Ivan Oktafianto:
Membangun Keluarga yang Memberkati Bangsa

Peristiwa reformasi yang terjadi di negeri ini pada tahun 1998 membangkitkan harapan rakyat Indonesia. Kekuasaan orde baru akhirnya tumbang di tangan rakyat, dimana mahasiswa menjadi garda terdepan, turun ke jalan dalam aksi demonstrasi melengserkan penguasa saat itu. Hal ini menjadi momen berakhirnya rezim pemerintahan yang berkuasa lebih dari tiga dasawarsa. Harapan baru untuk kehidupan bangsa yang lebih baik ditumpukan kepada generasi intelektual ini.

Dua puluh tahun setelah peristiwa bersejarah itu, anak muda yang dahulu berjuang dengan idealisme tinggi kini telah duduk di posisi-posisi strategis bangsa ini. Namun sayang, sebagian mereka seperti sudah tidak kuasa mempertahankan idealisme dan semangat awalnya, bahkan ada yang menjadi tontonan masyarakat karena diberitakan terlibat kasus korupsi. Timbul pertanyaan, kalau generasi muda sudah tidak bisa diharapkan, padahal generasi yang lebih tua sudah digantikan, lantas siapa yang bisa diharapkan untuk membawa perubahan bagi bangsa ini?

 

Panggilan Allah bagi keluarga

Pertanyaan yang mengemuka di atas tidak bisa hanya dijawab oleh generasi atau individu generasi yang bersangkutan, namun juga oleh pihak-pihak yang terkait dengan mereka. Dari sekian banyak pihak, keluarga adalah pihak yang seharusnya paling bertanggungjawab. Komunitas ini menjadi dasar pembentukan iman dan karakter mereka. Bahkan, kalau kita melihat catatan sejarah, Tuhan memanggil manusia untuk membawa perubahan bagi tempat di mana ia tinggal, juga melalui sebuah keluarga.

Adam ketika dipanggil untuk memenuhi dan menjadi berkat bagi bumi, harus dikerjakannya bersama istrinya (Kej. 1:28). Lalu setelah peristiwa kejatuhan, kondisi manusia semakin bobrok sehingga Tuhan memusnahkan semuanya kecuali Nuh dan keluarganya. Maka selanjutnya, tugas keluarga Adam dikerjakan oleh keluarga Nuh (Kej. 9:1-2). Namun dalam perkembangannya, kemerosotan umat manusia juga terjadi di zaman ini. Puncaknya adalah peristiwa menara Babel, sehingga Tuhan menyerakkan mereka ke seluruh penjuru bumi (Kej. 11:1-8).

Dari keluarga Nuh, kemudian Tuhan memanggil Abraham untuk menjadi berkat bagi orang-orang yang terserak itu. Dari keluarga ini akan lahir keluarga Israel yang diutus sebagai sebuah bangsa untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain. Dari garis keturunan Abraham, Ishak dan Israel, lahir pula Kristus. Melalui Dia, panggilan Abraham ini sampai kepada kita dan keluarga, yang sudah diperhitungkan sebagai keturunannya (Gal. 3:14, 29).

 

Harapan Keluarga bagi bangsa

Menjadi keluarga yang memberkati bangsa bukanlah sesuatu yang terjadi dalam sekejap mata. Dibutuhkan usaha untuk membangunnya. Pertama, keluarga harus berikrar dan komitmen untuk senantiasa bertaut kepada Tuhan, yang dipimpin oleh kepala keluarga. Kalimat yang diucapkan Yosua dalam kitab Yosua 24:15 bisa menjadi contoh:

“Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

Yang kedua, firman Tuhan harus ditanamkan kepada anak dengan tidak bosan-bosannya karena ini akan memudahkan anak untuk mengerti apa yang diajarkan orang tua (Ul. 11:18-20). Orang tua yang taat kepada perintah dalam Firman Tuhan lah yang akan mengerjakannya supaya menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Dengan demikian, anak-anak akan memiliki fondasi yang kuat yang akan memampukannya untuk berdiri sebagai bangunan Allah yang kokoh. Mereka menampakkan nilai-nilai keimanannya dan menunjukkan hidup rohani dalam sikap dan perilakunya.

Yang ketiga, jadikan keluarga sebagai tempat pertama pendidikan iman dan karakter. Orang tua mempunyai tugas yang sama dengan para nabi dan imam yaitu menyampaikan dan meneruskan berita tentang karya keselamatan Allah kepada anak-anak. Allah menetapkan orang tua sebagai alat yang penting untuk menyalurkan pengetahuan tentang siapa Allah dan bagaimana Allah menyelamatkan umat-Nya. Lingkungan rumah merupakan tempat atau kelas pertama bagi seorang anak untuk belajar tentang sesama, bangsa dan dunia. Oleh karena itu suasana di rumah atau dalam keluarga haruslah diciptakan suasana yang kondusif, nyaman bagi segenap anggota yang ada di dalamnya.

Ketiga hal di atas adalah sesuatu yang mendasar bagi keluarga Kristen. Selanjutnya dapat ditambahkan tentang wawasan kebangsaan, keterampilan dan kebutuhan yang lain sesuai porsi dan sesuai kebenaran Firman Tuhan. Dengan demikian, keluarga Kristen akan menghasilkan generasi penerus yang memiliki iman kepada Allah dan mampu bertanggung jawab dalam setiap aspek kehidupannya, termasuk membawa perubahan bagi bangsa ini. Segala kemuliaan bagi Tuhan.

Leave a Reply