padahal, di dalam rutinitas itulah mutu dan kesetiaan perjalanan hidup kita ditentukan. Kata “rutin” sesungguhnya memiliki akar kata yang sama dengan “rute.” Perjalanan hidup kita ini penuh dengan rutinitas yang tanpanya perjalanan kita tak bakal sampai ke tempat tujuan. Jarak antara Jakarta dan Yogyakarta sepanjang 443 kilometer itu tak bakal teratasi jika kita tak rela melakoni rute yang rutin … kilometer demi kilometer, menit demi menit, dengan injakan gas yang secara konstan meletihkan. Tanpa yang rutin itu, rute Jakarta-Yogyakarta tak akan terlewati.

Slogan “luar biasa!” (extra-ordinary) juga berarti ingin menghindar dari yang biasa (ordinary), padahal “biasa” juga menunjuk pada apa yang tertata sedemikian rapih (order). Iman Kristen memercayai bahwa Allah menciptakan segala sesuatu secara teratur dan tertata rapih. Dan apa yang teratur itu baik. Kita bisa membacanya di dalam kisah penciptaan (Kej. 1), betapa semesta diciptakan dengan sangat teratur dan setiap kali pula Sang Pencipta itu berkata bahwa yang diciptakan-Nya itu baik. Saya sungguh kuatir bahwa seruan “Luar biasa!” merupakan sebuah kegegabahan iman yang menolak apa yang biasa (ordinary) dan yang kita jalani sesehari (routine), yang justru menjadi tanda paling gamblang dari karya pemeliharaan Allah yang Mahasetia itu.

Bayangkan, suatu hari detak jantung Anda di luar kebiasaan. Itu disebut arrhythmia. Jantung yang sehat adalah jantung yang berdetak secara rutin dengan ritme yang konstan. Bayangkan jika lalulintas yang teratur dan sesehari menolong kita memprediksi berapa waktu yang kita butuhkan untuk sampai ke tempat kerja, kini tiba-tiba tak teratur, di luar kebiasaan. Kacaulah ritme hidup kita. Bayangkan, betapa tak amannya sebuah bank dijaga oleh seorang satpam yang tiba-tiba mengadopsi filosofi “Luar biasa!” lantas memaknainya dengan pola kerja yang tidak rutin, di luar Standard Operating Procedure—kadang masuk, kadang bolos.

Menolak Rutinisme dan Aktivisme
Yang kita tolak bukanlah rutinitas sebagai refleksi dari keteraturan yang dikelola oleh Allah yang Mahasetia. Yang kita tolak adalah rutinisme, yaitu sebuah cara pandang atas kehidupan yang memahaminya bagaikan sebuah mesin. Tanpa jiwa, tanpa ruh. Semua berjalan tanpa keterlibatan kehendak dan kesadaran kita, si pelaku kehidupan. Aktivitas manusiawi sebagai cara memaknai kehidupan yang merespon tata hidup yang Allah rancang itu kini sekadar menjadi aktivisme; bagai roda pemutar mesin kehidupan manusia. Manusia menjalani rutinitasnya demi menjalaninya begitu saja. Manusia melakukan aktivitasnya tanpa refleksi apa pun. Rutinisme dan aktivisme lantas mengingkari nasihat Paulus, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kol. 3:17).

Allah sesungguhnya menyediakan jalan keluar dari jebakan rutinisme dan aktivisme, yaitu melalui momen Sabat, yang mendesak manusia sebagai homo faber (manusia yang bekerja) untuk menghargai identitasnya yang lain, yaitu sebagai homo sapiens (manusia yang berpikir atau berkebijaksanaan). Momen mengeja kembali makna hidup itu merupakan jeda sesaat, istirahat sejenak, untuk menatap ke belakang, merenunginya, memaknainya secara baru, untuk kemudian bekerja seperti biasa, dengan kegembiraan yang baru. Di atas semuanya, seluruh proses Sabat ini memberi undangan juga bagi manusia untuk tidak saja menjadi homo sapiens, namun juga homo religiosus (manusia yang beragama dan berelasi dengan Allah).

Maka, hidup yang biasa dan teratur itu senantiasa menggairahkan, sebab di setiap titik hidup, apa yang tampak biasa itu dialami bersama dengan Allah yang luar biasa. Allahlah yang luar biasa, bukan manusia. Bahkan, spiritualitas Kristen mengajarkan bahwa Allah yang luar biasa itu memasuki kehidupan yang manusia yang biasa, “menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7).

Jadi, jika ada orang bertanya kepada Anda, “Apa kabar?” tak usahlah, berlebihan menjawab, “Luar biasa!” Cukuplah menjawab, “Seperti biasa: Baik!” Jangan lebay (lebay=berlebihan, red.)! Hidup itu baik dan indah, sebab teratur, rutin dan berjalan sebagaimana seharusnya. Hidup itu baik dan indah, sebab Sumber segala kebaikan dan keindahan itu—yaitu Allah yang luar-biasa—berkenan merawat kehidupan kita dan mendampingi kita melangkah di dalam rute hidup, agar hidup tak membosankan dan dapat kita tanggung.

_______
*Ditulis oleh Joas Adiprasetya, Pendeta GKI Pondok Indah Jakarta dan Ketua STT Jakarta
**Diterbitkan dalam majalah Dia edisi I tahun 2013

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *